JARI: Bioteknologi, Martabat Manusia, dan Amanah Kekuasaan
Warung kopi di atas Puncak Siguntang, Palembang. Usai salat Zuhur, angin sepoi-sepoi membawa udara sejuk dari kejauhan. Dari sini, hamparan Kota Palembang dan aliran Sungai Musi terlihat membentang. Di meja kayu sederhana, lima gelas kopi hitam pekat mengepul. Ade Indra Chaniago duduk di sisi timur, Indra Darmawan di sampingnya dengan buku catatan terbuka. Di hadapan mereka, Ferry Lesmana, Juliansyah, dan Andi Wijaya tampak serius menyimak. Burung-burung beterbangan di atas puncak, menemani percakapan yang akan membentang jauh.
Andi Wijaya: (menunjuk ke arah Sungai Musi yang berkilau di bawah) Uda, dari atas sini kita bisa melihat seluruh Palembang. Sungai, jembatan, rumah-rumah, pasar. Tapi saya jadi bertanya di tengah semua kemajuan teknologi ini, apa yang tersisa dari kemanusiaan kita?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum tipis, menyesap kopi) Pertanyaanmu itu, Andi, adalah pertanyaan yang sangat fundamental. Francis Fukuyama pemikir yang kita kenal lewat The End of History kini justru mengingatkan kita tentang ancaman terbesar bagi demokrasi liberal: bukan komunisme, bukan fasisme, tapi revolusi bioteknologi. Dalam bukunya Our Posthuman Future, ia memperingatkan bahwa kemajuan obat-obatan dan rekayasa genetika akan memungkinkan masyarakat mengendalikan perilaku manusia dan memanipulasi karakteristik fisik dan kekuatan ini dapat mengubah pemahaman kita tentang apa artinya menjadi manusia.
Indra Darmawan: (membuka catatan) Dan yang menarik, Andi, Fukuyama justru berargumen bahwa negara harus campur tangan untuk mengatur bioteknologi. Ia menolak dua ekstrem: liberalisme radikal yang menolak semua intervensi negara, dan sikap pesimis yang menganggap kemajuan teknologi tak terhindarkan. Fukuyama berkata: “Kenyataan bahwa aturan akan selalu dilanggar tidak pernah menyebabkan situasi di mana tidak ada aturan yang dibuat sama sekali.”
Ferry Lesmana: (mengernyit) Tapi Uda, di Tulung Selapan, kami sudah kehilangan kepercayaan pada negara. Negara malah mengabaikan putusan pengadilan, merampas hak rakyat. Kalau negara sendiri tidak amanah, bagaimana kita percaya negara bisa mengatur bioteknologi?
Ade Indra Chaniago: (menatap Ferry dengan teduh) Itulah dilema besar, Ferry. Fukuyama sendiri mengakui bahwa demokrasi liberal yang ia yakini sebagai akhir sejarah adalah satu-satunya lembaga yang bisa mengatur bioteknologi. Tapi demokrasi itu hanya akan berfungsi jika negara menjalankan amanah-nya. Di sinilah kita harus kembali ke pertanyaan dasar: apa itu manusia? Dan apa tujuan kekuasaan?
Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun di sekitar puncak bergoyang. Juliansyah menyandarkan punggungnya ke tiang kayu.
Juliansyah: (menghela napas) Saya jadi ingat Al-Farabi. Dalam konsep Al-Madinah Al-Fadhilah negara utama, beliau mengatakan bahwa pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dan keadilan, dan membawa rakyat pada kebahagiaan sejati. Tapi sekarang, teknologi berkembang tanpa kendali, sementara pemimpin kita sibuk dengan kekuasaan. Di Ogan Ilir, sawah rakyat digusur atas nama “teknologi pertanian modern”. Katanya pakai drone, katanya modern. Tapi rakyatnya sendiri tidak diajak musyawarah. Di mana keadilan di situ?
Andi Wijaya: (menyambar) Jul, saya tambahkan di tingkat internasional, kasus CRISPR-Cas9 menggemparkan dunia. Teknologi ini memungkinkan rekayasa genetika pada embrio manusia. Ada yang ingin menggunakannya untuk “mendesain bayi”(designer babies) memilih warna mata, kecerdasan, bahkan kepribadian. Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang dampak heritable perubahan genetik yang diwariskan ke generasi berikutnya. UNESCO bahkan menyatakan bahwa kloning reproduktif manusia bertentangan dengan martabat manusia. Tapi sampai sekarang, regulasi global masih lemah.
Indra Darmawan: (menambahkan) Dan di Indonesia sendiri, kita punya Peraturan BPOM No. 19 Tahun 2024 tentang Pengawasan Pangan Produk Rekayasa Genetik. Tapi itu masih terbatas pada pangan, belum menyentuh rekayasa genetika pada manusia. Fukuyama memperingatkan bahwa kita harus mulai dengan larangan kloning sebagai preseden, karena hanya sedikit pihak yang berkepentingan, sehingga lebih mudah untuk disepakati. Tapi setelah itu, kita harus beranjak ke isu yang lebih sensitif: sel punca dan teknologi garis keturunan.
Ferry Lesmana: (menunjuk ke arah Sungai Musi) Uda, saya jadi ingat kasus di Lampung Selatan, 56 warga sudah menang di pengadilan sampai tingkat Peninjauan Kembali Mahkamah Agung, tapi Pejabat Pembuat Komitmen dari Kementerian PUPR mengabaikan kewajiban hukum. Itu negara yang mengabaikan keadilan. Lalu bagaimana kita bisa percaya negara akan mengatur bioteknologi dengan adil?
Ade Indra Chaniago: (mengangguk perlahan) Pertanyaanmu tepat, Ferry. Dan di sinilah Fukuyama mengajak kita kembali ke Aristoteles. Ia mengatakan bahwa martabat manusia tidak terletak pada kemampuan individu, tetapi pada bagaimana seseorang menggunakan kebebasan dalam batasan alaminya. Aristoteles membedakan antara potensi dan tindakan, antara disposisi bawaan dan bentuk ekspresi. Kita semua memiliki struktur genetik yang sama, itulah yang membuat kita setara sebagai spesies. Tapi bagaimana kita menggunakan kemampuan itu, itulah yang membuat hidup berharga.
Matahari mulai bergeser ke barat. Andi Wijaya menuang kopi ke gelasnya yang hampir habis.
Andi Wijaya: (bersemangat) Jadi, Uda, Fukuyama ingin mengatakan bahwa intervensi teknologi terhadap kemampuan individu adalah ancaman langsung terhadap kebebasan dan martabat manusia?
Ade Indra Chaniago: (tersenyum) Tepat sekali, Andi. Fukuyama menulis: “Sifat manusia, struktur genetik, adalah syarat mutlak bagi budaya yang kita miliki sekarang. Justru karena kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang perilaku manusia berkat genetika, kita harus sangat berhati-hati dalam mengubah sifat manusia.” Ia khawatir bahwa revolusi bioteknologi mengancam untuk merebut keuntungan itu dengan mengganggu sifat alami tersebut.
Juliansyah: (mengangguk) Saya teringat Imam Al-Ghazali. Beliau mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia diciptakan dalam bentuk terbaik. Mengubah ciptaan Tuhan secara sewenang-wenang adalah bentuk kesombongan dan pengingkaran terhadap amanah sebagai khalifah di bumi. Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, ia harus digunakan untuk melindungi, bukan merusak.
Ferry Lesmana: (menyambung) Saya juga ingat Jalaluddin Rumi. Dalam Matsnawi, beliau berkata: “Kamu bukan setetes air di lautan, kamu adalah lautan dalam setetes air.” Artinya, setiap manusia memiliki potensi ilahi yang tak terhingga. Mengurangi manusia menjadi sekadar gen atau data biologis adalah penghinaan terhadap martabat kemanusiaan.
