Jamu Bukan Obat yang Dapat Menyembuhkan Penyakit?

 JAKARTA − Jamu tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Popularitasnya kini bahkan sudah merambah ke kancah internasional, setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia oleh UNESCO.

Bagi sebagian orang, mengkonsumsi jamu, seperti kunyit asam, atau beras kencur, sudah menjadi kebiasaan rutin. Hal ini seiring dengan khasiat atau manfaatnya bagi kesehatan.

Namun tahukah anda bahwa jamu tidak sama dengan obat yang memiliki efek menyembuhkan?. Jamu justru tidak bisa menyembuhkan sebuah penyakit.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah podcast Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum lama ini. Dalam podcast berjudul ‘Jamu Aman Tanpa Bahan Kima Obat (BKO)’ disebutkan, jamu tidak bisa dikatakan sebagai obat yang menyembuhkan penyakit.

“Jamu bukan seperti obat berbahan kimia yang efeknya instan. Karena jamu terbuat dari bahan alami,” kata Nurvika Widyaningrum, Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha, Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM dikutip, Sabtu (6/7/2024).

Jika ada masyarakat yang merasakan khasiat jamu seperti obat yang dapat secara langsung menyembuhkan penyakit, menurutnya perlu dicurigai. “Jangan-jangan ada BKO-nya,” katanya.

Jika seseorang merasakan pegal linu kemudian pegalnya hilang setelah minum jamu, Nurvika mencurigai jamu tersebut ditambahkan Paracetamol. Padahal, lanjut Vika, dalam peraturan BPOM tidak diperbolehkan mencampur bahan kimia ke dalam jamu tradisional.

“Jamu tidak boleh mengandung BKO. Penambahan BKO ke jamu secara suka-suka justru bisa berbahaya,” kata Nurvika, memberi pesan.

Mengkonsumsi jamu yang mengandung BKO dalam jangka panjang, menurut Nurvika, juga berbahaya. “Efek panjangnya bisa terkena penyakit ginjal, jantung dan sebagainya,” ujarnya.

BPOM berpesan kepada pelaku usaha jamu tradisional untuk tidak menambahkan BKO ke dalam produknya. “Kita tidak mau orang Indonesia sakit karena (minum) jamu,” ujarnya. [Er]