JARI : “Jika Tuhan Ada, Kita Harus Menghapus-Nya?”
Indra Darmawan: Uda, tahu tentang Mikhail Bakunin?, pemikir anarkis Rusia itu. Ada satu bagian menarik di mana Bakunin secara frontal menyerang idealisme dan konsep Tuhan. Dia bilang, “Jika Tuhan ada, kita harus menghapuskannya.” Menurut saya, ini bukan sekadar kritik politik, tapi ini adalah ontologi perlawanan total terhadap otoritas. Sebagai akademisi, saya tertarik dengan strukturnya. Tapi sebagai orang yang juga bergaul dengan nilai-nilai keagamaan, saya agak gelisah. Bagaimana menurut Uda sebagai muslim dan juga pengamat sosial?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis, menggeser gelas teh) Adinda, saya juga membaca artikel itu. Bakunin itu memang menarik. Dia seperti anak kecil yang marah karena melihat ayahnya tidak sempurna. Dia membangun seluruh sistem pemikirannya dari luka sejarah: dia melihat bahwa negara, gereja, dan kapitalisme menggunakan “Tuhan” sebagai tameng untuk membenarkan penindasan. Saya setuju dengan diagnosisnya tentang penyakit sosial, tetapi obat yang dia tawarkan yaitu ateisme dan anarkisme itu justru bunuh diri peradaban.
Indra Darmawan: Tapi Uda, bukankah Bakunin punya argumen yang kuat tentang materialisme? Dia mengatakan bahwa para idealis selalu memulai dari “atas” (Tuhan, Ide) lalu jatuh ke “bawah” (materi). Sementara dia memulai dari bawah: dari materi yang bergerak, dari kebutuhan biologis manusia, lalu naik ke akal budi dan revolusi. Dalam ilmu sosial, kita memang diajarkan bahwa infrastruktur ekonomi menentukan suprastruktur budaya dan agama. Ini kan sejalan dengan semangat sains modern?
Ade Indra Chaniago: (menghela napas) Di sinilah letak kesalahan epistemologis Bakunin yang paling mendasar. Dia, seperti Marx, terjebak dalam dikotomi buatan antara materi dan roh. Dia menganggap materi itu “aktif” dan roh itu “pasif” atau bahkan “fiktif”. Dalam Islam, apalagi dalam tradisi Tasawuf yang saya pelajari dari guru-guru di Palembang dan Minangkabau, tidak ada dikotomi seperti itu. Allah menciptakan alam semesta bukan sebagai “lumpur mati” yang kemudian diberi nyawa, tetapi dengan Kalimat “Kun” (Jadilah). Materi itu ayatullah, tanda-tanda Tuhan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “La tahqiru lil ma’ruf min al-‘amal” jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, termasuk merawat alam.
Bakunin membayangkan Tuhan sebagai “Penguasa” yang otoriter, karena dia hanya mengenal gambaran Tuhan dalam Kekristenan Eropa abad 19 yang hierarkis. Dia tidak pernah menyentuh konsep Tauhid yang hakiki: bahwa Tuhan dalam Islam itu Al-Khaliq (Pencipta) yang justru membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia. Bukankah inti dakwah Nabi Muhammad SAW adalah “U’bidu rabbakum alladzi khalaqakum” (Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu)? Itu justru pembebasan dari hirarki sosial Quraisy.
Indra Darmawan: Tapi Uda, soal kebebasan. Bakunin sangat lantang bahwa kebebasan itu bersifat naluriah dan spontan. Dia takut negara atau struktur apapun akan membelenggu. Bukankah dalam Islam ada konsep syariat yang seringkali dianggap membatasi kebebasan? Di sinilah letak konflik antara materialisme anarkis dan agama yang terstruktur.
Ade Indra Chaniago: (mengambil buku kecil dari saku dalam jaketnya) Ini adalah kesalahpahaman klasik. Bakunin mendefinisikan kebebasan hanya sebagai negasi dari kekuasaan. Sementara dalam Islam, kebebasan adalah kapasitas untuk mewujudkan potensi kemanusiaan tertinggi di hadapan Allah. Mari kita lihat Nabi Muhammad SAW. Apakah beliau seorang anarkis? Tidak. Beliau membangun negara di Madinah. Apakah beliau seorang tiran? Tidak. Beliau justru membatasi kekuasaannya sendiri.
Ada satu hadits yang sangat menggambarkan hal ini: “Sayyidul qaumi khadimuhum” (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Ini membalik logika kekuasaan. Bakunin membayangkan Tuhan sebagai tiran, lalu ia ingin membunuh Tuhan agar manusia bebas. Dalam Tasawuf, terutama ajaran Ibn Arabi dan para sufi Nusantara seperti Syekh Abdus Samad Palembang, Tuhan itu al-Wadud (Maha Cinta). Kebebasan sejati bukan bebas dari Tuhan, tapi bebas untuk mencintai Tuhan.
Indra Darmawan: Tapi Uda, Bakunin punya argumen historis yang menurut saya sulit dibantah. Dia bilang bahwa keyakinan kepada Tuhan itu lahir dari kondisi sosial yang tertekan: kemiskinan, kebodohan, dan keputusasaan. Dia menyebut gereja dan pub sebagai dua jalan fantasi, sementara revolusi sosial adalah jalan nyata. Bukankah dalam sejarah Islam, ada juga fenomena di mana agama digunakan sebagai candu? Bahkan, dalam teks artikel itu, Bakunin mengkritik para pendeta, politisi, dan ekonom liberal yang semuanya butuh Tuhan untuk menjaga status quo.
Ade Indra Chaniago: (menegakkan badan) Dinda, kamu paham ilmu politik, pasti tahu bahwa fungsi ideologi itu ambigu. Bakunin benar bahwa agama bisa menjadi legitimasi kekuasaan. Tapi dia lupa membaca sejarah lain: bahwa agama juga menjadi sumber perlawanan paling radikal. Lihat Imam Husain di Karbala. Apakah beliau membela status quo? Tidak. Beliau bangkit melawan tirani Yazid dengan berpegang pada tauhid. Itu adalah bentuk “revolusi spiritual” yang tidak dikenal dalam kategori Bakunin.
Kesalahan Bakunin adalah menyamaratakan semua bentuk agama dan semua bentuk Tuhan. Dia melihat para pendeta yang kaya dan raja yang absolut, lalu menyimpulkan bahwa “Tuhan” adalah proyeksi kekuasaan. Dalam Islam, terutama dalam tradisi Syiah dan Tasawuf, justru ada kritik tajam terhadap “ulama penguasa”. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Inna akhwafa ma akhafu ‘ala ummati al-imam al-ja’ir” (Yang paling aku takutkan pada umatku adalah pemimpin yang zalim).
Indra Darmawan: Lalu bagaimana dengan konsep “dosa asal” yang dibahas Bakunin? Dia mengutip Alkitab, tapi dengan interpretasi yang unik. Bakunin bilang bahwa “dosa asal” adalah tindakan pembangkangan Adam yang justru merupakan awal kebebasan manusia. Adam memilih untuk tidak taat, untuk berpikir, dan itulah yang menjadikan manusia sebagai manusia. Bakunin menganggap itu sebagai “pemberontakan” yang positif. Ini sangat bertentangan dengan teologi klasik.
Ade Indra Chaniago: (tertawa kecil) Ini cerdik, tapi juga menyesatkan. Bakunin membaca mitos Adam dengan kacamata revolusionernya. Dalam Islam, kisah Adam tidak dikenal sebagai “dosa asal” yang menurun. Adam dan Hawa sama-sama lupa (al-nisyan), lalu mereka bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Tapi ada poin penting yang diabaikan Bakunin: ketidaktaatan Adam bukanlah pemberontakan terhadap Tuhan yang menindas, melainkan godaan dari nafsu dan iblis. Kebebasan yang dimaksud Bakunin adalah kebebasan tanpa batas, yang justru mengarah pada penghancuran diri.
Para sufi, seperti Jalaluddin Rumi, mengajarkan bahwa kisah Adam adalah kisah kerinduan. Adam diusir dari surga karena ia merindukan Tuhan dengan cara yang salah, tapi justru dalam pengasingan itulah ia belajar mencintai dengan lebih dalam. Bakunin hanya melihat “pengusiran” sebagai tindakan represif, tanpa melihat “pengembalian” sebagai rahmat.
Indra Darmawan: Tapi Uda, Bakunin membawa argumen yang sangat rasionalis. Dia bilang bahwa semua ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa manusia adalah produk dari evolusi materi. Kita bukan makhluk yang “jatuh” dari surga, tapi makhluk yang “naik” dari kera. Bukankah ini yang diajarkan sains? Lalu, bukankah teologi seringkali mencoba melawan sains, seperti dalam kasus Galileo yang dia sebutkan?
Ade Indra Chaniago: Dinda, kamu tahu bahwa saya belajar ilmu sosial juga. Saya tidak anti-sains. Tapi Bakunin melakukan kesalahan fatal: dia mengubah sains menjadi ideologi. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa materi itu kompleks, bergerak, dan memiliki keteraturan. Tapi ilmu pengetahuan tidak pernah membuktikan bahwa tidak ada Pencipta. Itu di luar domain sains. Bakunin, seperti Auguste Comte, jatuh ke dalam “agama sains” yang baru.
Sains dan Islam, dalam pemikiran ulama kontemporer seperti Al-Attas, memiliki hubungan yang berbeda. Al-Qur’an justru mendorong kita membaca alam (kawn) sebagai tanda-tanda. Ketika Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tafakkaru fi khalqillah” (Berpikirlah tentang ciptaan Allah), itu adalah dorongan untuk mengembangkan ilmu. Masalahnya adalah ketika sains digunakan untuk menyangkal metafisika, di situlah sains melampaui batasnya.
Indra Darmawan: (mencatat di buku) Baik, Uda. Tapi satu pertanyaan terakhir yang mengganggu saya. Bakunin mengakhiri argumennya dengan kalimat: “Jika Tuhan ada, kita harus menghapuskannya.” Itu adalah logika politik yang ekstrem. Bagaimana dalam Islam kita menjawab tantangan seperti ini, di mana banyak anak muda saat ini yang frustrasi dengan agama dan negara, lalu melirik pemikiran seperti anarkisme atau bahkan nihilisme?
Ade Indra Chaniago: (diam sejenak, suaranya menurun) Jawabannya, Dinda, ada pada contoh hidup Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak pernah berkata: “Jika Tuhan ada, kita harus menghapus-Nya.” Justru sebaliknya, ketika Nabi berada di puncak kekuasaan di Mekkah setelah Fathu Makkah, bagaimana beliau bertindak? Beliau tidak membangun istana, tidak menjadi tiran, tetapi masuk ke Masjidil Haram, menghancurkan berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah, dan bersujud kepada Allah sambil berkata: “Al-haqq jaa’a wa zahqa al-bathil” (Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap).
Bakunin menghancurkan “berhala Tuhan” yang ia ciptakan sendiri, tapi ia tidak menggantikannya dengan apa pun selain kekosongan dan perang terus-menerus. Dalam Tasawuf, ada konsep fana’ dan baqa’: kita “menghapus” ego dan konsepsi palsu tentang Tuhan, agar Tuhan yang sejati hadir. Kita tidak menghapus Tuhan, tapi menghapus berhala-berhala yang menghalangi kita dari Tuhan.
Saya ingin mengutip sufi besar, Syekh Ahmad al-Mursi, yang sangat dikenal di Palembang: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya). Bakunin hanya mengenal kemarahan dirinya, karena ia melihat dunia dikuasai oleh tiran. Ia tidak sempat, atau mungkin tidak diberi kesempatan, untuk mengenal dirinya yang paling dalam, yaitu fitrah yang merindukan keadilan dan cinta yang melampaui politik.
Indra Darmawan: Jadi menurut Uda, perdebatan antara idealisme dan materialisme yang dimunculkan Bakunin itu sebenarnya false dichotomy?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali. Dalam perspektif Islam, terutama yang saya pelajari dari para ulama Minangkabau dan Palembang, kita tidak perlu memilih antara idealisme Plato atau materialisme Marx. Kita memiliki konsep wasathiyah (jalan tengah). Dunia ini tidak hanya materi yang bergerak buta, juga tidak hanya ide yang melayang-layang. Dunia ini adalah tajalli (manifestasi) dari Asmaul Husna. Setiap partikel materi, sebagaimana diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dan Ibn Arabi, adalah ayat yang sedang bertasbih.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk “kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf, fa khalaqtu al-khalq” (Aku adalah harta tersembunyi yang ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk). Artinya, penciptaan itu sendiri adalah tindakan cinta, bukan kekuasaan. Bakunin tidak pernah mengenal Tuhan yang mencintai, karena ia sibuk melawan tiran-tiran di bumi. Tugas kita, sebagai manusia yang beriman, adalah membuktikan bahwa kehadiran Tuhan di tengah masyarakat justru menghapus tiran, bukan menciptakannya.
Indra Darmawan: (menutup buku catatan) Terima kasih banyak, Uda. Diskusi ini membuka mata saya. Saya jadi ingat bahwa Bakunin menulis di abad ke-19, saat Eropa dilanda revolusi industri dan gereja sangat konservatif. Mungkin kritiknya kontekstual. Tapi kita di Palembang, di abad ke-21, punya tantangan berbeda. Kita perlu merumuskan ulang bagaimana agama bisa menjadi kekuatan pembebasan, bukan penindasan.
Ade Indra Chaniago: Betul, Adindaku. Dan ingatlah, pembebasan sejati dalam Islam bukanlah membebaskan diri dari Tuhan, melainkan membebaskan diri dari segala bentuk perbudakan kepada selain Tuhan. Itulah makna La ilaha illallah. Tidak ada tuhan selain Allah. Itu adalah deklarasi anarkisme spiritual yang lebih radikal dari Bakunin, karena tidak hanya menolak tiran di bumi, tapi juga menolak tiran dalam hati.
Indra Darmawan: (tersenyum) Kalimat La ilaha illallah sebagai deklarasi anarkisme? Itu perspektif yang sangat menarik untuk saya tulis di jurnal nanti.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum balik) Tulis saja, Dinda. Tapi jangan lupa kutip hadits: “Afdlalu al-dzikri la ilaha illallah” (Sebaik-baik zikir adalah la ilaha illallah). Itu adalah bentuk perlawanan paling halus dan paling kuat sekaligus.
Matahari mulai condong di ufuk barat Palembang. Percakapan berlanjut ke ranah yang lebih ringan, tetapi jejak diskusi tentang Tuhan, materi, dan kebebasan tetap membekas di antara dua gelas yang mulai kosong itu.
Jumat, 27 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan