− Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan kecenderungan penurunan produksi beras di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir.
Dalam sorotannya, Dwi menekankan bahwa kesejahteraan petani menjadi faktor paling utama penyebab menurunnya produksi pangan pokok strategis tersebut.
“[Faktor] yang paling menentukan adalah kesejahteraan petani, dan selama 10 tahun [terakhir], selama pemerintahan saat ini, produksi beras kita turun rata-rata 1,04% per tahun,” jelas Dwi ketika dihubungi, Selasa (27/8/2024).
Dia mengelaborasi data nilai tukar petani (NTP) untuk tanaman pangan selalu berada di posisi terendah dibandingkan dengan subsektor lainnya. Hal tersebut juga menjadi alasan petani memilih untuk mengalihkan usahanya ke komoditas lain atau bahkan menjual lahan mereka.
Bila mengacu kepada NTP Pangan berdasarkan data Badan pusat Statistika (BPS), sebelum periode 2024, NTP cenderung berada di kisaran 90—100. Seperti contoh pada 2014 yang hanya berada di angka 98,89 dan 2015 hanya 100,37.
Selain faktor kesejahteraan petani, Dwi juga memaparkan fenomena iklim sebagai penyebab lain penurunan produksi beras. Fenomena El Nino yang terjadi pada 2023 berdampak signifikan terhadap penurunan produksi, yang kemudian berlanjut hingga tahun ini.
Tak luput, serangan hama juga menjadi faktor lain yang turut memengaruhi tingkat produksi beras dalam negeri.
“Kalau El Nino saya pastikan produksi turun, seperti 2023 kemarin, lalu berimbas ke 2024 saat ini, karena El Nino. Lalu kalau ada La Niña, produksi pasti naik. Walaupun pada La Niña 2020—2022 kenaikan yang terjadi amat sangat kecil, bahkan pernah terjadi penurunan dengan itu,” ujarnya.
Meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai program seperti distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) serta subsidi pupuk, Dwi berpendapat upaya-upaya tersebut belum memberi dampak signifikan terhadap peningkatan produksi beras nasional.
Dengan demikian, dia menekankan kembali bahwa hal yang paling signifikan mempengaruhi produksi adalah kesejahteraan petani, fenomena iklim, dan serangan hama.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya memaparkan target produksi beras nasional mencapai 32 juta ton pada 2025.
Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Senin (26/8/2024), Amran memaparkan produksi beras pada Januari—Oktober 2024 diproyeksikan sebesar 26,93 juta ton. Sementara itu, konsumsi pada periode tersebut diproyeksikan 25,73 juta ton. Dengan demikian, selisih produksi beras pada Januari—Oktober 2024 diproyeksikan 1,19 juta ton.
“Kalau kita hitung luas produksi beras kurang lebih 1 juta, artinya kita ada tambahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya itu 1 juta ton. Nilainya kurang lebih, kalau nilai harga pasar Rp10.000/kg, maka Rp10 triliun tambahan hanya dari produksi beras yang kita refocusing anggaran,” ujar Amran.
Perinciannya, Amran mengatakan, produksi beras pada September 2024 diramal menjadi yang tertinggi dalam 5—10 tahun, yakni mencapai 2,87 juta ton.
Hal yang sama juga diramal terjadi pada Oktober, di mana produksi yang diramal berada pada level 2,59 juta ton merupakan yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir.
Di sisi lain, Amran mengungkapkan bahwa terdapat 3 upaya yang dilakukan dalam peningkatan produksi di antaranya adalah adalah pompanisasi air sungai untuk lahan sawah tadah hujan, optimalisasi lahan rawa, dan integrasi padi gogo dengan kelapa sawit kelapa pada tanaman belum menghasilkan (TBM).
“Melalui ketiga kegiatan ini diharapkan produksi bisa ditingkatkan agar tersedia pangan produksi dalam negeri yang membaik dan ketergantungan pada impor beras bisa ditekan,” tuturnya.
Produksi Beras Indonesia 10 Tahun Terakhir :
- 2014 : 41,18 juta ton
- 2015 : 43,82 juta ton
- 2016 : 46,13 juta ton
- 2017 : 47,30 juta ton
- 2018 : 31,42 juta ton
- 2019 : 31,31 juta ton
- 2020 : 31,36 juta ton
- 2021 : 31,33 juta ton
- 2022 : 31,54 juta ton
- 2023 : 31,10 juta ton. [Prc]