Konsep Tasawuf Cinta Ibnu Arabi – Ibnu Farid
inta Ilahi (al-Hubb al-Ilahi)
Sejarah tasawuf menyebutkan bahwa tradisi kehidupan sepiritual dalam Islam dimasa awal munculnya adalah ungkapan rasa zuhud yang menyelimuti diri kaum sufi.Pada tahun sekitar 40-110 H, aliran tasawuf telah menyebar ke Basrah, Kufah danMadinah. Pada masa itu, hal yang mendorong rasa zuhud para sufi lahir dari rasa takut akan neraka dan keinginan untuk masuk surga. Salah satu tokohnya adalah Hasan al-Basri (21-110 H). Sya’rani melukiskan Hasan al-Basri sebagai orang yang selalu diselimuti rasa takut sampai seakan-akan neraka diciptakan hanya untuknya.
Seiring berjalannya waktu, tradisi kehidupan spiritual mengalami lonjakan-lonjakan. Kehidupan spiritual tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut akan neraka dan keinginan masuk surga, akan tetapi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah SWT. Cinta tanpa mengharapkan imbalan kecuali mendambakan untuk melihat Dzat Allah SWT dan keindahan-Nya yang abadi, dan menjadikan cinta ini sebagai tujuan hidup.
Rabiah al-Adawiyah, yang telah membawa rasa cinta ini ke dalam tradisi kehidupan spiritual Islam. Hal ini senada dengan pendapat Massignon yang mengatakan bahwa Rabiah al-Adawiyah telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi tradisi kehidupan spiritual Islam, menggunakan kata cinta (al-hubb) dengan tegas dan lantang untuk mengungkapkan rasa rindu dan cinta Ilahinya dengan berlandaskan pada al Quran (QS al-Maidah: 53).
Pada masa Rabiah, banyak kaum sufi yang menyanyikan lagu cinta dan rindu, tapi tidak satupun dari mereka yang mendahului Rabiah dalam menggunakan kata cinta (al-hubb) secara jelas untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada AllahSWT, sebagaimana tertuang dalam syair Rabiah al-Adawiyah yang masyhur:
Uhibbuka hubbaini
“Hubb al hawa wa hubban liannaka ahlun lidzakaFa amma al-ladzi huwa hubb al hawa fa syughli bidzikrika ‘amman siwakaWa amma al-ladzi anta ahlun lahu fa kasyfuka li al-hajba hatta arakaFala al-hamdu fi dza wa la dzaka li walakin laka al-hamdu fidza wadzaka.”
Sepeninggal Rabiah, kaum sufi berbondong-bondong mengungkapkan rasa rindu dan cinta mereka dengan kata cinta yang jelas, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, al-Junaid, al-Muhasibi, Dzu al-Nun al-Mishri, Yahya Ibnu Mu’adz al-Rozi, selanjutnya disusul oleh al-Hallaj. Maka, lahirlah puisi-puisi cinta Ilahi sebagai karya sastra beraroma tasawuf dan filsafat yang tak ternilai, dirangkai oleh kaum sufi untuk mengungkapkan rasa rindu yang menyelimuti.
Dalam puisi-puisi tersebut, tak jarang ditemukan ungkapan kata tentang cinta, arak dan hal-hal lain yang berhubungan dengan keduanya, sehingga sulit untuk membedakan antara puisi orang yang sedang mabuk cinta kepada seorang manusia, mabuk arak dan mabuk cinta Ilahi. Hal inilah yang menyebabkan penyair-penyair sufi mendapatkan tuduhan-tuduhan miring yang sangat berlebihan.
Ibnu al-Farid misalnya, dituduh oleh orang-orang Eropa sebagai penyair yang gemar meminum arak dan mabuk-mabukan, sedangkan Ibnu Arabi dituduh oleh 6 tokoh-tokoh agama Islam sendiri sebagai orang yang fasik, kafir dan lain sebagainya. Ibnu Arabi dan Ibnu al-Farid mengikuti aliran cinta Ilahi yang diusung oleh kaum sufi sebelumnya dan dipelopori oleh Rabiah al-Adawiyah.
