JARI: Lagi Ngapain, Bro?
Warung kopi “Kenangan Lamo” di Pasar Lemabang, Palembang. Usai salat Ashar, matahari mulai condong ke barat, menerobos celah-celah atap seng. Di meja kayu sederhana, empat gelas kopi hitam pekat mengepul. Semangkuk besar mie celor berkuah santan kuning dengan telur rebus dan ebi di tengah meja yang menggugah selera. Ade Indra Chaniago duduk di sisi timur, Indra Darmawan di sampingnya dengan buku catatan terbuka. Di hadapan mereka, Ferry Lesmana, Juliansyah, dan Andi Wijaya tampak menatap riuh gaduhnya pedagang dan pembeli di pasar Lemabang.
Andi Wijaya: (menunjuk ke semangkuk mie celor) Uda, lihat ini. Mie celor, khas Palembang. Ada orang yang membuatnya (labor), ada yang menjualnya (work), dan ada yang duduk menikmatinya sambil berdiskusi seperti kita sekarang (action). Saya teringat tentang Hannah Arendt. Katanya, manusia punya tiga jenis aktivitas: kerja (labor), pekerjaan (work), dan tindakan (action). Tapi yang paling penting adalah tindakan, berbicara di depan umum, berdialog dengan orang lain, menyuarakan pendapat tentang isu publik. Arendt bilang, tanpa tindakan, kita kehilangan takdir kita sebagai manusia. Benarkah begitu, Uda?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum, menyesap kopi) Pertanyaanmu itu, Andi, adalah inti dari filsafat politik Hannah Arendt. Dalam bukunya The Human Condition yang dalam terjemahan Jerman berjudul Vita Activa, Arendt membedakan tiga aktivitas fundamental manusia. Pertama, labor kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak. Ini adalah proses yang terus berulang dan tak pernah berakhir. Kedua, work pekerjaan yang menghasilkan barang tahan lama, seperti yang dilakukan pengrajin atau arsitek. Ada awal dan akhir, dan hasilnya adalah sesuatu yang bertahan di dunia. Ketiga, action tindakan, yaitu berbicara di depan umum, berdialog dengan orang lain, menyuarakan pendapat tentang isu publik.
Indra Darmawan: (membuka catatan) Dan yang menarik, Arendt mengatakan bahwa action adalah satu-satunya aktivitas yang terjadi ‘di antara’ orang inter-esse. Seperti percakapan kita sekarang, Andi. Ini terjadi ‘di antara’ kita. Melalui percakapan dengan orang lain, kita menyadari siapa diri kita dan di mana posisi kita. Arendt bahkan menyebutnya sebagai ‘kelahiran kedua’ selain kelahiran fisik, ada kelahiran simbolis ketika kita memasuki ranah tindakan.
Ferry Lesmana: (mengambil sepotong mie celor) Tapi Uda, di Tulung Selapan, kami sudah kehilangan ranah tindakan itu. Musyawarah desa hanya formalitas. Keputusan sudah dibuat di atas, rakyat hanya disuruh setuju. Arendt bilang action itu penting, tapi di desa kami, action sudah mati. Yang hidup hanya labor bekerja dari pagi sampai malam untuk bertahan hidup.
Juliansyah: (mengangguk) Saya setuju, Ferry. Di Ogan Ilir, sawah rakyat digusur atas nama pembangunan. Rakyat sudah bersuara, sudah berdialog, tapi suara mereka tidak didengar. Arendt memperingatkan bahwa ruang publik saat ini semakin menghilang. Yang ada hanya konsumsi dan produksi labor dan work menjadi tujuan itu sendiri. Saya jadi ingat Al-Farabi, filsuf Islam yang dijuluki Mu’allim Tsani (Guru Kedua). Dalam konsep Al-Madinah Al-Fadhilah negara utama, beliau mengatakan bahwa warga negara harus berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik. Pemimpin dan rakyat harus bekerja sama. Tapi sekarang, pemimpin kita sibuk dengan kekuasaan, bukan kebahagiaan rakyat.
Andi Wijaya menyendok mie celor ke mangkuknya. Angin sore berhembus pelan, membawa bau khas Pasar Lemabang.
Andi Wijaya: (bersemangat) Tapi Uda, Arendt juga bilang bahwa pluralitas adalah ciri khas tindakan. Setiap orang dalam ranah tindakan mengadopsi sudut pandang yang unik. Dan bahkan bagi diri kita sendiri, kita tidak pernah tahu pasti bagaimana kita akan berubah melalui berbicara dengan orang lain. Itu indah, Uda! Tapi di Indonesia, pluralitas itu justru dianggap ancaman. UU ITE digunakan untuk membungkam perbedaan. Ruang publik dipersempit.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Itulah yang disebut Arendt sebagai krisis ruang publik. Ia memperingatkan bahwa masyarakat modern terlalu fokus pada kesehatan dan utilitas, kesejahteraan yang aman dan keuntungan yang dapat diprediksi, sehingga apresiasi terhadap tindakan dan ucapan menjadi sulit. Arendt mengajak kita untuk tidak hanya mendedikasikan hidup kita pada animal laborans (hewan pekerja) atau homo faber (manusia pekerja), tetapi pada vita activa: bertindak di ranah publik.
Indra Darmawan: (menambahkan) Dan ini sejalan dengan ajaran Ibnu Khaldun, sejarawan dan filsuf sosial Muslim terbesar. Beliau mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial “Man is by nature a city dweller”. Manusia tidak punya pilihan lain selain hidup dalam masyarakat. Tapi Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa solidaritas sosial (‘ashabiyyah) adalah fondasi peradaban. Ketika solidaritas itu hilang, ketika rakyat tidak lagi bersatu dalam tindakan kolektif, maka peradaban akan runtuh.
Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah luar warung) Uda, saya kasih contoh nyata. Di Lampung Selatan, 56 warga sudah menang di pengadilan sampai tingkat Peninjauan Kembali Mahkamah Agung, hak mereka atas ganti rugi tanah tol senilai Rp20 miliar sudah jelas. Tapi Pejabat Pembuat Komitmen dari Kementerian PUPR mengabaikan kewajiban hukum. Itu adalah penutupan ruang publik, rakyat sudah berbicara melalui pengadilan, tapi negara tutup telinga.
Juliansyah: (menyambung) Dan di Ogan Ilir, Presiden Prabowo meluncurkan program tanam raya di lahan rawa seluas 105.000 hektare dengan teknologi pertanian modern. Drone digunakan untuk menebar benih. Tapi di mana musyawarah dengan rakyat? Di mana tindakan kolektif para petani dalam merencanakan masa depan mereka? Yang ada adalah kebijakan dari atas top-down, bukan bottom-up.
Andi Wijaya: (menambahkan) Di tingkat internasional, kita lihat Gerakan Rompi Kuning di Prancis. Rakyat turun ke jalan, berbicara, bertindak, mereka menuntut keadilan pajak dan kebijakan lingkungan. Itulah yang Arendt sebut sebagai tindakan politik, rakyat yang muncul di ruang publik, menyuarakan pendapat, dan menuntut perubahan. Tapi di Indonesia, aksi seperti itu sering dibubarkan dengan kekerasan.
Matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu pasar mulai menyala. Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya.
Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, mari kita renungkan. Arendt mengatakan bahwa tindakan adalah aktivitas manusia yang paling penting karena di dalamnya manusia menemukan takdir sejatinya sebagai manusia. Tapi tindakan tidak bisa terjadi tanpa ruang publik, tempat di mana kita bisa didengar, di mana perbedaan pendapat bisa diletakkan di atas meja. Arendt menggunakan metafora meja, kita dapat meletakkan perbedaan pendapat kita di atas meja, tetapi pada saat yang sama, meja itu juga menghubungkan mereka yang duduk di atasnya.
Indra Darmawan: (membuka catatan) Dan ini sejalan dengan Pancasila, khususnya sila keempat: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Musyawarah adalah bentuk tindakan kolektif. Ini adalah vita activa versi Indonesia. Tapi musyawarah kita sekarang hanya formalitas, rakyat diajak datang, tapi keputusan sudah dibuat.
Ferry Lesmana: (suara lirih) Lalu apa yang harus kami lakukan, Uda? Kami rakyat kecil di Tulung Selapan dan Ogan Ilir. Kami tidak punya kekuasaan.
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Arendt memberikan jawaban: bertindaklah. Berbicaralah. Jangan diam. Al-Farabi mengajarkan bahwa dalam negara utama, warga negara harus menggunakan akalnya secara aktif. Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa solidaritas sosial adalah kunci peradaban. Dan Imam Al-Ghazali, sufi besar yang kita kenal, mengingatkan bahwa pemimpin adalah amanah, dan rakyat berhak menuntut keadilan.
Angin malam mulai turun. Empat gelas kopi hampir habis. Mie celor tinggal kuahnya.
Ade Indra Chaniago: (melanjutkan) Saya ingin tambahkan satu nama: R.A. Kartini. Beliau adalah contoh nyata dari vita activa, tindakan di ranah publik. Di tengah keterbatasan sebagai perempuan di era kolonial, Kartini berbicara, menulis, dan bertindak untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan. Surat-suratnya adalah bentuk tindakan politik, ia menyuarakan pendapat tentang isu publik, berdialog dengan orang lain, dan mengubah perspektif banyak orang. Kartini menunjukkan bahwa tindakan tidak membutuhkan kekuasaan formal, cukup dengan keberanian berbicara dan konsistensi.
Juliansyah: (mengangguk) Kartini adalah bukti bahwa satu suara bisa mengubah dunia. Tapi sekarang, Uda, suara rakyat kecil seperti kami sering dibungkam.
Ade Indra Chaniago: (menatap Juliansyah dengan teduh) Maka pesan saya malam ini, Saudara-saudara:
“Arendt mengajarkan bahwa manusia menemukan takdir sejatinya dalam tindakan—dalam berbicara, berdialog, dan menyuarakan pendapat di ruang publik. Tapi ruang publik tidak akan ada jika kita diam. Ia hanya ada jika kita berani muncul, berani bicara, dan berani mendengarkan. Al-Farabi mengajarkan bahwa negara utama adalah negara di mana warga berpartisipasi aktif. Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa peradaban dibangun di atas solidaritas sosial. Dan Kartini mengajarkan bahwa satu suara sekecil apa pun bisa mengguncang tembok ketidakadilan.”
“Mari kita hidupkan kembali vita activa di negeri ini. Mulai dari yang kecil, dari warung kopi ini, dari musyawarah desa, dari percakapan dengan tetangga. Karena seperti kata Arendt: tanpa orang lain, yang mempertanyakan Anda, tidak ada ‘saya’. Kita dibentuk oleh percakapan dengan orang lain.”
Ferry, Juliansyah, dan Andi Wijaya mengangguk perlahan. Indra Darmawan menutup buku catatannya. Di kejauhan, lampu-lampu Pasar Lemabang mulai menyala satu per satu seperti harapan yang masih menyala.
Ferry Lesmana: (tersenyum pertama kali sore itu) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Saya akan mulai berbicara. Saya akan mengajak tetangga saya berdialog. Karena seperti kata Arendt tanpa orang lain, tidak ada ‘saya’.
Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke masyarakat Ogan Ilir. Bahwa musyawarah bukan formalitas itu adalah tindakan. Dan tindakan adalah takdir kita sebagai manusia.
Andi Wijaya: (bersemangat) Saya akan tulis ini, Uda. Biar orang lain tahu bahwa di Pasar Lemabang ini, ada percakapan tentang vita activa tentang bagaimana kita bisa menghidupkan kembali ruang publik di negeri ini.
Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita pulang. Tapi ingat: perjuangan menghidupkan ruang publik tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk. Seperti mie celor di mangkuk ini hangat, mengenyangkan, dan menyatukan kita. Seperti kopi di gelas ini pahit, tapi menghangatkan. Dan seperti tindakan di ruang publik berat, tapi harus kita jalankan.
Mereka melangkah keluar dari warung kopi. Di belakang mereka, mangkuk mie celor kosong dan gelas-gelas kopi menjadi saksi bisu percakapan tentang vita activa, ruang publik, dan takdir manusia di negeri yang masih berjuang untuk menemukan suaranya.
Palembang, 3 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen