Niretika dan Songong, Gibran Ditantang Buat Acara “Desak Gibran” kalau Memang Berilmu

Politikus senior PKS Andy Azisi Amin

 JAKARTA – Penampilan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka pada saat debat cawapres pada Minggu malam lalu, 21 Januari 2024, masih terus menuai sorotan. Karena cawapres yang berpasangan dengan Prabowo Subianto itu dinilai kerao mempertontonkan hal-hal yang tidak patut.

Politikus senior PKS Andy Azisi Amin misalnya menyoroti tiga hal dari Gibran dalam debat yang mengangkat tema pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, masyarakat adat, dan desa tersebut.

“Pertama, adalah sifat songongnya Gibran. Wajar kita pakai kata songong. Kita ini orang Timur. Ada etika, tata krama. Saya pernah sekolah di Amerika, di Barat, tapi enggak gitu-gitu amat,” jelasnya , Jumat, 26 Januari 2024.

Setidaknya ada dua adegan Wali Kota Solo tersebut yang menunjukkan niretika. Yaitu ketika gesturnya “celingak-celinguk” seolah sedang mencari jawaban dari cawapres nomor urut 3 Mahfud MD dan ketika menyentil cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar soal contekan.

“KPU saja membolehkan membawa kertas dan bolpoin. Saya ikut debat dari SD dan selalu kita punya catatan. Bagaimana kita mau debat kalau kita enggak catat. Kita catat hal-hal yang mau kita debat, yang mau kita respons. Hal standar itu. Kami juga dosen saja begitu,” jelas peraih gelar S2 ekonomi dari University of Illinois Urbana-Champaign, AS ini.

“Jadi itu adalah signalling, memberi tanda buruk bagi generasi muda, Gen Z dan lain-lainnya. Enggak boleh lah kita begitu,” sambungnya.

Kedua, terlihat sekali Gibran lancar berbicara itu karena menghafal. Karena menghafal, dia mencatat ada pengulangan kalimat dalam durasi lebih dari 30 detik. Yaitu, ketika Gibran menjelaskan soal penyemprotan pestisida menggunakan drone.

“Dan itu juga tidak pantas karena itu level teknis. Ngapain berbicara hal-hal teknis di debat cawapres yang level kebijakan, policy,” ucap Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) 2016-2019 ini.

Ketiga, jawaban yang disampaikan atas pertanyaan yang diajukan tidak nyambung. Karena itu tidak heran sampai diprotes oleh Mahfud MD. “Itu yang disebut ‘jaka sembung naik ojek, kagak nyambung kagak konek’,” sentilnya.

Lagi pula, dia menambahkan, kalau memang putra Presiden Joko Widodo itu merasa pintar dan memiliki ilmu yang cukup, mestinya menggelar acara debat terbuka seperti yang dilakukan Anies Baswedan lewat kegiatan Desak Anies.

Melalui kegiatan itu akan terlihat apakah Gibran hanya modal hafalan atau memang benar-benar menguasai persoalan. Karena akan menghadapi pertanyaan yang tidak terprediksi sebelumnya.

“Wajar kita menuntut, ini cawapres. Menuntut dia cerdas itu wajar. Ini bukan pemilihan ketua RT. Jadi kalau ada demand dari masyarakat, dari pemilih ingin melihat pemimpin ada isi otaknya, ya wajar cawapres ini tampil ke publik. Buatlah ‘Desak Gibran’ atau apa namanya kalau memang benar ada ilmunya,” tegasnya.

Namun, dia ragu Gibran berani menerima tantangan tersebut. Karena memang Gibran hanya bermodalkan hafalan.

“Kan ada gelar MA, Master of Arts. Dia menguasai masalah dan ada seninya juga memecahkan masalah. Jadi gabungan. Dan itu enggak bisa lahir dari hafalan. Itu harus lahir dari penguasaan terhadap ilmu dan substansi,” tandasnya. [kba]