Teori cinta Ilahi Ibnu Arabi mengacu pada wahdat al-wujud nya. Ibnu Arabi menyampaikan rasa cintanya dalam syair-syair yang terkumpul dalam karyanya Turjuman al- Asywaq yang disusun ketika beliau berada di Mekah. Beliau menceritakan pertemuannya dengan seorang syaikh yang bernama Makinuddin Abi Syuja’ Zahir al-Asfihani. Al-Asfihani mempunyai seorang putri bernama Nidzam, ia sangat cantik wajah dan pekertinya, dan memikat hati Ibnu Arabi.
Kemudian ia merangkai sekumpulan syair untukmengungkapkan cinta Ilahinya.
Dalam syair-syair itu ia mengulang-ngulang nama, rumah, pekerti dan hal-hal lain yang berhubungan dengan gadis tersebut. Ibnu Arabi dalam Dazkhairu al-A’alaq syarh Turjuman al-Asywaq menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan sang gadis dengan kinayah untuk mengungkapkan cinta Ilahinya.
Terlepas dari perbedaan ulama seputar syair-syairnya dalamTurjuman al-Asywaq; apakah syair-syair tersebut sungguh ditujukan kepada Tuhannya ataukah kepada seorang gadis yang sangat menawan dan pernah memikat hatinya?.
Dalam al-Futuhat al-Makkiyah, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa seseorang yang sedang dilanda cinta Ilahi, ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan atas segala perbuatannya di dunia. Beliau berdalih bahwa orang yang sedang mabuk cinta akan hilang akalnya dan tidak mempunyai kekuatan untuk memilih mana yangbaik dan mana yang buruk, sedangkan jaza’ atau pertanggungjawaban adalah bagi hamba yang mempunyai akal dan kekuatan untuk menentukan pilihan. Orang yang sedang mabuk cinta Ilahi seperti kaum ahlu badr yang Allah SWT mengampuni dosa dan mengizinkan mereka untuk melakukan segala sesuatu sekehendak mereka.
Ibnu Arabi menambahkan bahwa orang yang sedang mabuk cinta Ilahi tak ubahnya seperti orang gila yang segala perbuatannya, baik itu perbuatan baik ataupun buruk tidak terkena hisab .
Sama halnya dengan Ibnu Arabi, Ibnu al-Farid juga merupakan penyair sufi berkebangsaan Arab penganut agama cinta Ilahi yang mewariskan sastra beraroma tasawuf dan filsafat. Memang secara kuantitas peninggalan Ibnu al-Farid tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan peninggalan para penyair dari Persia seperti Jalaluddin al-Rumi, Fariduddin al-‘Atthar atau Hafidz al-Syairazi. Tapi meskipun kecil secara kuantitas, peninggalan tersebut merupakan tradisi spiritual yang mampu menarik perhatian kalangan kaum sufi, sastrawan atau bahkan filosof baik dari timur maupun barat dari dulu sampai sekarang. Sekaligus sebagai sumbangan peradaban dari Arab untuk mengimbangi kekayaan sastra persia.
Adapun teori Ibnu al Farid dalam cinta Ilahi tercakup dalam dua kumpulan syairnya yang tersohor yaitu al-Ta’iyah al-Kubra (Nadzm al-Suluk) yang berjumlah tujuh ratus enam puluh satu syair, dan al-Mimiyah (al-Khumriyah). Dengan mengecualikan beberapa bait yang beraroma wahdat al-wujud dari syair Ibnu al-Fariddalam nadzm al-suluk, bisa dipastikan bahwa Ibnu al-Farid adalah seorang sufi yangteori cinta Ilahinya mengikuti aliran wahdat al-syuhud, karena Ibnu al-Farid tidak mengikuti retorika mantiq dan filsafat sebagaimana yang dilakukan Ibnu Arabi dalam sebagian besar karyanya – seperti membuat premis-premis kemudian mengambil konklusi, memberikan analisa-analisa filosofis dan mentakwil ayat-ayat al Quran dan hadits dengan berbagai metodologi interpretasi, agar sesuai dengan alirannya.
Ibnu al-Farid hanya berpasrah dan mengikuti arus cintanya, hilang dari dirinya sendiri dan darisegala sesuatu di sekitarnya sehingga tidak mampu melihat sesuatu kecuali melihat Allah SWT di dalamnya. Terkadang beliau melewatkan suatu masa sampai berhari-hari lamanya tanpa makan, minum dan bicara. Ia hanya terbaring seperti mayat dan matanya menatap tajam ke arah langit. Ketika tersadar dan mencapai fase fana, ia mulai menyampaikan dan melantunkan bait-bait al-Taiyah al-Kubra yang ia terima dari AllahSWT.
“Kilana mushallin wahidun sajidun ila haqiqatihi bi’l jam’i fi kulli sajdatin
Wama kana li shalla siwaya walam takun shalati lighairi fi ada’ kulli rak’atin.”
Dua bait di atas adalah ungkapan yang paling berani dan tajam dari Ibnu al-Farid dalamal-Taiyah al-Kubra, yang kemudian dijadikan bukti bagi “musuh-musuh”nya untuk mengatakan bahwa Ibnu al-Farid adalah penganut wahdat al-wujud.
Ibnu al-Farid membagi cinta Ilahi menjadi dua macam. Pertama, cinta seoranghamba kepada Tuhannya sebagaimana telah diuraikan di atas, dan diterangkan panjanglebar dalam al-Taiyah al-Kubra. Kedua, cintanya Allah SWT untuk diketahui (hubbullahi lian yu’rafa) yang diterangkan dalam al-Mimiyah.
Ibnu al-Farid dalam memaparkan cinta Ilahi jenis kedua berusaha mengajukan format hubungan antara cinta dan penciptaan alam, dan makhluk itu wujud karena adanya cinta. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam hadis qudsi yang berbunyi : “Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’rofa, fa khalaqtu al-khalqa fa bihi ‘arafuni”.
Menurut Ibnu al- Farid, Cinta disini adalah sumber kehidupan. Adapun hakikat cinta ini bukan sesuatu yang matrialistik, ada sejak zaman azali pada suatu alam, dan akan tetap ada sampai akhir nanti, karena ia abadi. Cinta ini tidak berdiri di atas sesuatu akan tetapi segala sesuatulah yang berdiri di atasnya.
Setelah pemaparan singkat tentang tradisi kehidupan sepiritual dalam Islam yang dimulai dari Hasan al-Basri, kemudian disusul Rabiah al-Adawiyah yang memunculkan gagasan tentang al-hubb al-Ilahi yang kemudian diikuti oleh kaum sufi setelahnya termasuk Ibnu Arabi dan Ibnu al-Farid.
Wahdat al-wujud (pantheisme) dan wahdat al-syuhud (panentheisme)
Menurut Ibnu Arabi dan IbnuFarid, Wahdat al Wujud dan Wahdat al Syuhud Wahdat al-wujud adalah teori yang mengatakan bahwa yang ada itu hanya satu yaitu wujud Allah SWT, tidak ada wujud yang hakiki selain wujud Allah SWT, segala sesuatu yang tampak oleh indra kita selain wujud Allah SWT adalah nihil dan sebatas khayalan yang muncul karena keterbatasan akal.
Adapun wahdat al-syuhud adalah suatu keadaan seorang sufi tidak lagi mampu melihat sesuatu kecuali wujud Allah SWT dengan tetap mengakui eksistensi wujud selain Allah SWT. Wahdatal-wujud ditetapkan oleh akal sehingga wahdat al-wujud bisa muncul dari semua orang, baik sufi atau tidak, berbeda halnya dengan wahdat al-syuhud yang merupakan fenomena khusus kehidupan spiritual dan hanya muncul dari seorang sufi.
Ibnu Arabi adalah bapak teori wahdat al-wujud (pantheisme). meskipun ide-ide tentang wahdat al-wujud sering dimunculkan para teosof sebelum Ibnu Arabi, namun ditangan Ibnu Arabi, teori wahdat al-wujud mencapai bentuk yang sempurna. Beliau mempunyai jasa besar karena telah menguraikan berbagai hal berkaitan dengan teori wahdat al-wujud terutama dalam dua karya agungnya yaitu al-Futuhat al-Makkiyah dan Fusus al-Hikam.
Teori wahdat al-wujud tidak pernah terpisah dari nama besar Ibnu Arabi. Meski demikian, Ibnu Arabi tidak pernah menyebutkan atau menulis secara jelas kata-kata wahdat al-wujud dalam karya-karyanya, justru Ibnu Timiyah-lah orang yangpertama kali menggunakan istilah ini.
