JARI : Antara Filsafat Moral dan Mistisisme

JARI : Antara Filsafat Moral dan Mistisisme

“Antara filsafat moral dan mistisisme, ini memperkaya kita. Tuntutan moral memang tinggi, tetapi ia bukan untuk menghancurkan kita. Ia adalah kompas yang menunjuk ke arah kemungkinan menjadi manusia yang lebih utuh, yang berani menghadapi kegelapan dalam dirinya sendiri untuk kemudian mencari cahaya.” [ JARI ]

 

AIC : Saya akhir-akhir ini merenungkan sebuah kutipan dari filsuf Prancis, Vladimir Jankélévitch. Katanya, secara teori segala sesuatu bisa dimaafkan, tetapi tanpa penyesalan dari pelaku, pengampunan itu mustahil. Ini menempatkan tuntutan moral yang sangat berat, bukan hanya pada si pelaku untuk benar-benar menyesal, tapi juga pada kita yang memberi maaf.

ID : Betul. Itu seperti menyiratkan bahwa pengampunan bukanlah konsep murah atau otomatis. Ada prasyarat moral yang mendalam: penyesalan yang tulus. Tapi di sisi lain, bukankah menuntut penyesalan tulus juga bisa menjadi beban? Bagaimana jika seseorang tidak mampu menyelami penyesalan sedalam itu? Apakah kita lalu mengunci pintu pengampunan selamanya?

AIC : Di situlah kompleksitasnya. Jankélévitch, seperti dikatakan, melihat kebebasan manusia sebagai tugas yang tak pernah selesai. Kita dituntut untuk terus-menerus merdeka, dan kemerdekaan itu termasuk kemampuan untuk melakukan introspeksi moral yang dalam. Tapi ini berat, karena—seperti juga katanya—bahkan ketika kita mengatakan kebenaran, selalu ada sisa ketidakmurnian. Niat kita tak pernah sepenuhnya bersih.

ID : Perbincangan ini mengingatkan saya pada para sufi dalam Islam. Mereka justru berbicara tentang penyucian hati (tazkiyatun nafs) sebagai jalan untuk mendekati kemurnian itu. Misalnya, Abu Yazid al-Busthami, dengan konsep fana-nya. Bagi beliau, pencapaian spiritual tertinggi adalah ‘lebur’ dalam Kehendak Ilahi. Sebelum mencapai itu, seorang penempuh jalan harus membersihkan diri dari semua noda ego, termasuk kesombongan atas ‘kebaikan’ moralnya sendiri. Penyesalan yang tulus bagi al-Busthami mungkin adalah proses ‘meleburkan’ diri yang penuh dosa itu untuk kemudian ‘bangkit’ dalam kesadaran baru yang bersih.

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Perjalanan Panjang Tanpa Akhir untuk Kebaikan

AIC : Ya, itu pendekatan dari dalam. Lalu bagaimana dengan Jalaluddin Rumi? Bukankah beliau sering menggambarkan penyesalan dan pencarian maaf sebagai rasa rindu yang menyakitkan? Seperti seruling bambu yang terpisah dari induknya, ia meratap dan merindukan penyatuannya kembali. Penyesalan sejati adalah ratapan rindu untuk kembali ke Sumber Kebaikan, Allah SWT. Tanpa rasa rindu yang membakar itu, permintaan maaf hanyalah kata-kata kosong. Rumi mungkin akan setuju dengan Jankélévitch, bahwa tanpa ‘kerinduan’ atau penyesalan yang membara, pengampunan sulit terwujud secara hakiki.

ID : Benar. Dan kita bisa melangkah lebih dalam dengan Ibnu Farid. Dalam syair-syair cinta ilahinya, penderitaan akibat ‘perpisahan’ atau kesadaran akan kedosaan adalah anggur yang memabukkan. Penderitaan moral itu justru menjadi jalan untuk naik tingkat. Tuntutan moral yang tinggi, bagi para sufi ini, bukan beban eksternal yang menghakimi, melainkan undangan internal untuk melakukan perjalanan pulang. Pertanyaannya, apakah manusia biasa seperti kita mampu mencapai tingkat penyesalan seintens dan sedalam itu?

AIC: Mungkin di sinilah kita perlu mendengarkan juga suara lain, seperti Al-Ghazali. Beliau membedakan antara ilmu mukasyafah (penyingkapan langsung bagi para sufi) dan ilmu muamalah (untuk orang awam). Tuntutan moral memang tinggi, tapi harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan. Penyesalan seorang awam mungkin tidak sedalam penyesalan seorang arif, tetapi selama itu tulus sesuai kapasitasnya dan diikuti dengan tekad untuk tidak mengulangi, itu sudah memenuhi prasyarat moral untuk meminta dan memberi maaf.

ID : Jadi, kesimpulannya? Apakah kita harus menunggu penyesalan setinggi langit seperti para sufi sebelum memberi maaf?

AIC: Saya rasa tidak. Tetapi dialog antara filsuf seperti Jankélévitch dan para mistikus Islam ini mengajarkan kita satu hal: bahwa pengampunan dan penyesalan adalah wilayah yang sangat dalam dan serius. Bukan transaksi sosial biasa. Jankélévitch mengingatkan kita agar tidak meremehkan pengampunan dengan memberikannya tanpa syarat, sementara para sufi mengajarkan bahwa penyesalan sejati adalah perjalanan penyucian hati. Bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, mungkin pelajarannya adalah: kita harus sungguh-sungguh dalam meminta maaf, berusaha menyentuh kedalaman hati; dan dalam memberi maaf, kita juga harus memiliki kebijaksanaan untuk melihat adanya benih penyesalan yang tulus, sekecil apapun, sebagai sebuah permulaan. Seperti kata Rumi, “Cahaya fajar itu lebih lembut dari matahari tengah hari, tetapi ia adalah permulaan.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI : Perjalanan Panjang Tanpa Akhir untuk Kebaikan

ID: Dialog antara Barat dan Timur, antara filsafat moral dan mistisisme, ini memperkaya kita. Tuntutan moral memang tinggi, tetapi ia bukan untuk menghancurkan kita. Ia adalah kompas yang menunjuk ke arah kemungkinan menjadi manusia yang lebih utuh, yang berani menghadapi kegelapan dalam dirinya sendiri untuk kemudian mencari cahaya. Baik Jankélévitch dengan ‘sisa ketidakmurnian’-nya, maupun Abu Yazid dengan fana-nya, pada akhirnya sama-sama menunjukkan bahwa jalan moral adalah perjalanan tanpa akhir menuju kejujuran yang lebih dalam.

AIC: Tepat. Dan dalam perjalanan itu, kesadaran bahwa “segala sesuatu dapat dimaafkan” memberi kita harapan, sementara syarat “penyesalan yang tulus” menjaga martabat dan keseriusan dari proses pengampunan itu sendiri. Itulah tugas kita yang tak henti-hentinya sebagai manusia yang merdeka.

 

Minggu,  15 Februari 2026

Jaringan Aliansi Rakyat Independen

Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan