JAKARTA − Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga pengamat ekonomi Didin S Damanhuri menyatakan jutaan orang yang hadir dalam kampanye akbar paslon presiden Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) karena rakyat merasa terjadi ketidakadilan dan pembangunan salah arah. Karena itu perlu dikoreksi.
Didin menyampaikan jutaan massa pendukung AMIN di JIS dan di luar stadium tetap semangat untuk mengikuti kampanye terakhir Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
“Saya butuh dua jam dengan jalan kaki dari kendaraan sampai ruang VIP JIS. Dari Bus kami tumpangi, terpaksa keluar karena semua jalan penuh dengan kendaraan mobil dan motor. Konon macetnya sampai Ancol,” bebernya, Sabtu (10/2).
Dia melanjutkan para perjuang perubahan ini ada yang sudah sampai JIS Jumat subuh. Jumat sepanjang hari hingga sabtu subuh. Ada yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Jatim, Jateng, Banten, Jabar dan tentu Jabodetabek.
“Mereka keluar dengan biaya sendiri, menyewa puluhan sampai ratusan bahkan ribuan bus , kereta api hingga kendaraan pribadi, motor bahkan ada yang memakai sepeda dari daerah dan Jakarta.”
“Saya juga bertemu dengan orang-orang yang menggunakan kursi roda dan emak-mak yang sudah sepuh. Meski berjalan kaki berdesakan, tapi tetap tertib dan saling tolong jika ada orang kesulitan,” sambung Didin.
Ketika ditanya apa makna sosiologis dari jutaan massa yang hadir penuh keikhlasan dalam kampanye akbar AMIN di JIS? Didin yang hadir langsung di JIS menjelaskan fenomena itu secara sosiologis, dan sebagai pengamat, dia menyingkap bahwa jutaan massa yang hadir penuh keikhlasan dalam kampanye akbar AMIN di JIS tersebut hanya ingin satu kata, Perubahan!.
Diberitakan sebelumnya, menurut Didin S Damanhuri, ada tiga faktor penting fenomena sosiologis yakni, Pertama, katanya, nampaknya istilah perubahan mewakili phrase dari massa Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) yang merasakan selama ini berbagai ketidakadilan dan salah arah pembangunan telah dibuat secara sadar dengan tujuan mengekalkan kekuasaan rezim.
“Hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah yang bukan untuk kepentingan rakyat tapi untuk kepentingan oligarki atau dinasti politik yang itu secara jelas menyengsarakan rakyat banyak,” kata peniliti ekonomi senior Indef itu.
Ini, tambahnya, juga diperparah oleh proyek raksasa food estate yang tidak melibatkan petani dan merusak lingkungan. Di masa kampanye, katanya, malah secara vulgar rakyat menyaksikan politisasi bansos, dan program hilirisasi yang ugal-ugalan yang tidak menguntungkan perekomian nasional.
Didin S Damanhuri menambahkan munculnya Anies Baswedan sebagai capres dan Muhaimin Iskandar, sebagai cawapres yang penuh dengan macam-macam modus hambatan dan ancaman, tapi akhirnya selamat hingga daftar ke KPU RI.
Lebih jauh lagi, di era kampanye, Anies yang sukses besar memimpin DKI Jakarta, tampil bak pemimpin baru yang ‘genuine’ (asli), cerdas dan retorika pas mengena, tidak berlebihan tapi memukau semua jenis generasi, babby boomers, X, Y hingga Z.
“Kampanye di banyak daerah yang selalu membludak, gaya kampanye Desak Anies yang digemari anak muda hingga puncaknya di JIS Jakarta, itu memberikan gaya dan genre baru dalam kampanye.”
“Anies Baswedan memberikan harapan baru bagi rakyat yang selama 10 tahun rezim Jokowi tidak kita temui, yang terlihat minim narasi. Malah, lebih parah omongannya sering berubah, tidak bisa dipegang,” sambungnya.
Bahkan, tambahnya, dalam salah satu pidatonya ada yang mengkualifikasikan bahwa konon kemampuan pidato Anies baik dalam substansi maupun retorika sama bahkan melebihi Bung Karno.
“Sementara kemampuan teknokratisnya mirip pak Harto. Ini sangat mengagumkan dan belum ada duanya” puji Didin.
Pendamping Anies yakni Muhaimin Iskandar yang juga Ketua Umum PKB, tambahnya, melengkapinya sebagai figur yang mempunyai massa besar Nahdliyin (NU) serta kemampuan organisasi yang mumpuni.
Ketiga, jelas Didin, sentimen persaingan antar paslon yang mengusung Perubahan versus Keberlanjutan, rupanya memantik hingga ke akar rumput.
Kata Didin, sebelumnya diperkirakan isu Perubahan lawan Keberlanjutan hanya milik elite saja. Tetapi, massa AMIN di JIS yang jutaan dan umumnya banyak yang berasal dari rakyat ternyata sangat merasakan nuansa kebutuhan perubahan.
“Apakah nanti massa akan memenangkannya dalam Pilpres 14 Februari? Banyak kalangan memprediksi bahwa Pilpres 2024 akan berlangsung dua putaran dan AMIN salah satunya. Meski ada yang terus mendesakkan slogan tentang satu putaran.”
“Mudah-mudahan dugaan kuat akan adanya kecurangan, dapat di counter failing balance oleh semua pihak termasuk oleh Bawaslu,” demikian Didin S Damanhur. [Kba]