Sepeninggal Ibnu Arabi, tidak seorangpun yang mampu berbicara tentang teori wahdat al-wujud kecuali ia di bawah pengaruh Ibnu Arabi atau menukil darinya atau hanya mengulang-ulang satu substansi dalam bentuk kalimat yang berbeda-beda. Hanya saja sejak masa kemunculan wahdat al-wujud-nya Ibnu Arabi sampai sekarang, banyak kalangan yang berusaha menafikan atau memisahkan wahdat al-wujud dari Ibnu Arabi dengan anggapan bahwa wahdat al-wujud adalah teori matrealistik dan sesat yang tidak mungkin muncul dari seorang wali Allah SWT.
Teori Ibnu Arabi bukanlah wahdat al-wujud matrealistis yang mengatakan bahwa wujud yang hakiki hanyalah alam yang tampak oleh indra kita, justru sebaliknya Ibnu Arabi mengatakan bahwa wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan al-Haq yang menampakkan dirinya dalam alam semesta, jadi wujud alam adalah sebatas bayang-bayang bagi wujudyang hakiki. Ibnu Arabi memandang bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah SWT. Dia wujud yang hakiki, wujud yang absolut, azali dan abadi.
Jadi, wujud yang hakiki hanyalah satu dan tak berbilang. Sedangkan fenomena berbilangnya sesuatu atau wujud dalam alam yang ditangkap oleh indra manusia hanyalah gambar-gambar atau tempat-tempat dimana sifat-sifat Allah SWT yang merupakan dzat Allah SWT sendiri menampakkan diri-Nya, atau hanya khayalan yang muncul karena keterbatasan indra dan akal. Maka, tidak ada perbedaan sama sekali antara Tuhan dengan Makhluk-Nya atau antara Pencipta dengan yang diciptakan kecuali dari sudut pandang saja.
Apabila dilihat dari sisi ke-Esaan-Nya, Dia adalah al-Haq, dan jika dilihat dari sisi berbilangnya, Dia adalah makhluk. Keduanya (al-Haq dan makhluk) adalah dua nama untuk satu hakikat.
Dalam kerangka wahdat al-wujud, Ibnu Arabi tidak mempercayai adanya cretion ex-nihilo (alam pernah diciptakan dari tidak ada pada suatu masa), yang ada hanya emanation artinya Allah SWT telah menampakkan segala sesuatu di alam dari wujud-Nya yang azali menjadi wujud yang nyata dan tampak. Ibnu Arabi pada sisi lain dinilai sebagai pengikut aliran wahdat al-syuhud, hal ini terbukti dari lampiran al-Futuhat al-Makkiyah (bab 252) atau dalam kitab al-Jalalah. Jadi, Ibnu Arabi tidak hanya beraliran wahdat al-wujud, beliau juga beraliran wahdat al-syuhud sebagaimana al-Hallaj dan Ibnu al-Farid. Hanya saja, sisi yang pertama lebih dominan dari pada sisi yang kedua.
Hal serupa juga terjadi pada Ibnu al-Farid. Sebagian ulama mengatakan Ibnu al-Farid merupakan penganut wahdat al-wujud yang pemikirannya lebih didominasi oleh teori akal dari pada intuisi sepiritual. Sebagian ulama lain mengatakan Ibnu al-Farid merupakan penganut wahdat al-syuhud. Jika membaca syair-syair Ibnu al-Farid secara seksama dan memperhatikan kondisi jiwa dan spiritualnya, dapat disimpulkan bahwa Ibnu al-Farid adalah penganut aliran wahdat al-syuhud. Meskipun, beliau sering terlihat mencampuradukkan alirannya dengan unsur-unsur tasawuf dan filsafat orang lain untuk menciptakan kombinasi tasawuf baru.
Di satu sisi, Aliran Ibnu al-Farid adalah peniadaan diri (fana’) dari melihat sesuatu selain Allah SWT, artinya ia tidak menafikan eksistensi wujudnya sesuatu selain Allah SWT di alam nyata, hanya saja ia mengingkari atau tidak mampu melihat sesuatu tersebut dengan panca indra. Di sisi lain, aliran Ibnu al-Farid adalah fana’ dari kehendak (iradah) sesuatu selain Allah SWT, artinya ia tidak lagi mempunyai kehendak karena ia telah melebur kehendaknya dengan kehendak Kekasihnya.
Dari dua fana’tersebut, dapat disimpulkan bahwa keduanya sebatas perasaan jiwa seorang sufi yang menyatu dengan Tuhannya, dan bahwa aliran Ibnu al-Farid jauh berbeda dengan teori wahdat al-wujud yang merupakan peniadaan diri atau fana’ dari eksistensi segala sesuatu selain Allah SWT, yang berarti menafikan eksistensi wujud segala sesuatu selain Allah SWT, serta Allah SWT dan alam adalah satu. Maka sangatlah tepat jika dikatakan Ibnu al-Farid lebih condong dengan wahdat al-syuhud atau panentheisme, daripada wahdat al-wujud atau pantheisme.
Secara substantif, Ibnual-Farid bukan seorang filosof, bukan juga seorang ahli mantik yang selalu menggunakan rasio dalam segala hal. Beliau lebih tepat disebut penyair sufi yang lebih mengandalkan intuisi spiritual, perasaan dan emosional yang kuat yang mengantarkannya menuju wahdat al-syuhud.
Wahdat al-syuhud dan wahdat al-wujud menurut Ibnu al-Farid dan Ibnu Arabi di atas, yaitu wahdat al- adyan, karena wahdat al-adyan adalah sesuatu yang lazim atau akibat yang pasti dan otomatis bagi seseorang yang meyakini keesaan wujud (al-wahdah). Wahdat al-Adyan Ibnu al-Farid dan Ibnu Arabi dalam wahdah al-adyan bisa dikatakan sepakat dengan kaum sufi lainnya, teori ini berpandangan bahwa pada hakikatnya agama-agama itu hanya satu, dan kesemuanya adalah milik Allah SWT.
Al-Hallaj merupakan orang yang pertama kali melontarkan gagasan ini, menurutnya semua agama adalah milikAllah SWT dan agama Islam, Nasrani, Yahudi dan agama lainnya hanya nama dan sebutan yang berbeda-beda dan berubah-ubah, adapun substansi dan tujuannya adalah satu dan harga mati. Pemikiran al-Hallaj ini, kemudian menitis kepada kaum-kaum sufi setelahnya dan berkembang sesuai dengan madzhab masing-masing, sampai akhirnya wahdat al-adyan menjadi suatu kelaziman yang muncul sebagai akibat dari keyakinan tentang keesaan wujud.
Cinta Ilahi yang menyelimuti sosok Ibnu al-Farid tidak hanya mengantarkannya menuju wahdat al-syuhud, tapi juga membawanya berpandangan bahwa agama dankeyakinan yang berbeda-beda itu hanyalah kulit luarnya saja. Adapun dari segi substansi dan hakaikat, tidak ada perbedaan sama sekali. Agama-agama tersebut tidak lain hanyalah sebatas mediator-mediator untuk menuju satu tujuan yang sama yaitu menyembah Tuhan yang maha Esa.
Lebih jauh, Ibnu al-Farid mengajarkan bagaimana menyikapi perbedaan agama. Menurutnya, agama mayoritas tidak patut memojokkan yang minoritas, tidak membedakan antara satu agama dengan lainnya, tidak memuliakan satu kitab suci dan memaki lainnya, tidak fanatik terhadap satu kelompok dan meninggalkan lainnya, karena semua agama adalah milik Allah SWT. Ibnu al-Faridmenambahkan bahwa seseorang yang memeluk suatu agama tidaklah karena ia memilih agama tersebut, melainkan Allah SWT-lah yang mentakdirkan orang itu memilih agama tersebut.
Ibnu al-Farid membangun teori wahdat al-adyan atas tiga pemahaman:
pertama, pemahaman bahwa semua agama itu sama secara substantif, meskipun berbeda-beda pada dzahirnya. Karena semua agama mengajak untuk beribadah pada satu Tuhan meski bentuk dan model ibadahnya berbeda-beda. Jadi tidak ada beda antara agama-agama yang mengajak menyembah satu Tuhan dengan agama yang mengajak menyembah dua atau tiga Tuhan. Iman dan kufur tidaklah berbeda secara substantif, seorang yahudi, nasrani, muslim, majusi dan penyembah berhala, mereka sama-sama menyembah satu Tuhan, hanya bentuk ibadahnya saja yang berbeda. Majusi misalnya, pada hakikatnya bukan api yang mereka sembah, melainkan karena mereka pernah melihat cahaya dzatIlahi yang dianggapnya api, kemudian mereka menyembahnya.
Kedua, pemahaman bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dan pilihan untuk menentukan sesuatu (jabariyah), karena semua sudah ditentukan oleh Allah SWT, termasuk pilihan akan menjadi mukmin atau kafir. Dengan demikian, orang yang tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk untuk mengetahui Tuhan, sebenarnya tidaklah lebih buruk dari orang yang mendapatkan petunjuk, karena Allah SWT yang memberikan petunjuk dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan semua itu berjalan sesuai undang-undang Ilahi yang telah ditetapkan sejak zaman azali.
Ketiga, pemahaman bahwa keyakinan terhadap Tuhan yang maha Esa sekaligus sebagai sumber petunjuk dan 12segala kebajikan adalah keyakinan yang salah, karena akan mendorong orang untuk mejadikan satu Tuhan lagi sebagai sumber kesesatan dan segala bentuk keburukan.
Al Hallaj tidak mewariskan wahdat al-adyan kepada Ibnu Al Farid saja, namun juga kepada Ibnu Arabi.
Secara umum, Ibnu Arabi mempunyai pandangan yang sama dengan Ibnu al Farid yaitu semua agama pada hakikatnya satu dan perbuatan manusia sekaligus pilihannya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ibnu Arabi menjelaskan bahwa orang yang beriman di dunia sebenarnya ditakdirkan untuk menjadi orang mukmin sejak zaman azali, begitu juga dengan orang yang kafir.
Lebih jauh, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa Allah SWT ada dalam setiap bentuk yang dibayangkan manusia sebagaimana Allah SWT itu ada dalam setiap bentuk yang tidak dibayangkan manusia. Maka, setiap keyakinan mempunyai sisi kebenaran sebagaimana orang yang berseberangan dengan keyakinan tersebut juga mempunyai sisi kebenaran tersendiri. Hal ini karena Allah SWT menampakkan diri-Nya dalam setiap bentuk yang diyakini oleh semua makhluk-Nya. Meski demikian, Allah SWT tidak akan pernah disembah dalam bentuk yang semestinya, Allah SWT hanya akan disembah dalam bentuk yang dijadikan oleh Allah SWT dalam diri seorang hamba.
Teori cinta Ilahi Ibnu Arabi mengekor pada teori umumnya yaitu wahdat al-wujud. Menurutnya, seseorang yang sedang dilanda cinta Ilahi, tidak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan atas segala perbuatannya di dunia. Karena orang yang sedang mabuk cinta akan hilang akal, sedangkan pertanggungjawaban (jaza’) hanya diperuntukkan bagi yang mempunyai akal. Sedangkan Ibnu al-Farid, teori cinta Ilahinya mengikuti aliran wahdat al-syuhud, Ibnu al-Farid hanya berpasrah dan mengikuti arus cintanya, hilang dari dirinya sendiri dan dari segala sesuatu di sekitarnya sehingga tidak mampu melihat sesuatu kecuali melihat Allah SWT.
Kedua: teori wahdat al-wujud Ibnu Arabi menjelaskan bahwa wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan al-Haq yang menampakkan dirinya di alam semesta, Dia wujud yang hakiki, absolut, azali dan abadi. Adapun fenomena berbilangnya sesuatu yang ditangkap oleh indra manusia hanya gambar atau tempat dimana sifat-sifat Allah SWT yang merupakan dzat Allah SWT sendiri menampakkan diri-Nya, atau hanya khayalan yang muncul karena keterbatasan indra dan akal. Sedangkan menurut Ibnu al-Farid, satu sisi adalah peniadaan diri atau fana’ dari melihat sesuatu selain Allah SWT. Di sisi lain, fana’ dari kehendak (iradah) sesuatu selain Allah SWT, artinya ia tidak lagi mempunyai kehendak karena ia telah melebur kehendaknya dengan kehendak Kekasihnya.
Dapat disimpulkan, keduanya sebatas perasaan jiwa seorang sufi yang menyatu dengan Tuhannya. Aliran Ibnu al-Farid lebih tepat disebut dengan wahdat al-syuhud atau panentheisme.
Ketiga: Ibnu al-Farid dan Ibnu Arabi berpandangan sama dalam memahami wahdat al-adyan. Pada hakikatnya agama-agama itu hanya satu dan kesemuanya adalah milik Allah SWT. Agama-agama tersebut tidak lain hanyalah sebatas mediator-mediator untuk menuju satu tujuan yang sama yaitu menyembah Tuhan yang maha Esa.
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber di Alam Terkembang