JARI : “Secangkir Kopi dan Pekerjaan Rumah Pendidikan Palembang”
Suasana kafe sederhana di kawasan Rumah Susun 26 Ilir, Palembang. Ade Indra Chaniago dan Indra Darmawan duduk ditemani segelas kopi. Di luar, lalu lalang kendaraan terdengar bercampur gemericik hujan sore.
Ade Indra Chaniago: (Mengaduk kopinya, lalu mendesah) “Risau saya akhir-akhir ini, Bro. Setiap semester, kampus saya melepas ratusan sarjana. Mereka lulus dengan nilai cumlaude, hafal teori pembangunan dan demokrasi. Tapi pertanyaan pertama mereka bukan lagi tentang masa depan bangsa, melainkan ‘Pak, setelah ini kerja di mana?'”
Indra Darmawan: (Tersenyum getir) “Saya juga sama, Uda. Di komunitas lingkungan dan pendidikan yang saya geluti, banyak lulusan SMA dan sarjana menganggur. Mereka pintar secara akademik, tapi bingung ketika disuruh menanam atau mengelola sampah jadi nilai ekonomis. Ironis, pendidikan tinggi melimpah, tapi lapangan kerja di Palembang seperti tidak bertambah.”
Ade Indra Chaniago: “Datanya memang pahit, Adinda. Data terbaru menunjukkan angka kemiskinan di Palembang masih 9,04 persen, atau sekitar 162.310 jiwa . Memang turun dibanding tahun-tahun sebelumnya yang sempat di atas 10 persen, tapi jumlah itu masih sangat besar. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga masih di 6,81 persen, dan pemerintah menargetkan bisa ditekan ke kisaran 5,75-6,50 persen tahun ini . Lulusan SMA dan sarjana jadi penyumbang terbesar. Mereka ini ‘korban’ dari ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri atau realitas dunia. Kita mencetak pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja. Belum lagi soal UMR yang tak sebanding dengan biaya hidup rumah tangga. Padahal, esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan mencetak mesin pencari nafkah yang kelaparan.”
Indra Darmawan: “Nah, itu dia! Saya setuju soal esensi. Saya sering diskusi dengan teman-teman guru, mereka terkekang oleh kurikulum yang padat dan sistem evaluasi yang hanya mengukur aspek kognitif. Mereka jarang sekali mengajak siswa keluar kelas, melihat sungai yang tercemar, atau belajar bertani. Padahal, dari situlah kreativitas lahir. Pendidikan kita pragmatis dalam arti sempit: demi ijazah. Bukan pragmatis ala John Dewey yang mengatakan bahwa ‘education is not preparation for life; education is life itself’.”
Ade Indra Chaniago: “Betul sekali. John Dewey dengan filosofi learning by doing-nya sangat relevan. Ia melihat sekolah sebagai miniatur masyarakat. Di Palembang, kita punya masalah sungai tercemar, kita punya masalah kemacetan. Mengapa tidak jadikan itu bahan ajar? Anak-anak diajak berpikir bagaimana menyaring air sungai, bagaimana mendesain transportasi umum yang nyaman. Mereka belajar fisika, biologi, sosiologi, sekaligus. Itu baru pendidikan bermakna. Sayangnya, model pendidikan seperti itu masih terganjal birokrasi dan mindset lama.”
Indra Darmawan: (Menyelipkan selembar daun kering dari sakunya, mungkin sebagai alat peraga sederhana) “Saya setuju, pendidikan harus kontekstual. Saya ingat tesisnya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Beliau itu jauh-jauh hari sudah bicara bahwa pendidikan yang ideal harus berdasarkan pada bakat dan minat (interest and talent). Kalau anak punya bakat di pertanian, sekolah harus fasilitasi itu. Ibnu Khaldun menekankan pada fatqu al-lisan atau kemampuan dasar yang dipadukan dengan soft skills dan hard skills. Beliau percaya, jika seseorang menguasai keterampilan yang sesuai minatnya, maka akan muncul kepercayaan diri untuk berusaha secara mandiri dan mengurangi pengangguran.”
Ade Indra Chaniago: “Jadi, menurut Ibnu Khaldun, pendidikan harusnya bisa memberantas pengangguran dengan mencetak individu yang mandiri, ya, Bro? Lalu bagaimana dengan para lulusan yang terpaksa menerima pekerjaan di bawah UMR? Atau bahkan menganggur? Apakah ini soal kualitas individu atau memang sistem ekonominya yang timpang?”
Indra Darmawan: “Keduanya, Uda. Ini soal struktur. Tapi Ibnu Khaldun punya pandangan menarik soal pekerjaan dan kemuliaan. Beliau hidup di masa di mana pekerjaan mencerminkan kinerja dan etika seseorang. Pejabat atau pengusaha sukses di masanya adalah mereka yang pekerja keras, ulet, jujur, dan amanah. Kemuliaan tidak dilihat dari jabatannya, tapi dari illat atau sebab-sebab di balik kesuksesan itu, yaitu kerja keras dan keadilan. Jika para pemimpin dan pengusaha sekarang tidak adil dan korup, maka mereka hina di mata Tuhan, meskipun kaya raya.”
Ade Indra Chaniago: (Mengangguk-angguk) “Nah, itu menarik! Jadi, jika UMR di Palembang tidak layak, itu bukan hanya soal angka, tapi soal keadilan. Pengusaha mungkin berkata ‘saya ikut aturan pemerintah’, tapi jika upah itu tidak cukup untuk biaya hidup layak buruh dan keluarganya, maka ada dosa sosial di situ. Pendidikan agama dan moral yang diajarkan di bangku sekolah seharusnya menjadi fondasi etika ini. Baik itu untuk calon pekerja maupun calon pengusaha. QS. At-Taubah ayat 105 mengingatkan kita bahwa Allah dan rasul-Nya akan melihat hasil pekerjaan kita, begitu juga dengan sesama manusia.”
Indra Darmawan: “Tepat! Saya pernah baca studi yang menyebutkan bahwa rata-rata lama sekolah di Sumbagsel justru berpengaruh negatif terhadap jumlah tenaga kerja terdidik. Artinya, makin lama orang sekolah, belum tentu makin mudah dapat kerja. Ini pertanda bahwa isi pendidikannya mungkin salah arah. Dalam perspektif ekonomi Islam, ini masalah keberkahan. Jika sistemnya tidak adil, maka hasilnya pun tidak akan berkah. Maka, solusinya bukan hanya meminta pemerintah menaikkan UMR, tapi juga merevolusi cara kita mendidik.”
Ade Indra Chaniago: “Lalu, apa yang harus kita dorong, Bro? Kita duduk di sini, bisa berdiskusi, tapi di luar sana ribuan lulusan bingung. Apalagi dengan situasi keamanan yang juga memprihatinkan. Saya baca data Operasi Pekat Musi 2026, Polda Sumsel mengungkap 3.243 kasus penyakit masyarakat dengan 3.565 tersangka hanya dalam operasi jelang Ramadan kemarin . Itu baru yang terungkap. Bayangkan yang tidak terungkap. Rinciannya, ada 52 kasus premanisme, 29 kasus peredaran miras, 14 kasus kejahatan jalanan, plus narkoba, judi, dan prostitusi . Belum lagi kasus penipuan daring (online scam) yang mencengangkan: 4.182 laporan di Palembang dengan total kerugian Rp80,5 miliar hanya dalam kurun November 2024 hingga Januari 2026 . Modusnya belanja daring palsu, lowongan kerja fiktif, sampai investasi bodong. Ini semua berkait erat dengan desakan ekonomi, Bro. Orang yang putus asa mencari kerja bisa tergoda jadi preman, juru parkir liar, atau malah jadi pelaku penipuan.”
Indra Darmawan: (Menyandarkan punggung, menghela napas panjang) “Astaghfirullah… Rp80,5 miliar menguap karena scam. Itu baru kerugian materi, belum trauma psikologis korbannya. Saya jadi ingat, beberapa waktu lalu Polrestabes juga mengamankan tiga orang ‘pak ogah’ di Pasar 16 Ilir yang melakukan pungli . Mereka ini sebenarnya produk dari sistem yang gagal menyediakan lapangan kerja layak. Polisi bilang akan melakukan pembinaan sesuai potensi mereka, bahkan akan disalurkan jadi tenaga keamanan . Itu langkah baik, tapi solusi jangka panjangnya ya harus dari akar: pendidikan dan lapangan kerja.”
Ade Indra Chaniago: “Nah, itu benang merahnya, Bro. Kriminalitas, pengangguran, dan kemiskinan ini satu lingkaran setan. Angka kemiskinan 9,04 persen itu bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada 162.310 warga Palembang yang setiap hari bergulat dengan perut kosong, anak putus sekolah, dan penyakit tak terobati. Ketika orang lapar dan tak punya pekerjaan, kejahatan jadi pilihan terakhir. Maka, kita harus mendorong wirausaha mandiri, Uda. Bukan jadi PNS atau karyawan pabrik terus. Tapi wirausaha yang berbasis pada potensi lokal Palembang: pengolahan ikan, kerajinan songket modern, wisata edukasi lingkungan, atau ekonomi kreatif berbasis digital. Ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang juga seorang pedagang. Dan ini juga sejalan dengan pendidikan ala Ki Hajar Dewantara yang kita lupakan: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dorongan. Guru dan dosen harusnya jadi fasilitator yang mendorong kemandirian, bukan sekadar penyampai materi mati.”
Ade Indra Chaniago: “Jadi, reorientasi pendidikan harus dimulai dari paradigma. Kita harus berani mengubah pendekatan dari transfer of knowledge ke transfer of value dan life skill. Pemerintah kota harus memfasilitasi ekosistem ini: menyambungkan dunia pendidikan dengan industri dan UMKM lokal. Jangan sampai anak-anak SMK di Palembang pandai teori mesin, tapi magangnya hanya jadi office boy, bukan mekanik sungguhan. Itu pembodohan sistematis.”
Indra Darmawan: “Dan kita sebagai masyarakat, termasuk tokoh pendidikan dan aktivis seperti kita, harus ikut turun tangan. Mungkin kita bisa mulai merintis semacam ‘Sekolah Sungai’ atau ‘Kampung Merdeka’ di Palembang, di mana anak-anak muda belajar sambil bekerja: membersihkan Sungai Musi sambil belajar biologi, menanam pohon sambil belajar kewirausahaan. Mereka belajar dari realitas, lalu menciptakan solusi, dan dari solusi itu, mereka bisa hidup layak. Bukan menunggu lowongan PNS, tapi menciptakan lapangan kerja sendiri.”
Ade Indra Chaniago: (Mengangkat cangkir kopi) “Setuju. Untuk perubahan kecil di Palembang ini. Semoga diskusi kita ini tidak hanya jadi obrolan basa-basi di kafe, tapi ada keberanian untuk mempraktikkan filosofi learning by doing-nya Dewey dan konsep kemuliaan kerja dari Ibnu Khaldun. Pendidikan harus kembali ke relnya: membebaskan dan mensejahterakan.”
Indra Darmawan: “Aamiin. Untuk Palembang yang lebih cerdas, berdaya, dan aman, Uda.”
Hujan di luar reda. Diskusi pun usai, menyisakan segudang pekerjaan rumah untuk dunia pendidikan dan keamanan Kota Palembang.
Kamis, 12 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan