JARI : “Menjinakkan Konflik, Merawat Perselisihan”
Sore hari di kedai kopi sederhana di Kota Palembang. Udara lembap khas Sumatera Selatan. Indra Darmawan, seorang intelektual muda yang sedang meneliti tentang dinamika politik lokal, bertemu dengan Dr. (C) Ade Indra Chaniago, yang baru saja selesai mengajar.
Indra Darmawan: (sambil menyeduh kopi) Uda, ada satu kalimat yang mengganggu pikiran saya: “Demokrasi tidak lebih dari sekadar bentuk pemberian ruang bagi konflik.” Kalau benar begitu, lalu di mana letak cita-cita kita untuk mencapai ketertiban? Bukankah kita lelah dengan pertikaian?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, meletakkan tas berisi kitab dan buku) Bro, pertanyaanmu itu adalah pertanyaan klasik yang sudah bergema dari masa Hobbes hingga sekarang. Hobbes benar ketika dia melihat manusia punya potensi “bermusuhan”. Sebagai orang yang hidup di Inggris yang porak-poranda perang saudara, dia realistis. Tapi sebagai seorang Muslim, saya selalu ingat bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lita’arafu (saling mengenal). Kata kuncinya bukan menghilangkan perbedaan, tapi mengelola perbedaan itu.
Indra Darmawan: Nah, itu dia, Uda. Hobbes menyebut kontrak sosial sebagai jalan keluarnya. Tapi di teks itu disebutkan bahwa konflik tidak dihilangkan, hanya diatur. Otoritas pusat menjadi penengah. Di Palembang, kita punya adat dan ulama sebagai penengah. Apakah itu bentuk kontrak sosial ala Hobbes?
Ade Indra Chaniago: Secara konsep mirip, tapi secara filosofi berbeda. Hobbes punya pandangan pesimis bahwa manusia pada dasarnya bermusuhan. Dalam Islam, an-nafsu ammarah bis su’ (nafsu itu cenderung pada kejahatan) memang ada, tapi manusia juga diberi potensi nafsu lawwamah (yang kritis) dan mutmainnah (yang tenang). Kontrak sosial ala Hobbes itu untuk menghindari “perang semua melawan semua”. Sementara dalam konstruksi masyarakat Palembang, otoritas baik itu sultan dulu, atau ulama sekarang hadir untuk menjaga silaturrahim agar konflik yang terjadi adalah konflik yang membangun, bukan menghancurkan. Machiavelli dalam bacaanmu itu menyebut konflik antara Senat dan Rakyat Roma membuat Roma kuat. Itu relevan di sini: selama konflik itu tidak memutus tali persaudaraan, ia bisa menjadi energi vital.
Indra Darmawan: Berbicara tentang Machiavelli, saya terpikir pada konsep “faksi” yang dikhawatirkan Madison dan Rousseau. Di Palembang, akhir-akhir ini kita melihat banyak sekali “faksi” dalam politik praktis. Kadang pemilihan kepala desa atau walikota terpecah begitu keras. Menurut Uda, kapan konflik itu berubah dari sesuatu yang sehat menjadi ancaman?
Ade Indra Chaniago: Madison menjawabnya dengan brilian: perbanyak lapisan konflik agar tidak ada satu blok pun yang dominan. Tapi dalam konteks kita, ancaman terjadi ketika konflik tersebut dimoralisasi dan diprivatisasi. Saya setuju dengan Carl Schmitt, meskipun saya tidak setuju dengan politik Nazi-nya, bahwa ketika kita mengubah lawan politik menjadi “musuh moral” atau “monster”, maka segala cara jadi halal. Di Palembang, ketika ada perbedaan pilihan dalam pemilihan gubernur, lalu tetangga atau saudara disebut “kafir” atau “sesat” karena pilihan politiknya, di situlah konflik menjadi destruktif. Machiavelli menyebutnya varian buruk dari konflik. Sebagai ulama, saya berkewajiban meluruskan: Ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam umrah (urusan duniawi) adalah rahmat, bukan laknat.
Indra Darmawan: Bicara soal moralisasi konflik, teks bacaan tadi mengutip Claude Lefort bahwa dalam demokrasi, “tempat kekuasaan kosong”. Artinya, tidak ada satu orang pun yang bisa mengklaim mewakili kebaikan bersama secara mutlak. Dalam Islam, kan ada konsep Khilafah atau kepemimpinan yang mengayomi. Apakah konsep “kekuasaan yang kosong” itu bertentangan dengan pandangan ulama?
Ade Indra Chaniago: Menarik sekali Lefort. Dalam konteks keislaman, khususnya di Indonesia dan Palembang, kita tidak menganut sistem teokrasi di mana seorang imam mengklaim mewakili Tuhan secara mutlak. Itu bukan ajaran Islam Sunni yang kita anut. Dalam Fiqh Siyasah, kekuasaan itu adalah amanah. “Tempat kekuasaan kosong” bisa diartikan bahwa tidak ada satupun elite yang punya hak ilahi untuk menguasai. Makanya dalam Islam ada syura (musyawarah). Musyawarah adalah bentuk pelembagaan konflik. Chantal Mouffe yang disebut di teks itu menyebut istilah agonisme lawan dalam kompetisi, bukan musuh yang harus dibunuh. Itu persis esensi musyawarah. Kita tidak mencari konsensus yang dipaksakan (ijma’ palsu), tapi kita menghormati bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan.
Indra Darmawan: Ah, Mouffe ini yang paling menarik bagi saya, Pak. Dia bilang bahwa politik yang terlalu mengedepankan akal sehat dan konsensus justru berbahaya karena konflik menjadi membusuk di bawah permukaan. Larangan burqa di Eropa adalah contohnya. Di Palembang, bagaimana kita menerapkan “setuju untuk tidak setuju” dalam bingkai keislaman?
Ade Indra Chaniago: Ini kunci dari diskusi kita. Sebagai Muslim, saya melihat Al-Qur’an sudah memberikan panduan: Lakum dinukum wa liyadin (Untukmu agamamu, untukku agamaku). Itu adalah bentuk “agree to disagree” yang sangat matang. Di Palembang, kita punya kearifan lokal “Baso Palembang” dan “Bersatu dalam perbedaan”. Ketika ada konflik terkait ruang publik misalnya soal kebijakan pemerintah kota atau pembangunan masjid seringkali kita ingin cepat-cepat “selesai” dengan memaksakan satu suara. Akibatnya, seperti peringatan Mouffe, ketidakpuasan itu membusuk dan meledak jadi fitnah di media sosial atau gosip di pasar. Mengelola demokrasi itu seperti mengelola Fikih Ikhtilaf (fikih perbedaan). Kita harus mengakui bahwa ada pihak yang menginginkan ketegasan (seperti elit di Senat Machiavelli) dan ada yang menginginkan kebebasan (seperti rakyat). Tugas kita ulama, akademisi, tokoh adat adalah memastikan bahwa gesekan antara keduanya melahirkan qanun (aturan) yang baik, bukan menghancurkan satu sama lain.
Indra Darmawan: Jadi, Uda, apakah dengan memahami demokrasi sebagai ruang konflik, kita tidak sedang mendekati apa yang dikhawatirkan Hobbes? Bahwa pada akhirnya, kita hanya mencari otoritas yang kuat untuk memutuskan?
Ade Indra Chaniago: Tidak, Adindaku. Hobbes mencari Leviathan (raksasa penguasa). Tapi dalam tradisi Islam dan budaya Melayu-Palembang, kita mencari Mufakat. Kita belajar dari Hobbes bahwa kita butuh aturan agar konflik tak brutal. Kita belajar dari Machiavelli bahwa gesekan kadang perlu untuk menjaga kebebasan. Dan kita belajar dari Mouffe bahwa kita harus berani mengakui perbedaan tanpa harus saling menghakimi. Sebagai ulama, saya menambahkan: Tasamuh (toleransi) bukan berarti kita tidak punya pendirian. Toleransi adalah keberanian untuk memegang pendirian kita, tetapi tetap mengakui hak orang lain untuk berbeda. Konflik akan menjadi vital jika kita semua sepakat bahwa kita berkompetisi (agon) untuk kebaikan masyarakat, bukan untuk membunuh karakter satu sama lain. Jadi, jawabannya bukan menghilangkan konflik, tapi mendewasakannya.
Indra Darmawan: Mendewasakan konflik… itu kalimat yang bagus, Pak. Saya rasa kita di Palembang butuh lebih banyak diskusi seperti ini. Terima kasih, Uda.
Ade Indra Chaniago: Sama-sama, Bro. Mari kita jadikan perbedaan itu sebagai rahmat, bukan petaka. Ingat pesan Thomas Hobbes: ketakutan itu lahir bersama kita. Tapi sebagai orang beriman, kita tahu bahwa di balik takut, ada harapan. Dan harapan itu dirawat lewat dialog, bukan lewat kebisuan. Di 1 Syawal 1447 Hijriah. Momen yang tepat untuk merenungkan semua yang kita bicarakan tadi tentang konflik, perbedaan, dan bagaimana kita kembali kepada fitrah.
Indra Darmawan: Ya betul, Uda. Saya jadi ingat, Idul Fitri sejatinya adalah kemenangan atas hawa nafsu, termasuk nafsu untuk selalu merasa benar sendiri dan memusuhi yang berbeda. Kalau kita tarik ke diskusi tadi, Idul Fitri itu seperti “kontrak sosial” spiritual, ya? Di mana kita sepakat untuk saling memaafkan demi menjaga kerukunan.
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali, Adindaku. Idul Fitri adalah i’ādah kembali ke keadaan suci. Dalam politik dan kehidupan sosial, kita sering lupa bahwa konflik yang sehat haruslah berujung pada rekonsiliasi. Makna “kembali” itu bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat, tetapi membersihkan niat dari kebencian. Seperti yang kita sepakati tadi, setuju untuk tidak setuju harus dibungkus dengan saling memaafkan. Itulah esensi dari minal ‘aidin wal faizin.
Indra Darmawan: Kita sampaikan pesan Idul Fitri untuk teman-teman di komunitas Jaringan Aliansi Rakyat Independen Indonesia (JARI) yang banyak anggotanya di sini (SumSel), juga yang tersebar di seluruh tanah air. Mereka selalu haus akan nilai-nilai kebangsaan yang toleran.
Ade Indra Chaniago: Dengan senang hati, Adinda. Ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk menyampaikan rasa syukur. Marilah kita sampaikan bersama.
Pesan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah
Indra Darmawan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kepada seluruh anggota komunitas JARI di mana pun berada, juga kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Palembang yang kami cintai.
Momen 1 Syawal 1447 H ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah rahmat, dan konflik yang kita kelola dengan adab akan melahirkan kekuatan, bukan kehancuran. Seperti yang telah kami diskusikan, demokrasi dan kehidupan bermasyarakat kita butuh ruang untuk berselisih secara sehat, namun tetap berpijak pada nilai silaturrahim.
Dari diskusi sore ini, kita belajar bahwa “mendewasakan konflik” adalah jalan tengah antara anarki dan otoritarianisme. Di hari yang fitri ini, mari kita bersihkan hati dari dendam politik, dari prasangka yang memecah belah, dan mari kita jadikan Palembang serta Indonesia sebagai ladang agonisme yang sportif—bersaing untuk kebaikan, bukan saling membinasakan.
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin.
Dr. Ade Indra Chaniago:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Saya, Ade Indra Chaniago, ikut mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepada komunitas JARI yang dinamis, kepada seluruh warga Palembang yang menjunjung tinggi adat lembaga dan uluran tangan, serta kepada seluruh masyarakat Indonesia:
Idul Fitri adalah bukti bahwa kita mampu menahan amarah selama sebulan, dan itu harus terus kita latih sepanjang tahun. Dalam politik dan kehidupan sosial, tidak ada kebaikan bersama yang lahir dari kebencian. Mari kita jadikan semangat syura (musyawarah) dan tasamuh (toleransi) sebagai panduan kita dalam menghadapi tahun yang akan datang.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengembalikan kita kepada fitrah yang bersih, dan menjadikan negeri kita khususnya Palembang yang bari ini sebagai kota yang penuh berkah, di mana perbedaan menjadi perhiasan, bukan perpecahan.
Marhaban ya Syawal, selamat merayakan kemenangan sejati.
Indra Darmawan: Terima kasih, Uda. Diskusi ini sangat berharga. Saya akan sampaikan pesan ini kepada teman-teman JARI.
Ade Indra Chaniago: Sama-sama, Adinda. Semoga obrolan sederhana kita ini bermanfaat. Selamat Hari Raya, jangan lupa bersilaturahmi ke rumah saya nanti.
(Mereka berjabat tangan, meninggalkan kedai dengan senyum dan harapan baru untuk Palembang dan Indonesia yang lebih rukun.)
Jumat, 20 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan
Dosen Ilmu Sosial Politik, Pengamat, aktivis 98 – Pengamat, Penulis, dan aktivis 98