Ambisi Besar dan Kebaikan Hakiki di Bulan yang Suci
“Ada dikotomi antara perbuatan yang secara lahiriah tampak besar dan agung, dengan perbuatan yang secara etis dan moral itu baik dan adil. Perbuatan besar seringkali termotivasi oleh ego dan ambisi pribadi, sementara perbuatan baik menuntut kerendahan hati dan kepedulian pada sesama. Dan perbuatan baik inilah yang lebih sulit dilakukan.” [JARI]
Indra Darmawan: (Sambil memainkan sendok di gelasnya) “Bro, ngomong-ngomong soal filosofi hidup, beberapa tahun lalu saya membaca dan mencoba menyelami pemikiran Montesquieu. Ada satu kutipannya yang menarik perhatian saya, ‘Sebagian besar orang lebih mampu melakukan perbuatan besar daripada perbuatan baik.’ Menurutmu, kira-kira apa yang ingin disampaikan Montesquieu? Apakah relevan dengan kondisi kita yang sedang berpuasa ini?”
Ade Indra Chaniago: (Menyandarkan punggung di kursi) “Wah, pertanyaan bagus untuk sore Ramadhan yang tenang ini, Bro. Itu memang observasi yang tajam dari Montesquieu. Untuk memahaminya, kita harus melihat konteks pemikiran beliau secara utuh. Montesquieu, lewat ‘The Persian Letters’ atau ‘Surat-surat Persia’ yang terkenal itu, jago mengkritik masyarakat melalui sudut pandang orang luar. Dia membayangkan dua orang Persia bepergian ke Eropa dan mengamati kegilaan orang Prancis terhadap kekuasaan, gemerlap istana, dan ambisi pribadi. Dari situlah, kritik sosial yang halus namun tajam lahir.”
Indra Darmawan: “Jadi, menurutmu Bro, ‘perbuatan besar’ yang dimaksud itu lebih ke ambisi kekuasaan dan pengakuan sosial ya? Seperti para bangsawan yang ingin menaklukkan wilayah atau para politikus yang ingin membangun monarki absolut?”
Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Ingat, Montesquieu adalah kritikus keras monarki absolut. Dalam ‘The Spirit of the Laws’ dia mengembangkan doktrin Trias Politica. Dia melihat bahwa kekuasaan yang terpusat di tangan satu orang, meskipun bisa menghasilkan ‘perbuatan besar’ seperti membangun istana megah atau meluaskan wilayah, seringkali lahir dari nafsu tirani, bukan dari kebaikan. ‘Perbuatan besar’ itu sifatnya monumental, spektakuler, dan langsung terlihat. Tapi, bisa jadi ia dangkal dan bahkan merusak. Sedangkan ‘perbuatan baik’ itu seringkali sederhana, sunyi, dan tidak instan. Seperti menegakkan keadilan, menghapus penyiksaan, atau melindungi hak-hak warga negara. Ini justru lebih sulit dilakukan karena butuh pengorbanan, kesabaran, dan tidak selalu populer. Ia tidak memberikan gemerlap pujian instant.”
Indra Darmawan: “Oh, saya paham, sepakat. Jadi, analoginya begini. Seorang raja dengan mudah memerintahkan pembangunan piramida yang megah—itu ‘perbuatan besar’. Tapi, sangat sulit baginya untuk bersikap adil kepada setiap rakyatnya, mendengarkan keluhan mereka satu per satu—itu ‘perbuatan baik’. Karena keadilan menurut Montesquieu adalah fondasi negara, dan itu butuh pemisahan kekuasaan yang rumit, pengendalian diri, yang justru membatasi ambisi pribadi raja itu sendiri.”
Ade Indra Chaniago: “Nah, itu dia. Montesquieu adalah salah satu pelopor sosiologi yang melihat bahwa hukum dan pemerintahan harus sesuai dengan kondisi masyarakat. Tapi di atas semua itu, prinsip keadilan universal tetaplah yang utama. Dia menentang keras penyiksaan dan menginginkan hukuman yang proporsional. Itulah contoh nyata ‘perbuatan baik’ dalam skala kebijakan negara. Sayangnya, sejarah mencatat, para penguasa lebih tertarik pada ‘perbuatan besar’ yang heroik dan monumental daripada repot-repot membangun sistem yang adil.”
Indra Darmawan: “Lalu, bagaimana dengan pandangan para filsuf Islam, Bro? Apakah ada pemikiran yang serupa atau bisa memperkaya diskusi kita ini, terutama di bulan Ramadhan yang penuh latihan menahan diri ini?”
Ade Indra Chaniago: (Mengangguk antusias) “Tentu saja. Justru di sinilah menariknya. Dalam khazanah Islam, diskusi tentang hakikat perbuatan, niat, dan dampaknya sangatlah fundamental. Mari kita lihat dari sudut pandang etika Islam yang relevan dengan puasa kita.
Pertama, Imam Al-Ghazali, dalam karyanya ‘Ihya Ulumuddin’, sangat menekankan pentingnya niat dan pembersihan hati. Beliau membedakan antara amal yang lahiriahnya besar, seperti sedekah harta yang banyak atau membangun masjid yang megah, dengan amal yang ikhlas karena Allah. Al-Ghazali mengingatkan bahwa ‘perbuatan besar’ bisa menjadi sia-sia, tak lebih dari fatamorgana, jika dirusak oleh riya’ (pamer) atau ‘ujub (bangga diri). Perbuatan baik yang sejati, menurutnya, adalah yang dibersihkan dari penyakit-penyakit hati ini. Ini selaras dengan kritik Montesquieu terhadap ambisi kosong para bangsawan Prancis. Bedanya, Al-Ghazali memberikan ‘obat’nya, yaitu mujahadatun nafs atau upaya sungguh-sungguh untuk mengendalikan ego. Bukankah itu inti dari puasa? Menahan lapar dan haus itu mudah, tapi menahan hawa nafsu, riya’, dan ambisi pribadi itu ‘perbuatan baik’ level tertinggi yang sangat sulit.
Kedua, Ibnu Khaldun, yang oleh banyak sarjana Barat dianggap sebagai bapak sosiologi, punya konsep ‘ashabiyyah’ atau solidaritas sosial. Dalam ‘Muqaddimah’, ia menjelaskan bahwa ‘perbuatan besar’ seperti membangun peradaban dan kerajaan besar, lahir dari ‘ashabiyyah yang kuat dan tujuan mulia. Namun, ketika peradaban itu mencapai puncak kemewahan, ‘ashabiyyah mulai luntur, digantikan oleh egoisme individual. Para penguasa lebih sibuk dengan ‘perbuatan besar’ yang bersifat duniawi—membangun istana, hidup bermewah-mewahan—dan melupakan ‘perbuatan baik’ fundamental seperti keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya, kerajaan itu akan runtuh. Ibnu Khaldun mengajarkan kita bahwa keberlanjutan sebuah ‘perbuatan besar’ sangat bergantung pada konsistensi ‘perbuatan baik’ yang menjadi fondasinya.”
Indra Darmawan: “Menarik sekali, Bro. Jadi, kalau saya rangkum, baik Montesquieu, Al-Ghazali, maupun Ibnu Khaldun, semuanya sepakat bahwa ada dikotomi antara perbuatan yang secara lahiriah tampak besar dan agung, dengan perbuatan yang secara etis dan moral itu baik dan adil. Perbuatan besar seringkali termotivasi oleh ego dan ambisi pribadi, sementara perbuatan baik menuntut kerendahan hati dan kepedulian pada sesama. Dan perbuatan baik inilah yang lebih sulit dilakukan.”
Ade Indra Chaniago: “Tepat sekali. Dan sekarang, mari kita kaitkan dengan hakikat menjalani ibadah puasa Ramadhan 1447 H ini.
Puasa adalah ‘perbuatan besar’ secara ritual. Satu bulan penuh, seluruh umat Islam di dunia menjalankannya. Ini fenomena monumental. Tapi, hakikatnya, puasa justru mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada formalisme ‘perbuatan besar’ semata. Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits ini sangat sejalan dengan pemikiran yang kita diskusikan. Puasa yang hanya sekedar menahan lapar dan haus adalah ‘perbuatan besar’ yang kosong. Ia belum tentu menjadi ‘perbuatan baik’ jika tidak dibarengi dengan pengendalian lisan dari dusta, pengendalian hati dari dengki, dan pengendalian tangan dari kejahatan. Puasa adalah madrasah atau sekolah untuk melatih kita agar mampu melakukan ‘perbuatan baik’ yang sunyi itu:
- Menahan Amarah: Di bulan lain, kita mungkin mudah marah dan itu dianggap ‘wajar’. Tapi di bulan puasa, menahan amarah adalah ‘perbuatan baik’ yang dilatih setiap hari. Ia tidak monumental, tidak dilihat orang, tapi nilainya di sisi Allah sangat besar.
- Memberi Makanan Berbuka: Memberi makan orang berbuka adalah ‘perbuatan baik’ yang sederhana. Ia tidak memerlukan proyek besar, cukup segelas air dan kurma. Namun, pahalanya disebut seperti orang yang berpuasa.
- Menjaga Pandangan dan Pikiran: Ini adalah jihad batin yang paling berat, karena tidak ada yang melihat kecuali Allah. Ini adalah ‘perbuatan baik’ yang menuntut kesadaran spiritual tertinggi.
Jadi, Ramadhan adalah momentum untuk membalik logika duniawi Montesquieu. Dunia seringkali memuji ‘perbuatan besar’ yang megah. Ramadhan melatih kita untuk mencintai dan mengagungkan ‘perbuatan baik’ yang sederhana, ikhlas, dan berkelanjutan. Ukuran kehebatan seseorang atau suatu bangsa, dalam kacamata spiritual, bukan terletak pada seberapa besar kekuasaan atau monumental bangunan yang dihasilkannya, melainkan pada seberapa baik ia menegakkan keadilan, memelihara kemanusiaan, dan yang paling penting, seberapa bersih hatinya dari kesombongan setelah melalui latihan sebulan penuh.”
Indra Darmawan: (Mata berbinar, sembari melihat ke arah langit sore yang memerah) “Bro, saya jadi paham. Jadi, tugas kita sebagai generasi muda di era modern ini, di tengah hiruk-pikuk media sosial yang memuja pencapaian besar dan instant, adalah berani memilih untuk melakukan ‘perbuatan baik’ yang kadang tak terlihat. Lebih memilih untuk jujur dalam kesendirian, daripada pamer kebaikan di depan umum. Lebih memilih untuk menahan komentar pedas di media sosial, daripada sibuk membangun citra ‘alim’ di bulan puasa. Itulah ‘perbuatan baik’ yang lebih sulit, tapi hakiki.”
Ade Indra Chaniago: (Tersenyum puas) “Kamu tangkap betul, Bro. Itulah esensinya. Ramadhan mengajarkan kita bahwa puasa bukan sekadar ritual ‘perbuatan besar’ tahunan, tapi kursus intensif 30 hari untuk menjadi pribadi yang mahir dalam ‘perbuatan baik’. Nah, sekarang sebentar lagi Maghrib. Mari kita siapkan hidangan berbuka. Ini juga ‘perbuatan baik’ yang paling dinanti, menyegerakan berbuka.” (Terkekeh hangat).
Indra Darmawan: “Siap, Pak Dosen! Mari. Semoga diskusi ini menjadi amal baik yang diterima di sisi-Nya.”
(Mereka berdua beranjak dari kursi, merapikan meja, dan bersiap menyambut azan Maghrib dengan hati yang lebih tenang dan pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat ibadah di bulan suci.)
19 Februari 2026
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan