Menapak Saat-saat Terakhir Rezim (6): Prabowo, Para Pembunuh dan Perang di Antara PKI Gaya Baru
Sri-Bintang Pamungkas
rabowo Subianto kabarnya mau diresmikan KPU sebagai pemenang Pilpres 24. Pilpres 24 yang didasarkan pada UUD 2002 tentu saja adalah karya PKI Gaya Baru yang terus berusaha menghancurkan Republik Proklamasi 1945. Semua Capres/Cawapres 24, sadar atau tak sadar, adalah mereka yang terindikasi PKI Gaya Baru.
PKI Gaya Baru sendiri lahir bersamaan dengan Pemberontakan PKI pada 30 September 1965 yang dibuat bersama-sama para Negara Kapitalis Barat dan Komunis RRC, sekalipun Jenderal Soeharto berhasil memadamkan pemberontakan itu…
Pada peristiwa yang lain, Prabowo yang adalah menantu Soeharto divonis oleh para Jenderal TNI, sebagai Otak Penculikan dan Pembunuhan beberapa aktivis yang beroposisi terhadap Soeharto. Dia pun dipecat dengan “tidak hormat” dari TNI.
Sehingga menjadi aiblah bagi Indonesia, seluruh Rakyat, Bangsa dan Negaranya, yang penduduknya mayoritas Muslim terbesar di Dunia… sekiranya Prabowo menjadi Presiden. Apalagi dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, bahwa maksud dibentuknya Pemerintah adalah untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia…
Tidak mengherankan kalau Bowo dimenangkan, karena Rezim PKI Gaya Baru menggiring para Oligark, Konglomerat Cina, para Akademisi, Politisi, Aktivis serta Rakyat yang Miskin dan Buta Politik untuk ikut mendukung Prabowo. Republik Proklamasi 1945 ini seakan-akan sudah dikuasai oleh PKI Gaya Baru… Dan dengan pengawasan ketat pula oleh negara-negara Kolonialis Asing yang tidak menghendaki UUD 1945 berlaku kembali di Negeri ini.
Memang di Dunia, bukan hal yang baru dan aneh seorang Presiden sekaligus adalah Pembunuh. Presiden Marcos Jr yang sekarang menjadi Presiden Filipina adalah anak Presiden Marcos Sr yang membunuh Capres Aquino. Presiden Alberto Fujimori bertanggungjawab atas pembunuhan ratusan rakyat Peru. Presiden Bush Jr adalah pembunuh para Raja Taliban dari Afghanistan, dan Presiden Sadam Husein dari Irak. Bahkan Presiden Obama adalah otak pembunuhan terhadap Presiden Moamar Kadhafi dari Libya… dan Osama bin Laden…
Siapa sebenarnya Prabowo Subianto?
Dia anak Soemitro Djojohadikoesoemo, Profesor, Ahli Ekonomi Universitas Indonesia, yang berkiblat ke sistim Ekonomi Liberal dan Kapitalis macam Amerika Serikat dan Eropa Barat. Dia melahirkan para Teknokrat Orde Baru macam Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Moh. Sadli, Emil Salim dan lain-lain, mereka yang dijuluki sebagai tokoh-tokoh Mafia Berkeley Indonesia.
Konon Bowo diambil anak oleh kakak Soemitro, yaitu Soebianto, agar tidak mengikuti agama Nasrani yang dianut Ibu dan saudara-saudaranya.
Sedang Soemitro, sekalipun mengaku dari Partai Sosialis Indonesia pimpinan tokoh kemerdekaan Sutan Sjahrir, tapi bukan seorang sosialis sejati. Soemitro melarikan diri ke Sumatera, bergabung dengan PRRI-Permesta yang didukung Amerika Serikat dan Sekutunya untuk melawan Soekarno dan Republik Indonesia Proklamasi 45.
Soemitro memegang keuangan PRRI-Permesta sebagai Menteri Keuangannya. Setelah pemberontakan PRRI-Permesta dipadamkan oleh bom-bom Jenderal Nasution, Soemitro beserta keluarganya lari ke Inggris, konon sambil membawa uang PRRI-Permesta…
Mereka meminta menjadi Warga Negara Inggris. Pucuk Dicinta Ulam Tiba: Segera MI-6 dan CIA “menggarap” Soemitro untuk diajak bersama menjatuhkan Soekarno. Soekarno pun jatuh dalam Peristiwa G-30-S/PKI.
Soemitro dan keluarganya kembali ke Indonesia, karena dipanggil Soeharto, dan diberikan kembali kewarganegaraannya. Soemitro diberi jabatan Menteri Perdagangan, lalu Menteri Riset. Soeharto mengambil Prabowo yang masuk TNI dan menjadikannya menantunya; kemudian dijadikannya pula Danjen Kopassus.
Setelah dipecat dari TNI Prabowo memasuki dunia politik dengan mendirikan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) yang Garis Politiknya adalah Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi setelah dua kali gagal terpilih menjadi Presiden RI, Bowo jatuh dalam pelukan Jokowi dan memilih bergabung dengan Rezim PKI Gaya Baru.
Dengan mengikuti Pilpres 24, kira-kira langkah Bowo ini akan membawanya ke kursi Kepresidenan. Sekalipun begitu, pergumulan terjadi di antara para Capres, yang kesemuanya adalah kelompok PKI Gaya Baru pengusung UUD 2002.
Kedua Capres lain menolak kemenangan Prabowo dengan alasan Pilpresnya Curang. Padahal seluruh Rakyat Indonesia tahu, bahwa sejak jaman Soeharto setiap Pemilu/Pilpres yang didasarkan pada one man-one vote pastilah di dalamnya terkandung kecurangan. Selama masih ada puluhan juta masa masif yang Miskin, Buta Politik dan Tidak Merdeka, mereka ini akan menjadi sasaran kecurangan para bandit, konglomerat, bandar judi politik, para oligark, serta Rezim yang tergabung dalam kelompok khianat PKI Gaya Baru.
Sama seperti Bowo, kedua Kandidat lain, yang Keturunan Arab dan yang Pribumi Sontoloyo Koruptor Kakap, seharusnya tidak layak menjadi Capres. Mereka mengadukan kecurangan itu ke DPR dan Mahkamah Konstitusi… Padahal kedua Badan tersebut adalah produk-produk UUD 2002, alias kelompok PKI Gaya Baru juga. Oleh sebab itu siapa pun yang “dimenangkan” dalam Pergulatan tersebut, PKI Gaya Baru juga yang akan tampil sebagai “pemenang”. Tugas utama mereka adalah menghancurkan Republik Indonesia Proklamasi 1945.
Kecurangan dalam Pilpres tidak akan terjadi, apabila Pilpres dilakukan di MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara yang berdasarkan UUD 1945. Sedang dalam Pemilu, masa masif dalam kelompok “miskin” dan “buta politik” tidak usah ikut pemilihan. Melainkan, mereka diwakili dalam Utusan Golongan…
Wahai Rakyat Indonesia, jangan hiraukan Pilpres 24! Pilpres macam begitu harus Batal Demi Hukum. Selamatkan Bangsa Indonesia, Tanah Air Indonesia dan Bahasa Indonesia kita dari rongrongan PKI Gaya Baru. Hancurkan PKI Gaya Baru yang didukung para Kolonialis dan Imperialis Asing. Ulangi Mei 98…! Jatuhkan Rezim PKI Gaya Baru!
Jakarta, 17 Ramadhan 1445; atau 28 Maret 2024
@SBP
Hizbullah Indonesia