JARI : Duka dan Apresiasi untuk Jurgen Habermas Sang Pewaris Pencerahan
Indra Darmawan: (Menatap layar handphone, menghela napas panjang) “Uda, sudah baca kabar ini? Dari Jerman… Profesor Jurgen Habermas berpulang, 14 Maret kemarin. Innalillahi… dunia kehilangan salah satu pemikir terbesarnya.”
Ade Indra Chaniago: (Mengangguk pelan, melepas kacamata) “Sudah, Bro. Dari tadi malam aku membaca lagi beberapa tulisannya, seolah ingin mengucapkan selamat jalan. Rasanya seperti kehilangan seorang guru yang bahkan tak pernah kita temui secara langsung, tapi pemikirannya setiap hari kita diskusikan di kelas.”
Indra Darmawan: “Benar sekali Uda. Aku masih ingat pertama kali membaca Transformasi Struktural Ruang Publik waktu S2 dulu. Habermas dengan jernih menjelaskan bagaimana ruang publik seharusnya menjadi tempat diskusi yang setara, bebas dari tekanan. Di sini, di Indonesia, konsep itu begitu hidup terutama di era reformasi. Kita lihat bagaimana ruang publik kita, meskipun sekarang sering ricuh oleh hoaks, sebenarnya adalah anak kandung dari gagasan-gagasan Habermas.”
Ade Indra Chaniago: “Tapi menariknya, Bro, Habermas juga yang mengingatkan bahwa ruang publik bisa mati. Dijajah oleh kepentingan pasar dan kekuasaan. Lihat saja media sosial kita sekarang. Yang kuat bukan argumen, tapi yang keras suara atau yang paling viral. Itu yang dulu ia khawatirkan tentang ‘mediakrasi’. Ia melihat bagaimana gambar dan retorika menggantikan diskusi rasional.”
Indra Darmawan: “Nah, itu poin penting. Bagiku, warisan terbesar Habermas adalah konsep ‘rasionalitas komunikatif’. Bahwa kita baru bisa disebut manusia rasional kalau kita mau berdialog, mendengarkan yang lain, dan terbuka pada kritik. Dalam konteks politik Indonesia yang penuh dengan politik identitas dan post-truth, ajarannya seperti oase. Ia mengingatkan bahwa legitimasi demokrasi tidak hanya dari pemilu, tapi dari proses deliberasi yang sehat.”
Ade Indra Chaniago: “Ya, demokrasi deliberatif. Itu yang sering kita rindukan. Di kelas-kelas kita, kita selalu ajarkan bahwa keputusan politik itu sah bukan hanya karena prosedur, tapi karena ada ruang bagi semua pihak untuk berbicara dan diperlakukan adil. Di parlemen, di pemerintahan daerah, bahkan di rapat-rapat kampus. Sayangnya, kadang kita masih terjebak pada logika instrumental: mengejar target, proyek, atau kekuasaan, lupa pada dunia kehidupan (lifeworld) yang butuh dialog.”
Indra Darmawan: “Dan Habermas memperingatkan bahaya ‘kolonisasi dunia kehidupan oleh sistem’. Contoh kecilnya di dunia pendidikan kita. Guru dan dosen sekarang dibebani dengan administrasi yang absurd, target akreditasi yang kaku, sehingga waktu untuk berdialog mendalam dengan mahasiswa atau sesama rekan jadi hilang. Efisiensi menjadi tuhan, sementara esensi pendidikan—untuk membentuk manusia kritis dan berakal tergerus.”
Ade Indra Chaniago: (Tersenyum getir) “Itu diagnosis yang tepat. Dan sekarang, dengan kepergiannya, kita seperti kehilangan kompas moral di tengah hiruk-pikuk populisme. Ingat kritiknya pada gerakan mahasiswa tahun 60-an? Ia menolak kekerasan sebagai alat, meskipun tujuannya baik. Ia percaya perubahan harus melalui argumen, bukan provokasi. Itu pelajaran berharga bagi aktivis kita di sini.”
Indra Darmawan: “Tapi aku juga selalu terkesan dengan optimisme Habermas. Di tengah murungnya para pendahulunya di Sekolah Frankfurt Adorno dan Horkheimer yang pesimis pada Pencerahan Habermas justru percaya pada potensi akal untuk membebaskan. Ia percaya pada proyek Eropa, pada solidaritas. Meskipun ia kritis, ia tidak sinis. Ia bilang, sinisme itu berbahaya karena merusak fondasi demokrasi dari dalam.”
Ade Indra Chaniago: “Nah, itu yang perlu kita contoh. Di Indonesia, kita sering jatuh pada sinisme: ‘ah, semua politikus korupsi’, ‘ah, demokrasi cuma fatamorgana’. Padahal, Habermas mengajarkan bahwa kita harus terus memperjuangkan ruang publik yang sehat. Jangan menyerah. Justru dengan kritik yang membangun, kita memperbaiki proses deliberasi.”
Indra Darmawan: “Uda, aku merasa berhutang budi padanya. Pemikirannya mewarnai cara kita melihat dinamika Pilkada, kebijakan publik, bahkan gerakan sosial di Palembang ini. Bagaimana forum-forum warga, diskusi di kedai kopi, itu semua adalah ruang publik yang harus kita rawat. Untuk itu, mari kita sampaikan terima kasih.”
Ade Indra Chaniago: “Setuju. Terima kasih, Profesor Habermas, atas Teori Tindakan Komunikatif-mu, atas kritikmu pada masyarakat yang instrumental, atas keyakinanmu pada kekuatan argumen. Semoga pemikiranmu terus hidup di ruang-ruang kelas, di ruang publik Indonesia, dan di hati kami yang percaya bahwa demokrasi hanya bisa bertahan jika kita mau mendengarkan dan berbicara dengan akal sehat.”
Indra Darmawan: “Selamat jalan, pewaris Pencerahan yang tak kenal lelah. Karyamu akan terus menjadi bahan bakar bagi kami untuk membela nalar di tengah deru populisme. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.”
(Keduanya terdiam sejenak, menghormati kepergian sang filsuf, sebelum kemudian layar laptop dimatikan dan percakapan berlanjut ke rencana kajian rutin minggu depan yang akan membahas “Relevansi Habermas di Indonesia Kontemporer”.)
Minggu, 15 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan