JARI : Dialog Tao dan Tasawuf “ Menyelami Samudera Makna “

 JARI : Dialog Tao dan Tasawuf “ Menyelami Samudera Makna “

 

“Sebuah kedai kopi sederhana di kawasan 19 Ilir, Palembang. Sore hari yang tenang, suara azan Maghrib baru saja usai. Indra Darmawan dan Ade Indra Chaniago duduk berhadapan, secangkir kopi dan segelas teh panas menemani perbincangan mereka.”

 

Indra Darmawan: (Sambil menyeruput kopi) Uda, dua hari ini saya sedang mendalami sebuah teks kuno dari Tiongkok, Dao De Jing. Ada satu hal yang membuat saya terus berpikir. Bait pertamanya berbunyi, “Jalan (Tao) yang dapat disebut sebagai Jalan, bukanlah Jalan yang kekal. Nama yang dapat disebut, bukanlah nama yang kekal.” Bagi saya yang terbiasa dengan kerangka berpikir ilmu sosial yang mengutamakan definisi operasional, ini sebuah paradoks yang memusingkan sekaligus memikat. Bagaimana mungkin sebuah “jalan” justru bukan “jalan” jika ia disebut?

Ade Indra Chaniago: (Tersenyum tipis, matanya menerawang), dalam dunia tasawuf, kami juga akrab dengan paradoks serupa. Ada ungkapan, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Namun, ketika seorang sufi mulai mengatakan, “Saya telah mengenal Tuhan,” di situlah batas pengetahuannya terbentur. Pengalaman spiritual, hakikat yang paling dalam, memang tidak bisa dibatasi oleh bahasa. Bahasa itu simbol, sementara realitas hakiki itu transenden. Lao Zi, seperti halnya para sufi, sepertinya sedang mengingatkan bahwa realitas tertinggi (Tao) melampaui segala sebutan dan konseptualisasi manusia.

Indra Darmawan: Menarik sekali, Uda. Jadi, ini bukan tentang ketidakmampuan mendefinisikan, tapi tentang keterbatasan bahasa itu sendiri? Saya baca dua terjemahan dan interpretasi modern tentang teks ini. Yang pertama, terjemahan De Meyer, menerjemahkan dua kata tentatif untuk Tao itu sebagai “tanpa nama” dan “bernama.” Sementara yang umum adalah “Ada” dan “Tiada.” Lalu ada Hovers yang mencoba membaca Lao Zi dengan kacamata fenomenologi Barat. Menurut Anda, pendekatan mana yang lebih tepat?

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Krisis Kebenaran di Era Pasca-Kebenaran

Ade Indra Chaniago: Masalah penerjemahan adalah masalah interpretasi yang sangat dalam. Saya lebih condong pada terjemahan filosofis yang menekankan pada “Ada” dan “Tiada.” Karena di sanalah letak inti metafisikanya. “Tiada” (Wu) dalam Taoisme bukan berarti nihil, melainkan potensi tak terbatas, sumber dari segala “Ada.” Ini mirip dengan konsep Ahadiyah dalam tasawuf, yaitu esensi Tuhan pada tingkat yang paling awal, di mana belum ada penamaan, belum ada sifat, belum ada perbedaan. Ia transenden, melampaui segala sesuatu. Kemudian, dari “Tiada” itu muncullah “Ada,” yaitu alam ciptaan yang imanen, yang bisa kita rasakan dan beri nama. Jadi, Tao itu, dalam perspektif saya, sekaligus transenden (sebagai “Tiada”) dan imanen (sebagai “Ada” yang bekerja di dalam ciptaan). Pandangan Hovers yang hanya melihat Tao sebagai imanen itu, maaf, agak dangkal. Ia kehilangan dimensi kedalaman yang justru menjadi inti mistisisme Lao Zi.

Indra Darmawan: Jadi, Uda setuju bahwa Lao Zi sedang membicarakan sebuah realitas yang sekaligus transenden dan imanen? Ini menarik, karena dalam diskursus ilmu politik modern, kita sering terjebak pada dikotomi. Mungkin ini yang dimaksud Hovers dengan “pemikiran proses” bahwa realitas adalah sebuah proses perubahan permanen. Tapi benarkah kita bisa menarik Lao Zi ke dalam bingkai mana pun seperti yang mereka sarankan?

Ade Indra Chaniago: (Menggeleng pelan) Tidak semudah itu. Seperti yang Bro kutip dari artikel itu, sudah berabad-abad para komentator Tiongkok membaca Dao De Jing sebagai satu kesatuan yang koheren, bukan sekadar kumpulan puisi independen yang bisa diartikan sesuka hati. Mereka menjelaskan Lao Zi dengan Lao Zi sendiri. Dalam hal ini, para sufi juga punya metode serupa. Kami tidak bisa serta-merta memasukkan konsep Tuhan ke dalam kerangka pemikiran materialisme dialektik, misalnya. Itu akan memiskinkan makna. Yang bisa kita lakukan adalah mencari titik-titik temu, bukan memaksakan satu kerangka ke kerangka lain.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : "Secangkir Kopi dan Pekerjaan Rumah Pendidikan Palembang"

Jika seorang tokoh sufi klasik semacam Jalaluddin Rumi atau Ibnu Arabi hidup di zaman kita dan membaca Dao De Jing, saya kira beliau akan tersenyum dan berkata, “Inilah saudara kita dari Timur yang telah menemukan mata air yang sama.” Rumi, dalam Matsnawi-nya, juga penuh dengan paradoks. Ia berkata, “Aku bisu karena bisikan-Mu.” Atau, “Yang dikenal justru tidak dikenal.” Ini adalah bahasa cinta dan penghayatan, bukan bahasa logika formal.

Saya ingin membayangkan pendapat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang sufi besar yang makamnya juga kita ziarahi di sini. Beliau mungkin akan berkata:

“Wahai pencari, apa yang kau cari dengan nama ‘Jalan’? Apakah kau kira kau dapat menggenggam lautan dengan cangkir kecil? Nama-nama itu adalah perahu yang membawamu ke tepian, tapi jangan kau sangka perahu itu adalah lautan itu sendiri. Lao Zi berkata benar. Jalan yang abadi tidak terkurung dalam kata-kata, sebagaimana Dzat Yang Maha Suci tidak terkurung dalam akal pikiran. Yang ‘Tanpa Nama’ itulah asal muasal, tempat kembalinya segala ‘Yang Bernama’. Fana-kanlah dirimu dari segala nama dan sebutan, maka kau akan tenggelam dalam keheningan yang menjadi sumber segala kata. Di sanalah, dalam keheningan itu, kau akan menemukan apa yang tak bisa kau ucapkan, namun kau rasakan sebagai Kebenaran yang Hakiki.”

Indra Darmawan: (Terdiam sejenak, meresapi) Luar biasa, Uda. Jadi, inti dari semuanya bukanlah pada perdebatan terminologi “Ada” atau “Tiada,” “imanen” atau “transenden,” tapi pada sebuah pengakuan bahwa ada realitas yang lebih besar dari diri kita, yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap oleh akal dan bahasa. Dan tugas kita, mungkin, adalah untuk senantiasa rendah hati di hadapan misteri itu.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Krisis Kebenaran di Era Pasca-Kebenaran

Ade Indra Chaniago: Tepat sekali, Adindaku. Sama seperti dalam ilmu sosial, kita punya batasan metodologi dan ruang lingkup penelitian. Dalam kehidupan spiritual, kita juga punya batasan. Mengakui batasan itu adalah awal dari kebijaksanaan. Baik Lao Zi, para sufi, dan kita yang ngopi di Palembang ini, sejatinya sedang dalam sebuah pencarian. Jalan itu ada, tapi ia tak akan pernah sepenuhnya tertangkap oleh peta mana pun.

(Keduanya diam sejenak, larut dalam suasana senja yang kian temaram, ditemani secangkir kopi dan teh yang mulai dingin. Percakapan berakhir dengan pemahaman baru tentang batas antara kata dan makna.)

 

Sabtu, 14 Maret 2026

Tadarus Politik

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan