JARI: Ketika Anak Lebih Percaya AI daripada Akalnya Sendiri

JARI: Ketika Anak Lebih Percaya AI daripada Akalnya Sendiri

 

Lampu neon kafe di Pasar 16 Ilir berkedip-kedip seperti mata yang mengantuk. Di meja pojok dekat jendela kaca yang tembus pandang ke arah trotoar yang ramai, lima orang duduk melingkar. Ade Indra Chaniago memegang gelas kopi robusta hitam pekat dengan kedua tangan, seperti sedang menghangatkan jiwa. Di sebelahnya, Indra Darmawan baru saja menyalakan rokok Dji Sam Soe mengepulkan asap tipis ke arah kipas angin langit-langit yang berputar lambat. Ferry Lesmana dari OKI duduk menyilangkan kaki, matanya menerawang ke arah anak muda di meja sebelah yang asyik dengan gawai masing-masing. Andi Wijaya membawa buku catatan kecil sebuah kebiasaan lama yang tidak pernah ditinggalkannya. Sementara Juliansyah yang haus teknologi, justru sibuk memegang tablet, sesekali menggesek layar untuk menunjukkan data. Di atas meja: tiga piring pisang goreng, dua gelas es teh manis, satu teko kopi panas, dan satu asbak yang mulai penuh. Di luar, hujan gerimis mulai membasahi aspal, tapi di dalam, percakapan akan lebih panas dari minuman mereka.

 

Juliansyah: “Uda, saya ingin mengangkat isu yang sedang ramai di kalangan guru dan orang tua. Teknologi, terutama AI seperti ChatGPT, Gemini, dan lain-lain, sekarang dipakai oleh anak sekolah untuk mengerjakan PR, bahkan ujian. Di satu sisi ini memudahkan, di sisi lain banyak yang khawatir anak-anak kehilangan kemampuan berpikir kritis. Saya juga prihatin dengan banyaknya waktu anak-anak terbuang untuk bermain game online. Bagaimana pandangan Uda?”

Ade Indra Chaniago (menghela napas, menyesap kopi): “Jul, ini persoalan klasik yang dibungkus kemasan baru. Sebenarnya, setiap generasi punya ‘musuh’ yang mengganggu belajar. Dulu di era 80-an, orang tua melarang anak nonton TV terlalu lama. Di era 90-an, warnet dan game PlayStation dianggap merusak. Sekarang, AI dan game mobile. Tapi ada perbedaan mendasar: dulu alat bantu seperti ensiklopedia atau kalkulator masih menuntut anak untuk memahami proses. Sekarang, AI langsung memberi jawaban instan tanpa proses berpikir. Itu berbahaya.”

Ferry Lesmana (menghisap rokok, lalu meniup perlahan): “Saya setuju, Uda. Di Tulung Selapan, OKI, anak-anak saya lebih pintar main Mobile Legends daripada mengerjakan soal matematika. Guru-guru kewalahan. Padahal saya masih ingat tahun 80-an, saya belajar dengan cara menghafal rute sungai, nama-nama kampung, dan jenis-jenis tanah. Itu semua sampai sekarang masih melekat. Sekarang anak saya jika ditanya ibu kota provinsi, dia malah buka Google. Bukan karena tidak tahu, tapi karena malas mengingat.”

Andi Wijaya (membuka buku catatan, membaca data): “Saya sempat diskusi dengan teman-teman peduli pendidikan. Menurut mereka, sejak AI populer, kemampuan anak dalam menulis esai panjang menurun drastis. Dulu, anak kelas 6 SD bisa menulis karangan tiga paragraf tentang cita-cita dengan ejaan yang baik. Sekarang, mereka minta ChatGPT. Hasilnya rapi, tapi ketika ditanya sendiri, mereka bingung menjelaskan isinya. Artinya, ada empty knowledge tahu jawaban tapi tidak paham proses.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Madu dan Racun Demokrasi

Indra Darmawan (menekuk puntung rokok, tersenyum miring): Nah, ini masalah epistemologi. Para filsuf seperti Plato dalam Phaedrus sudah memperingatkan bahaya tulisan. Kata Plato, jika manusia terlalu bergantung pada tulisan, mereka akan lupa mengingat. Sekarang, AI adalah ‘tulisan’ versi super canggih. Neil Postman, dalam Amusing Ourselves to Death, juga mengingatkan bahwa teknologi tidak netral, ia membentuk cara kita berpikir. AI mengubah pola berpikir dari proses menjadi hasil instan. Dulu kita bangga karena bisa menghafal 10 nama gunung, sekarang kita bangga karena bisa memerintah AI untuk menyebutkannya.”

Juliansyah (menyela, sedikit defensif): “Tapi Uda, bukankah AI juga punya sisi positif? Anak-anak bisa belajar dengan lebih cepat, mengakses informasi dari seluruh dunia, dan guru bisa terbantu dalam membuat materi. Apakah kita tidak boleh melihat kebaikannya?”

Ade Indra Chaniago (mengangguk): “Tentu, Jul. Jangan salah paham. Saya tidak anti-teknologi. AI bisa menjadi alat yang luar biasa untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan pembelajaran. Contoh positif: anak-anak di daerah terpencil yang tidak punya akses ke guru les, bisa menggunakan AI untuk menjelaskan konsep matematika secara visual. Di Kabupaten Banyuasin, beberapa sekolah sudah menggunakan AI untuk membantu anak-anak tunanetra belajar melalui teks-ke-suara. Itu hebat.”
“Tapi masalahnya, tanpa pendampingan, AI menjadi ‘kakak jahat’ yang mengerjakan semua tugas, sehingga anak kehilangan kesempatan untuk mengasah daya nalar. Seperti kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin: ‘Ilmu yang diperoleh tanpa kerja keras dan perenungan, hanya akan menjadi beban di kepala, bukan cahaya di hati.”

Ferry Lesmana (menambahkan): “Saya ingin memberi contoh nyata perbandingan antara tahun 80-an dan sekarang. Dulu, saya SD di OKI, kami belajar dengan cara: guru menulis di papan tulis, kami menyalin, lalu menghafal di rumah. Setiap minggu ada ujian lisan. Hasilnya, meskipun fasilitas minim, kami benar-benar paham materi. Sekarang, anak saya punya laptop, akses internet, AI, tapi nilai ulangannya jeblok. Mengapa? Karena ketika belajar, ia membuka 10 tab sekaligus: YouTube, game, dan chat. Fokusnya terpecah.”

Andi Wijaya (mengangguk setuju): “Saya dengar dari psikolog pendidikan, ada yang namanya cognitive offloading kecenderungan otak untuk ‘menitipkan’ memori ke perangkat eksternal. Dulu, otak anak-anak dilatih seperti otot. Semakin sering menghafal, semakin kuat daya ingat. Sekarang, karena semua bisa dicari di Google atau AI, otak menjadi malas. Akibatnya, ketika mereka menghadapi soal yang tidak bisa di-copy-paste atau tidak ada di database AI, mereka panik. Ini darurat pendidikan.”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Madu dan Racun Demokrasi

Indra Darmawan (menyalakan rokok baru, bicara perlahan): “Mari saya hubungkan dengan filsuf pendidikan Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed, ia mengkritik ‘banking model of education’ model di mana guru ‘menabung’ pengetahuan ke kepala murid. Dulu, model itu dominan: guru bicara, murid hafal. Sekarang, AI justru membalikkan: murid bisa ‘menarik’ pengetahuan kapan saja. Tapi Freire mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah problem-posing mengajukan masalah, bukan memberi jawaban instan. AI saat ini justru sering memberi jawaban instan tanpa mengajak anak bertanya ‘mengapa’.”
“Dan soal game, saya ingat penelitian dari Douglas Gentile di Iowa State University. Bermain game berlebihan mengganggu kemampuan konsentrasi dan memori jangka pendek. Anak-anak yang bermain game lebih dari 3 jam sehari memiliki kinerja akademik lebih rendah. Tapi bukan berarti game jahat. Game strategi seperti Civilization atau Kerbal Space Program justru bisa melatih perencanaan dan fisika. Masalahnya, game yang populer sekarang kebanyakan game aksi instan yang hanya melatih refleks, bukan nalar.”

Ferry Lesmana (menghela napas, menekan puntung rokok ke asbak): “Uda, saya ingin tambahkan contoh nyata yang membuat bulu kuduk merinding. Bulan lalu di Tulung Selapan, anak tetangga saya, namanya Andika, umur 12 tahun. Dia main game Free Fire dari subuh sampai tengah malam, lupa makan, lupa minum, lupa tidur. Suatu hari ibunya mendengar suara keras dari kamar, ternyata Andika kejang-kejang dan pingsan di depan ponsel. Dibawa ke RSUD Kayuagung, dokter bilang dehidrasi berat dan kelelahan otak karena kurang tidur tiga hari berturut-turut. Dia harus dirawat inap seminggu. Itu baru satu. Di Ogan Ilir juga ada anak yang main game sambil cas ponsel, baterainya meledak, tangannya luka bakar parah sampai harus dioperasi. Masuk rumah sakit juga. Ini bukan isapan jempol, Uda.”

Andi Wijaya (menambahkan sambil membuka buku catatan): “Saya juga punya contoh dampak lain, meski tidak sampai rumah sakit. Murid SMP di Prabumulih, nilai matematikanya anjlok dari 85 menjadi 40 hanya dalam satu semester gara-gara kecanduan Mobile Legends. Ia lebih hafal semua hero dan skill daripada rumus Pythagoras. Bahkan ada yang sampai mengabaikan sholat lima waktu dan membantah orang tua ketika diminta berhenti main. Guru BK di sana sudah dua kali memanggil orang tua. Ini darurat karakter juga.”

Juliansyah (mengangguk pelan): “Kasus Andika itu sungguh mengerikan. Berarti dampak fisik dan psikisnya nyata, ya, Uda?”

Ade Indra Chaniago (menghela napas panjang): “Nah, itulah gunting bermata dua. Teknologi memberi kemudahan, tapi tanpa pengawasan, ia bisa merenggut kesehatan dan masa depan anak. Maka solusi kita harus lebih tegas…”

READ BACA BOS KU!!!!  JARI: Madu dan Racun Demokrasi

Juliansyah (mencatat, lalu menengadah): “Jadi, apa solusinya, Uda? Apa kita harus melarang anak-anak menggunakan AI dan game?”

Ade Indra Chaniago (tersenyum): “Melarang itu tidak mungkin, Jul. Seperti melarang air laut pasang. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola dan mendidik. Pertama, orang tua dan guru harus terlibat aktif dalam penggunaan teknologi anak. Jangan biarkan anak menggunakan AI tanpa pendampingan. Kedua, sekolah harus mengajarkan literasi AI bagaimana menggunakan AI secara etis, seperti menyebutkan sumber, memverifikasi informasi, dan tetap menggunakan kemampuan sendiri untuk mengecek jawaban AI. Ketiga, kita perlu mengembalikan kebiasaan ‘belajar tanpa layar’: membaca buku fisik, menulis dengan tangan, berdiskusi langsung. Karena kegiatan-kegiatan ini merangsang bagian otak yang berbeda.”

Ferry Lesmana (mengusap wajah): “Saya setuju. Di Tulung Selapan, saya mulai menggalakkan ‘Jumat Membaca Buku’ tanpa gawai. Hasilnya, anak-anak mulai bisa bercerita tentang buku yang mereka baca. Itu kecil, tapi awal yang baik.”

Juliansyah (menambahkan): “Di Ogan Ilir, beberapa pesantren sudah menerapkan aturan: untuk tugas menulis esai, dilarang menggunakan AI. Boleh menggunakan AI untuk mencari referensi, tetapi menulis sendiri dengan tangan. Guru akan memeriksa dari gaya bahasa dan keaslian. Ini cara untuk memaksa anak tetap berpikir.”

Indra Darmawan (menekuk puntung rokok terakhir): “Saya ingin menutup dengan pesan dari Ralph Waldo Emerson, filsuf transendentalis: ‘Jangan membaca buku yang tidak akan kau baca ulang.’ Sekarang, kita ubah sedikit: ‘Jangan tanya AI pertanyaan yang tidak akan kau pikirkan ulang jawabannya.’ Karena nilai dari sebuah jawaban bukan pada teksnya, tetapi pada perjalanan berpikir yang melahirkannya. Jika kita menghilangkan perjalanan itu, kita menghilangkan kemanusiaan kita.”

 

Ade Indra Chaniago: “Dan dari sufi, Jalaluddin Rumi berkata: ‘Bacalah buku-buku, tetapi yang paling penting adalah bacalah hatimu sendiri.’ AI tidak pernah bisa membaca hati. Maka, biarkan AI menjadi alat, bukan tuan. Biarkan game menjadi hiburan, bukan candu. Dan biarkan anak-anak kita tetap menjadi manusia yang bertanya, bukan robot yang hanya menjawab.”

Juliansyah (menghembuskan asap rokoknya): “Terima kasih, Uda. Saya akan menuliskan ini semua. Semoga generasi muda tidak kehilangan kemampuan berpikir di tengah banjir teknologi. Dan saya akan mulai membatasi waktu game saya sendiri.”

(Mereka semua tertawa. Hujan di luar sudah reda. Kafe mulai sepi. Satu per satu beranjak pulang, meninggalkan gelas-gelas kosong dan asbak yang penuh dengan puntung—dan kepala yang penuh dengan pertanyaan.)

 

Palembang, 01 Juni 2026

Tadarus Politik

Jaringan Aliansi Rakyat Independen