JARI : Menimbang Etika Kant di Serambi Masjid Agung Palembang
Serambi Masjid Agung Palembang, selepas Isya’. Suara adzan masih terasa getarnya di udara lembab Sungai Musi. Dua akademisi duduk di kursi kayu, ditemani segelas kopi hangat.
Indra Darmawan: (menghela napas, menyesap kopi) “Assalamu’alaikum, Uda. Maaf mengganggu waktu istirahatnya setelah Isya’. Tapi saya benar-benar ingin mendiskusikan sesuatu yang mengganggu pikiran saya sejak membaca ulang Kritik Akal Murni.”
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, mengangguk) “Wa’alaikumsalam, Dinda. Tidak mengganggu sama sekali. Justru ini waktu terbaik untuk berpikir jernih. Silakan, apa yang mengganggu pikiran Dinda?”
Indra Darmawan: “Kant mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengetahui das Ding an sich ‘benda pada dirinya sendiri’. Yang kita ketahui hanyalah phenomena, realitas sebagaimana muncul kepada kesadaran kita melalui kategori ruang, waktu, dan kausalitas. Tapi saya terus bertanya: apakah Allah sebagai Realitas Tertinggi juga termasuk dalam ‘noumena’ yang tidak terjangkau itu? Apakah Kant, dengan pisau analisisnya, secara tidak sadar sedang ‘mengurung’ Tuhan di balik tembok agnostisisme?”
Ade Indra Chaniago: (menaruh gelas kopi, menatap serius) “Pertanyaan yang sangat tajam, Dinda. Inilah tepatnya titik tabrakan antara kapal filsafat Kant dan bahtera tasawuf Islam. Saya ingat betul bagaimana Syekh Abdul Somad Al-Palimbani ulama besar kita dari abad ke-18, sezaman dengan Kant sendiri mengajarkan dalam kitabnya Siyarus Salikin bahwa hati yang safi (jernih) bisa ‘menyaksikan’ Allah dengan musyahadah, bukan sekadar dengan akal.”
Indra Darmawan: “Tapi Kant akan berkata: ‘Akal manusia punya batas. Kita tidak punya intuisi intelektual.’ Ini warisan dari David Hume yang membangunkannya dari ‘tidur dogmatisnya’ bahwa sebab-akibat pun tidak mutlak, hanya kebiasaan.”
Ade Indra Chaniago: (tertawa kecil) “Kant benar tentang satu hal: akal memang punya batas. Tapi di situlah letak kekeliruan mendasarnya. Kant seperti orang yang masuk ke dalam rumah, lalu menyimpulkan bahwa rumah itu hanya sebatas ruang tamu karena dia tidak mau membuka pintu ruang-ruang yang lain. Dia tidak mau mengakui adanya dzauq (rasa), kasyf (tersingkapnya tabir), dan musyahadah (penyaksian langsung) yang menjadi ranah para sufi.”
Indra Darmawan: “Tapi mari kita bicara tentang etikanya. Kant mengajukan imperatif kategoris ‘bertindaklah sedemikian rupa sehingga maksim kehendakmu dapat menjadi hukum universal.’ Tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri, apapun konsekuensinya. Ini mirip dengan ajaran agama, bukan? Aturan moral yang absolut.”
Ade Indra Chaniago: (mengangguk pelan) “Sekilas mirip. Bahkan Syekh Muhammad Samad—guru dari Syekh Abdul Somad dalam Kifayat al-Muhtaj juga mengajarkan bahwa syariat itu pasti dan universal. Tapi perbedaannya fundamental, Adinda.”
Indra Darmawan: “Bedanya di mana?”
Ade Indra Chaniago: “Kant berangkat dari akal. Manusia otonom memberi hukum pada dirinya sendiri. Hukum itu tidak berasal dari Tuhan, kata Kant. Nah, dalam Islam, akhlak bukan semata-mata ‘kewajiban rasional’. Ia adalah takhalluq bi akhlaqillah berakhlak dengan akhlak Allah. Landasannya bukan ‘hukum universal’ yang kita ciptakan sendiri, melainkan fitrah yang Allah tanamkan, lalu disempurnakan dengan teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Indra Darmawan: (mencatat di buku kecilnya) “Ini menarik. Jadi Kant memutus hubungan antara moral dan Tuhan? Tapi dia tetap bicara tentang ‘posulat praktis’ bahwa Tuhan itu perlu ada untuk menjamin kebahagiaan sepadan dengan kebajikan.”
Ade Indra Chaniago: “Itulah kelemahan Kant, menurut saya. Tuhan bagi Kant hanya ‘posulat’ sebuah kebutuhan logis untuk membuat sistem moralnya tidak runtuh. Bukan Tuhan yang disembah, bukan Al-Haqq yang dicintai. Saya ingat Syekh Abdul Somad Al-Palimbani dalam An-Nashihah ad-Diniyyah mengajarkan bahwa ibadah seorang sufi bukan karena takut neraka atau ingin surga apalagi hanya karena ‘kewajiban rasional’ tapi karena mahabbah, cinta kepada Allah. Kant tidak mengenal cinta dalam etikanya. Yang ada hanya ‘rasa hormat terhadap hukum’ (Achtung fürs Gesetz).”
Indra Darmawan: “Kant mendefinisikan Pencerahan sebagai ‘Sapere aude!’ ‘Berani berpikir sendiri!’ Keluar dari ketidakdewasaan yang kita sebabkan sendiri. Ini sangat membebaskan. Tapi juga berbahaya, karena bisa mengarah pada anarki.”
Ade Indra Chaniago: “Kant memang cerdas membatasi: gunakan akal secara publik, tapi patuhi aturan secara privat. Tapi pertanyaan saya: ‘Berani berpikir sendiri sampai batas mana?’ Kalau akal sudah sampai pada ‘noumena’, dia berhenti. Kant tidak berani melangkah lebih jauh. Berbeda dengan Al-Ghazali yang oleh sebagian sarjana Barat disebut ‘Kant-nya dunia Islam’.”
Indra Darmawan: “Al-Ghazali? Mirip dengan Kant?”
Ade Indra Chaniago: “Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali juga mengkritik para filsuf yang mengklaim bisa mengetahui segala sesuatu dengan akal murni mirip dengan kritik Kant terhadap metafisika dogmatis. Tapi Al-Ghazali tidak berhenti di situ. Setelah akal sampai pada batasnya, dia menempuh jalan suluk (perjalanan spiritual) sampai mencapai ma’rifat. Pencerahan akal ala Kant adalah pencerahan parsial. Pencerahan sejati, menurut Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam Ad-Durrun Nafis, adalah al-‘ilmu al-hudhuri pengetahuan hadir, pengetahuan langsung yang disaksikan hati, bukan sekadar direkonstruksi akal.”
Indra Darmawan: (dengan nada hati-hati) “Saya harus jujur, Uda. Ada sisi gelap Kant yang mulai banyak dibicarakan. Dia menulis tentang hierarki ras dengan orang kulit putih Eropa di puncak. Dia juga mengatakan perempuan secara alami berada di bawah laki-laki. Bagaimana ini sejalan dengan ‘hukum universal’ yang dia gagaskan sendiri?”
Ade Indra Chaniago: (menghela napas panjang) “Ini ironi besar, Dinda. Filsuf yang mengajarkan martabat manusia dan otonomi, ternyata di masa mudanya menulis hal-hal seperti itu. Memang di akhir hayatnya, dalam Menuju Perdamaian Abadi, dia mengutuk kolonialisme dan perbudakan. Tapi catatan rasis dan seksisnya tetap menjadi noda.”
Indra Darmawan: “Apakah ada koreksi dari perspektif Islam tentang ini?”
Ade Indra Chaniago: “Tentu. Syekh Abdul Somad Al-Palimbani yang hidup di masa yang sama dengan Kant, bahkan mungkin wafat hanya berselang satu tahun (1804 vs 1805) mengajarkan bahwa takwa adalah satu-satunya ukuran kemuliaan. ‘Inna akramakum ‘indallahi atqakum’ ‘Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.’ Bukan ras, bukan jenis kelamin. Kant muda lupa bahwa prinsip universalnya seharusnya menghalangi dia dari menulis hierarki rasial seperti itu.”
Indra Darmawan: (mengangguk-angguk) “Jadi dia gagal menerapkan imperatif kategorisnya sendiri?”
Ade Indra Chaniago: “Persis. Sebuah kemunafikan filosofis yang disayangkan. Tapi kita tidak boleh membuang seluruh pemikirannya karena itu. Kita ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Itulah al-akhdu bi al-shawabi wa tarku al-khatha’i, sebagaimana diajarkan para ulama kita.”
Indra Darmawan: “Satu lagi, Uda. Tentang estetika. Kant bilang keindahan ada di mata yang memandang subjektif, tapi universal. Seni tidak harus indah. Ini sangat modern.”
Ade Indra Chaniago: (tersenyum lebar) “Para sufi sudah bicara tentang keindahan jauh sebelum Kant lahir, Indra. Jalaluddin Rumi yang wafat 500 tahun sebelum Kant berkata: ‘Al-jamalu yuridu an yara nafsahu’ ‘Keindahan ingin melihat dirinya sendiri.’ Tapi bagi sufi, keindahan bukan sekadar penilaian selera. Keindahan adalah tajalli manifestasi Nama-nama Allah yang Maha Indah (Al-Jamil).”
Indra Darmawan: “Jadi tidak hanya subjektif?”
Ade Indra Chaniago: “Keindahan yang sejati adalah subjektif-objektif sekaligus. Subjektif, karena hati yang melihatnya. Objektif, karena yang dimanifestasikan adalah Realitas Ilahi. Bahkan Syekh Muhammad Samad dalam Al-Urwah al-Wutsqa menyebut bahwa membaca Al-Quran dengan tajwid dan tadabbur adalah bentuk ‘menyaksikan’ keindahan Ilahi di tengah realitas dunia. Ini berbeda dengan Kant yang mengatakan keindahan tidak punya tujuan (Zweckmäßigkeit ohne Zweck). Bagi sufi, segala keindahan mengarah pada Satu Tujuan: Allah.”
Indra Darmawan: (menutup buku catatannya) “Jadi kesimpulannya, Uda? Apa tempat Kant di mata kita, anak-anak Palembang yang hidup di antara sungai Musi dan siaran televisi global?”
Ade Indra Chaniago: “Immanuel Kant adalah pemikir besar. Dia mengajarkan kita untuk tidak malas berpikir, untuk memeriksa batas kemampuan akal kita. Itu penting. Tapi dia juga mengajarkan kesombongan akal bahwa akal adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran. Di situlah kita, sebagai Muslim yang mewarisi khazanah Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Syekh Abdul Somad Al-Palimbani, dan Syekh Muhammad Samad, bisa melengkapinya.”
Indra Darmawan: “Melengkapi, bukan menolak?”
Ade Indra Chaniago: “Betul. Kita tidak perlu jadi ‘Kantian’ atau ‘anti-Kantian’. Kita bisa jadi penerus yang mengambil pisau analisis Kant untuk membedah fenomenal, lalu menyerahkan urusan noumenal kepada dzauq dan kasyf. Kant membuka pintu. Para sufi yang membawa kita masuk ke dalam ruangan. Wallahu a’lam.”
(Mereka berdua terdiam, menikmati hembusan angin malam dari Sungai Musi. Lampu-lampu Masjid Agung mulai menyala, memancarkan cahaya kekuningan di pelataran basah bekas hujan petang.)
Selasa, 31 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan