PARADOKS “KOMEDI OMON” & SA’ID DIDU

 

PARADOKS “KOMEDI OMON” & SA’ID DIDU

Oleh : MN LAPONG (Presedium PRRI)

ita semua tahu sudut pandang Paradoks ke Indonesiaan sejak awal sudah diwacanakan sebagai visi Prabowo Subianto dalam menatap Indonesia kedepan, dimaksudkan menjadi magnit daya tarik buat promosi dari kadindat Capres Prabowo Subianto. Sekarang menjadi rame kembali di munculkan publik setelah sang kadindat Capres menjadi Presiden 2024, walau sebelumnya berkali kali kalah dalam kontestasi Copras Capres ala Indonesia.

Sekalipun, saya berani mengatakan apa yang diupayakan Prabowo dalam bukunya yang menjadi visinya sebagai magnit penarik dalam pemilihan Presiden, dipastikan tidaklah menjadi penyebab utama ketertarikan orang memilihnya menjadi Presiden. Saya berani mengatakan ini 100 Milyar Persen (meminjam istilah Simon H Sianipar pakar forensik) Rakyat Indonesia memilih Prabowo menjadi Presiden itu bukan karena visi dari kadindat Presiden dalam buku Indonesian paradoksnya. Ada faktor lain, yakni faktor “democrazy”. Tidak percaya silahkan uji dalam survey!

Saya tertarik mengulit cerita paradoks ini kembali setelah saya melihat keraguan publik, termasuk saya atas sikap Prabowo setelah 100 hari kerja Prabowo, makin hari menunjukkan “paradoks sebaliknya” atau “Paradoks Asli melahirkan Paradoks Kw.” yang membuat kita kian ragu atas niat awal Prabowo ngegas programnya kepemerintahannya melalui visi “Indonesian paradoks”-nya

Ada dua hal fakta yang menjadi fenomena atas keraguan Publik terhadap Prabowo Subianto pertama, kritik demo massif mahasiswa dalam tema Indonesia gelap & UU TNI. Kedua, kritik Bocor Alus Tempo atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam berbagai hal, yang berbuah kiriman Kepala Babi kepada Redaksi Majalah Tempo.

Menarik untuk saya kemukakan soal Podcast Said Didu baru baru ini, orang yang pernah ikut serta dalam TIM Pemenangan Prabowo 2019, Said Didu tetap bersemangat membela Prabowo bahwa apa yang dinarasikannya tetap on the track, Said Didu mengemukakan bahwa pertama, Prabowo akan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat dari tangan Oligarki. Kedua, Agar Penguasaan Ekonomi kembali Ketangan Rakyat dari penguasan tangan Oligarkhi.

Bahwa hal tersebut disampaikan oleh Said Didu tentu menjadi menarik sebab dialah sosok pelaku sesungguhnya, sebagai “perjuang” pembela rakyat sekaligus “pengeritik” atas situasi Indonesia hari ini, dan menjadi relevan seperti yang telah menjadi visi paradoks Prabowo terhadap 2 hal yang disampaikannya di atas.

Said Didu ingin menegaskan kembali tentang komitmen Prabowo atas 2 hal tersebut, sekaligus secara terbuka mengajak kita untuk mengawal dan mendorong pencapaian 2 tujuan Presiden Prabowo tersebut dalam melawan kejahatan Oligarkhi.

Namun apa yang disampaikan Sa’id Didu Sahabat saya ini, mengingatkan saya akan kekecewaan H. Agus Salim dalam kebijakan Kolonial Belanda atas perlakuannya kepada Pribumi Nusantara. H Agus Salim ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih “Komedi OMON” yang disensor” dari sebuah Parlemen Gadungan. Usai melakukan kritiknya H Agus Salim lantas keluar dari Volksraad.

Peran dan tekad Sa’id Didu sang Manusia Merdeka dalam menjalankan misionnya untuk NKRI, dari dua posisi yang berbeda sekaligus, yakni perang melawan kejahatan Oligarkhi terhadap penguasan ekonomi dan kedaulatan rakyat oleh Oligarkhi serta Peran mengawal dan mendorong Pemerintahan Prabowo melawan Oligarkhi terhadap ketamakan atas penguasaan ekonomi dan manipulasi kedaulatan rakyat. Tentu Kita berharap menunggu hasil yang baik ?

Kita semua mendoakan Semoga Sa’id Didu Sahabat saya ini tidak mengalami kekecewaan seperti yang ditelan pahit sang tokoh bangsa H Agus Salim yang mengalami “Komedi OMON” dari pemerintah kolonial Belanda. Dan apa yang terjadi hari ini di NKRI juga tidak berlanjut menjadi sekedar “Paradoks Komedi OMON” dari seorang Presiden Prabowo Subianto, sebab tentu akan sangat mengecewakan Sa’id Didu sang tokoh Manusia Merdeka.

Percetakan Negara, Rabu 2 April 2025