Indra Darmawan: (membuka catatan lagi) Dan jangan lupa Fazlur Rahman, pemikir Islam kontemporer. Beliau menekankan bahwa negara yang baik tidak terlepas dari konsep Syura, musyawarah. Keputusan tentang bioteknologi tidak boleh diambil oleh segelintir ilmuwan atau politisi. Harus ada musyawarah yang melibatkan rakyat, karena dampaknya menyangkut generasi mendatang.
Angin sore bertiup lebih kencang. Di kejauhan, azan Ashar mulai berkumandang dari masjid di bawah puncak.
Andi Wijaya: (menunjuk ke arah Ogan Ilir) Uda, di Ogan Ilir, Presiden Prabowo baru saja meluncurkan program tanam raya di lahan rawa seluas 105.000 hektare dengan teknologi pertanian modern. Drone digunakan untuk menebar benih 25 hektare dalam sehari. Ini adalah contoh aplikasi bioteknologi di bidang pertanian. Tapi saya bertanya: apakah rakyat dilibatkan dalam keputusan ini? Apakah ada kajian dampak lingkungan dan sosial?
Juliansyah: (mengangguk) Saya setuju, Kak Andi. Di OKU, Bupati Teddy Meilwansyah berencana mengembangkan kultur jaringan untuk durian dan duku khas daerah. Teknologi ini memungkinkan satu bagian jaringan tanaman menghasilkan ratusan bibit baru dengan kualitas seragam. Di satu sisi, ini bagus melestarikan plasma nutfah, meningkatkan ekonomi rakyat. Tapi di sisi lain, kita harus bertanya: apakah ini akan menggusur petani tradisional? Apakah ada pengawasan yang memadai?
Ade Indra Chaniago: (menatap kedua sahabatnya dengan serius) Itulah gunanya regulasi, Saudara-saudara. Fukuyama mengatakan bahwa dalam bioteknologi manusia, kita masih bisa menerapkan prinsip kehati-hatian. Tapi di bidang pertanian, ia mengakui bahwa “batas antara laboratorium dan aplikasi telah sepenuhnya kabur”. Ini adalah peringatan bagi kita semua.
Ferry Lesmana: (suara lirih) Tapi Uda, di Tulung Selapan, kami tidak punya suara dalam keputusan seperti itu. Teknologi datang, proyek datang, rakyat hanya bisa menerima. Atau seperti saudara saya kehilangan lahan karet karena bandara. Teknologi maju, tapi rakyat justru terpinggirkan.
Ade Indra Chaniago: (mengangguk) Dan di sinilah kita harus kembali ke hakikat negara. Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai hewan politik—makhluk yang secara alami memasuki hubungan sosial. Tapi bentuk hubungan sosial ini tidak diprogram sebelumnya oleh alam. Kita, sebagai masyarakat, harus memutuskan bersama bentuk hubungan sosial yang kita inginkan, termasuk bagaimana kita mengatur bioteknologi.
Matahari mulai tenggelam. Langit berubah warna keemasan. Ade Indra Chaniago mengangkat gelas kopinya.
Ade Indra Chaniago: Saudara-saudara, mari kita simpulkan sore ini di atas Puncak Siguntang ini.
Pertama, Fukuyama mengingatkan kita bahwa bioteknologi adalah ancaman terbesar bagi demokrasi liberal dan martabat manusia. Tapi ia juga mengingatkan bahwa negara harus campur tangan untuk mengaturnya.
Kedua, Aristoteles mengajarkan bahwa martabat manusia terletak pada bagaimana kita menggunakan kebebasan dalam batasan alami. Intervensi teknologi terhadap kemampuan individu adalah ancaman langsung terhadap kebebasan itu.
Ketiga, para sufi dan pemikir Islam Al-Ghazali, Rumi, Fazlur Rahman, Al-Farabi—semua mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk mulia, bahwa kekuasaan adalah amanah, dan bahwa keputusan tentang masa depan harus melalui musyawarah.
Keempat, kita punya contoh nyata larangan kloning oleh UNESCO, regulasi pangan rekayasa genetik di Indonesia, program tanam raya di Ogan Ilir, dan kultur jaringan di OKU. Semua ini adalah medan pertempuran antara kemajuan teknologi dan perlindungan martabat manusia.
Kelima, kita juga punya contoh pengkhianatan amanah kasus Lampung Selatan, penggusuran di Ogan Ilir, dan lain-lain yang menunjukkan bahwa negara belum siap mengemban amanah mengatur teknologi jika ia sendiri tidak adil.
Ade Indra Chaniago berhenti, menatap keempat sahabatnya satu per satu. Angin sore membawa bau khas tanah Sumatera.
Ade Indra Chaniago: Pesan kehidupan saya dari atas Puncak Siguntang ini:
“Bioteknologi adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menyembuhkan penyakit, meningkatkan kesejahteraan, dan membuka cakrawala baru. Di sisi lain, ia bisa menghancurkan martabat manusia, menciptakan ketimpangan baru, dan mengubah manusia menjadi sekadar komoditas genetik. Negara, sebagai pengemban amanah rakyat, wajib mengatur teknologi ini, bukan untuk menghambat kemajuan, tetapi untuk memastikan bahwa kemajuan itu berpihak pada kemanusiaan, bukan melawannya. Tapi negara hanya bisa menjalankan amanah ini jika ia sendiri adil, jika ia sendiri mendengar, jika ia sendiri takwa.”
“Seperti kata Fukuyama: ‘Kita harus menjawab pertanyaan: apa itu manusia?’ Dan jawabannya, Saudara-saudara, adalah makhluk yang mulia, yang diciptakan dengan potensi tak terhingga, yang memiliki martabat yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar gen atau data. Maka, setiap kebijakan tentang bioteknologi harus diuji: apakah ia menghormati martabat manusia? Apakah ia melindungi yang lemah? Apakah ia melibatkan musyawarah?”
“Mari kita mulai dari yang kecil, dari warung kopi di atas Puncak Siguntang ini, dari desa-desa kita di OKI dan Ogan Ilir, dari suara kita yang tidak pernah boleh padam. Karena seperti kata Rumi: ‘Kamu bukan setetes air di lautan, kamu adalah lautan dalam setetes air.’ Jangan biarkan teknologi mengurangi kita menjadi setetes air. Tetaplah menjadi lautan.”
Ferry, Juliansyah, dan Andi Wijaya mengangguk perlahan. Indra Darmawan menutup buku catatannya. Di kejauhan, lampu-lampu Kota Palembang mulai menyala satu per satu—seperti harapan yang masih menyala di hati mereka.
Ferry Lesmana: (tersenyum pertama kali sore itu) Uda, saya akan bawa ini ke Tulung Selapan. Ceritakan ke tetangga saya. Bahwa teknologi boleh maju, tapi manusia tetap harus menjadi tujuan, bukan alat.
Juliansyah: (mengangguk) Dan saya akan sampaikan ke masyarakat Ogan Ilir. Bahwa proyek tanam raya harus melibatkan rakyat, bukan sekadar memakai drone dan teknologi canggih.
Andi Wijaya: (bersemangat) Saya akan tulis ini, Uda. Biar orang lain tahu bahwa di atas Puncak Siguntang ini, ada percakapan tentang masa depan manusia dan bahwa masa depan itu harus kita tentukan bersama, bukan diserahkan begitu saja kepada teknologi atau kekuasaan.
Ade Indra Chaniago: (berdiri, merapikan kemeja) Mari kita turun. Tapi ingat: perjuangan menjaga martabat manusia tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk. Seperti kopi di gelas ini pahit, tapi menghangatkan. Seperti teknologi di tangan kita, kuat, tapi harus dikendalikan. Dan seperti amanah di pundak pemimpin, berat, tapi harus dijalankan dengan adil.
Mereka melangkah turun dari Puncak Siguntang. Di belakang mereka, langit senja berwarna jingga menyaksikan percakapan tentang masa depan manusia, teknologi, dan keadilan di negeri yang masih berjuang untuk menemukan jalannya.
Palembang, 2 Juli 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen