JAKARTA − Ketua Tim Sinkronisasi Prabowo-Gibran, Sufmi Dasco Ahmad meluruskan berita rencana pemerintahan baru untuk mengerek rasio utang menjadi 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurutnya, wacana yang disampaikan Adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo dalam wawancara dengan Financial Times tersebut memiliki maksud bahwa pemerintah ke depan tidak akan menaikkan utang tanpa menaikkan pendapatan negara.
“Pemerintah tetap teguh pada komitmennya terhadap pengelolaan fiskal yang berkelanjutan dan hati-hati,” kata Dasco dalam keterangan resminya, Kamis (11/7/2024).
Dasco menegaskan bahwa pemerintahan baru akan tetap menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 3% dari PDB.
Begitu juga dengan rasio utang. Dia menekankan bahwa rasio utang pada tahun mendatang akan berada pada kisaran 30% terhadap PDB.
“Dan melanjutkan disiplin fiskal yang telah ditetapkan pada masa pemerintahan Jokowi,” ujar Dasco.
Ia menyebut disiplin fiskal tersebut akan dijaga oleh pemerintahan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Hal itu dilakukan demi menjaga investasi di sektor swasta yang menurutnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Menumbuhkan kebijakan lingkungan yang sehat dan pro-bisnis sangatlah penting,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka suara terkait kabar yang menyebutkan Presiden Terpilih Prabowo Subianto berencana menaikkan rasio utang sebesar 50% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Itu bisa menjadi wacana saja [menaikkan rasio utang ke 50% terhadap PDB],” ujar Airlangga kepada awak media usai acara One Map Policy Summit 2024 di Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Hal itu, ungkap pernyataan saudara kandung Prabowo, sekaligus konglomerat Hashim Djojohadikusumo dalam wawancara dengan Financial Times yang mengonfirmasi adanya rencana mengerek rasio utang Indonesia hingga 50% dari PDB pada pemerintahan baru nanti.
Airlangga yang merupakan Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran mengklaim bahwa saat ini pihak pemerintahan baru tidak membicarakan rencana tersebut.
Ia menegaskan rasio utang pemerintah baru akan tetap berada sekitar 40% terhadap PDB dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap mematuhi batas 3%.
“Defisit pertama tetap di bawah 3% dan terkait dengan rasio utang tetap sekitar 40%,” tutup Airlangga. [Az]