JARI: Kurban Kepemimpinan
Sore itu, angin Musi berembus lembut menembusi kisi-kisi kayu jati di serambi barat Masjid Agung Palembang. Lima sosok duduk bersila di atas sajadah panjang berwarna hijau tua, sesaat setelah salat Ashar berjamaah usai. Suara takbir dan tahlil masih terdengar sayup dari pengeras suara di dalam masjid, tetapi di serambi luar, suasana lebih tenang, hanya ditemani deru air wudhu dari keran. Ade Indra Chaniago duduk bersandar pada tiang masjid dengan tasbih di tangan kirinya dan segelas air zamzam di kanan. Indra Darmawan, yang baru saja keluar dari ruang wudhu, tersenyum melihat teman-temannya. Di hadapan mereka, Juliansyah (tokoh Ogan Ilir) dan Ferry Lesmana (tokoh OKI) duduk dengan wajah teduh namun sarat tanda tanya. Sementara Andi Wijaya, sibuk merapikan peci dan mengeluarkan buku catatan kecil dari saku kemejanya.
Andi Wijaya (dengan suara rendah, penuh hormat): Uda, maaf mengganggu renungan Saudara-saudara sekalian. Saya ingin bertanya: Besok kita akan menyambut Idul Adha. Selama ini kita sering mendengar ceramah tentang kewajiban kurban, tentang daging untuk fakir miskin. Tapi saya merasa ada yang lebih dalam yang jarang dibahas. Apa sebenarnya hakikat Idul Adha bagi seorang pemimpin? Dan bagaimana seharusnya sikap pemimpin kepada rakyat di momen ini?
Ade Indra Chaniago: Andi, pertanyaanmu sangat mendasar. Hakikat Idul Adha bukanlah pada darah atau daging hewan. Allah sendiri berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37: “Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.” Maka intinya adalah takwa, kesadaran untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintai demi ketaatan kepada Tuhan. Bagi seorang pemimpin, maknanya adalah: mengorbankan keinginan pribadi, keluarga, dan golongan demi kemaslahatan rakyat.
Ferry Lesmana (menyilangkan tangan di dada): Nah, di OKI, kami sering melihat kepala desa dan camat berlomba-lomba menyembelih sapi besar, berfoto di media sosial, tapi setelah Idul Adha, tidak ada perubahan kebijakan yang memihak petani. Apakah itu berarti kurban mereka tidak sah, Uda?
Indra Darmawan (tersenyum sambil menghela napas): Ferry, sah atau tidaknya kurban secara fiqih adalah urusan syarat dan rukun. Tetapi secara hakikat spiritual, kurban yang tidak dibarengi dengan perubahan akhlak dan keadilan adalah kurban yang lapar. Saya ingat pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin: “Siapa yang menyembelih hewan tetapi tidak menyembelih sifat kebinatangan dalam dirinya, seperti rakus, tamak, dan zalim, maka ia lebih buruk dari hewan yang disembelih.” Bagi pemimpin, sifat kebinatangan itu antara lain: tidak peduli pada penderitaan rakyat, korupsi, dan arogansi kekuasaan. Jadi, jika camat di OKI hanya sibuk dengan sapi tapi tidak pernah turun ke sawah yang kering, maka kurbannya hanya kulit tanpa isi.
Juliansyah (mengangguk-angguk): Kalau begitu, apa standar minimal seorang pemimpin di bulan Idul Adha? Apa yang harus ia korbankan selain hewan?
Ade Indra Chaniago (mengambil posisi lebih tegak): Paling tidak tiga hal, Juliansyah. Pertama, mengorbankan waktu dan kenyamanan pribadi untuk turun langsung mendengar keluhan rakyat tanpa protokoler, tanpa ajudan, tanpa kamera. Kedua, mengorbankan anggaran seremonial (seperti pesta kurban mewah) untuk dialihkan ke program yang menyejahterakan seperti irigasi, bibit murah, atau beasiswa. Ketiga, mengorbankan gengsi dan ego untuk mengakui kesalahan jika kebijakannya merugikan rakyat. Inilah yang diajarkan Nabi Ibrahim ketika ia rela mengorbankan putra kesayangannya Ismail—bukan karena benci, tetapi karena patuh pada perintah Ilahi. Pemimpin yang patuh pada Tuhan akan patuh pada rakyat.
Andi Wijaya (mencatat dengan cepat, lalu bertanya): Uda tadi menyebut Al-Ghazali. Adakah tokoh sufi lain atau ulama besar yang berbicara secara khusus tentang hubungan Idul Adha dengan kepemimpinan?
Indra Darmawan (mengusap wajah, lalu menjawab dengan semangat): Tentu ada, Andi. Mari saya sebutkan beberapa:
Pertama, Ibnu Arabi dalam Fusus al-Hikam pada bab “Hikmah tentang Ibrahim”. Ia mengatakan bahwa ujian menyembelih Ismail adalah simbol pelepasan atribut kemanusiaan yang rendah menuju kesempurnaan ketuhanan. Bagi pemimpin, ini berarti ia harus melepaskan atribut kesombongan, kecintaan pada jabatan, dan kepentingan dinasti—karena itu semua adalah “Ismail”-nya yang harus disembelih.
Kedua, Jalaluddin Rumi dalam Masnawi menceritakan bahwa pisau Ibrahim tidak mampu memotong leher Ismail karena cinta Ibrahim kepada Allah lebih kuat daripada cinta kepada anak. Rumi berkata: “Orang yang beriman sejati adalah yang pisau ketaatannya lebih tajam daripada pisau besi.” Bagi pemimpin modern, pisau itu adalah integritas. Jika integritasnya tumpul, ia tak mampu “memotong” korupsi dan ketidakadilan.
Ketiga, dari Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-‘Ibad menasihati para pembesar: “Janganlah engkau sibuk menggemukkan sapi kurban sementara rakyatmu kurus karena kelaparan. Karena Allah tidak melihat gemuk sapi, tetapi melihat gemuknya iman dan amal.”
Ferry Lesmana (menghela napas panjang): Wah, itu kritik keras. Tapi di lapangan, Uda, adakah contoh konkret pemimpin di Indonesia yang benar-benar menerapkan “pengorbanan kepemimpinan” di bulan Dzulhijjah?
Ade Indra Chaniago (berpikir sejenak, lalu menjawab): Meskipun mungkin tidak sempurna. Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022, Anies Baswedan. Pada Idul Adha 2021, ia menginisiasi program “Kurban Kebijakan” di mana setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) wajib melaporkan satu kebijakan yang “dikurbankan” untuk rakyat kecil misalnya memotong biaya perizinan usaha mikro atau memberikan keringanan pajak. Meskipun menuai pro dan kontra, ide ini menunjukkan bahwa Idul Adha bisa menjadi momentum evaluasi kebijakan, bukan sekadar pemotongan hewan.
Juliansyah (mengernyitkan dahi): Tapi Uda, kebanyakan pemimpin hanya seremonial. Lalu apa peran rakyat seperti kami?
Indra Darmawan (tersenyum lebar): Rakyat berperan sebagai pengingat dan pengawal. Ingat, dalam Islam, amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban setiap Muslim. Jika pemimpin hanya sibuk dengan kurban fisik tapi melupakan kurban etika, rakyat harus berani bertanya dan mengkritik dengan cara yang santun tetapi tegas. Seperti kata Imam Syafi’i: “Jika seorang pemimpin tidak takut kepada Allah, maka rakyat harus membuatnya takut kepada suara rakyat.” Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan partisipasi aktif, petisi, dan kontrol sosial.
Andi Wijaya (menutup buku catatan, lalu berkata lantang): Saya jadi teringat pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau mengatakan: “Idul Adha adalah hari raya pengorbanan, tetapi pengorbanan terbesar adalah meninggalkan tradisi yang tidak membawa kemaslahatan.” Bagi pemimpin, meninggalkan tradisi pencitraan, janji palsu, dan proyek-proyek menguntungkan diri sendiri adalah kurban sejati. Setuju, Uda?
Ade Indra Chaniago (mengacungkan jempol): Andi, kamu hafal betul. Ya, itulah inti dari “kurban” dalam bahasa Arab qaruba yang berarti mendekat. Seorang pemimpin mendekat kepada rakyat bukan dengan foto bersama di tempat pemotongan sapi, tetapi dengan merasakan apa yang rakyat rasakan. Jika rakyat susah, pemimpin harus ikut susah. Jika rakyat lapar, pemimpin harus ikut lapar, setidaknya dalam empati. Inilah yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menangis saat ada rakyatnya yang kelaparan, dan ia langsung mengubah kebijakan fiskal.
Ferry Lesmana (menghela napas lega): Baik, Uda. Hari ini, di serambi masjid ini, saya berjanji akan menjadi warga yang kritis tetapi tetap santun. Dan saya akan mengajak warga OKI untuk menanyakan langsung kepada camat dan kepala desa: “Apa pengorbanan kebijakan Anda di Idul Adha tahun ini?”
Indra Darmawan (tertawa kecil): Itu pertanyaan yang sangat bagus, Ferry. Pertahankan. Sekarang, hampir magrib. Mari kita perbanyak doa. Semoga pemimpin kita di Sumsel dan seluruh Indonesia diberi hati yang tajam seperti pisau Ibrahim mampu memotong segala bentuk kezaliman, dan lembut seperti cinta Ismail kepada ayahnya penuh bakti kepada rakyat.
(Mereka semua mengangkat tangan, berdoa dalam hening. Suara azan Magrib mulai bergema dari dalam Masjid Agung Palembang. Mereka satu per satu beranjak menuju tempat wudhu, meninggalkan serambi dengan hati yang lebih terang.)
(Setelah mengaminkan doa bersama, suasana hening sejenak. Angin sore semakin terasa sejuk. Kemudian satu per satu mereka saling berpandangan dan tersenyum.)
Ade Indra Chaniago (membuka tangan, menatap keempat rekannya): Saudara-saudaraku, sebentar lagi kita akan memasuki hari yang mulia. Izinkan saya mewakili hati yang paling dalam untuk mengucapkan:
“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Semoga Allah menerima segala pengorbanan kita—baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan semoga pengorbanan itu melahirkan keadilan bagi seluruh rakyat Sumsel dan Indonesia.”
Indra Darmawan (mengangguk, lalu menambahkan dengan suara lantang namun lembut): Saya sambung, Uda. Selamat Idul Adha, saudara-saudaraku. Semoga di hari raya kurban ini, kita semua—terutama para pemimpin—semakin tajam pisaunya untuk memotong keserakahan, dan semakin lembut hatinya untuk menyayangi rakyat kecil. Jangan lupa, hakikat kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada penderitaan sesama.
Juliansyah (mengusap air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata): Di Ogan Ilir, kami biasa mengucapkan: “Mohon maaf lahir batin, ya Allah, ya Rasul.” Tapi hari ini saya ucapkan khusus untuk Bapak-bapak sekalian: Selamat Idul Adha 1447 H. Semoga desa-desa kami yang masih kekeringan dan kekurangan segera mendapat “kurban” berupa kebijakan yang berpihak. Dan semoga kami, sebagai rakyat, tetap istiqomah menjadi pengawal yang jujur.
Ferry Lesmana (menepuk pundak Juliansyah, lalu berkata dengan suara serak khas perokok): Saya dari Tulung Selapan, OKI, ikut mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Adha, kawan-kawan. Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk tidak hanya menyembelih kambing, tetapi juga menyembelih kebiasaan diam ketika melihat ketidakadilan. Seperti kata pepatah Palembang: “Daging habis, tulang berceceran—jangan sampai kebijakan baik hanya tinggal janji.”
Andi Wijaya (tersenyum cerah, menutup buku catatannya, lalu berdiri setengah hormat): Saya yang paling muda, hanya bisa mengucapkan: Selamat Idul Adha 1447 Hijriah, Dulur-dulur sekalian. Semoga tulisan dan catatan dari diskusi sore ini bisa saya sebarkan ke anak-anak muda Palembang. Agar mereka paham bahwa kurban sejati adalah mengorbankan gengsi dan kemalasan untuk belajar, lalu mengabdi pada rakyat. Mohon maaf lahir dan batin, semuanya.
(Kelima tangan terulur, bersalaman bergantian. Suasana haru namun hangat. Azan Magrib baru saja usai dikumandangkan dari dalam Masjid Agung Palembang. Mereka beranjak perlahan, meninggalkan serambi barat dengan hati yang penuh, bukan hanya oleh takbir, tetapi juga oleh tekad.)
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Selamat Idul Adha 1447 Hijriah.
Palembang, 26 Mei 2026
Tadarus Spiritual
Jaringan Aliansi Rakyat Independen