JARI: Ketika Kebohongan Mengalahkan Fakta

JARI: Ketika Kebohongan Mengalahkan Fakta

 

Rumah panggung kayu ulin tua milik almarhum kakek Andi Wijaya, tepat di tepi Sungai Musi, kawasan 32 Ilir, IB II Palembang. Rumah ini berusia lebih dari satu abad, lantainya sedikit miring mengikuti arus sungai yang tak pernah berhenti mengikis tanah. Lampu minyak tanah dan dua buah lampu petromaks menyala redup, menerangi ruang tengah yang luas. Meja panjang dari papan jati tua sudah ditata dengan sederhana: sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan uap, cangkir-cangkir kopi tubruk, dan dua bungkus rokok kretek. Di luar, suara jangkrik dan kodok bersahutan. Sesekali kapal tongkang melintas, suaranya bergemuruh pelan.

Suasana hening setelah salat Isya. Lima orang duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka baru saja selesai membaca sebuah artikel panjang tentang fasisme baru karya Nidesh Lawtoo, profesor dari Universitas Leiden.

 

Andi Wijaya (tokoh masyarakat 32 Ilir IB II Palembang, kaus oblong putih, celana pendek, menyesap kopi hitam): Kakek saya dulu sering bilang, “Fasisme itu seperti hantu. Ia tidak pernah mati, hanya berganti baju.” Malam ini kita akan membedah baju barunya.

Ferry Lesmana (tokoh masyarakat OKI, kemeja batik cokelat, rokok di tangan kiri, duduk bersandar di tiang kayu): Artikel yang saya bawa ini ditulis berdasarkan pemikiran Nidesh Lawtoo. Ia mengatakan bahwa fasisme baru istilahnya [New] Fascism sangat berbeda dengan Hitler atau Mussolini. Ia memanfaatkan media sosial, algoritma, dan hipermimesis.

Juliansyah (tokoh masyarakat Ogan Ilir, kemeja putih lengan panjang digulung, buku catatan di pangkuan): Hipermimesis? Istilah yang berat. Lawtoo mengambil dari Jean Baudrillard tentang hiperrealitas dan dari René Girard tentang mimesis (imitasi). Jadi hipermimesis adalah situasi di mana kebohongan yang direkayasa menjadi viral dan memicu aksi nyata di dunia nyata. Contoh paling gamblang: penyerbuan Gedung Capitol di Washington DC, 6 Januari 2021.

Ade Indra Chaniago: Saya kenal baik karya Lawtoo. Beliau adalah profesor sastra dan budaya Eropa kontemporer di Universitas Leiden. Buku [New] Fascism terbit 2019, tapi ia mulai menulisnya sejak 2016, ketika ia menyaksikan kebangkitan Donald Trump sebagai kandidat politik. Lawtoo mengatakan bahwa pengalaman Trump sebagai aktor televisi dalam acara The Apprentice membuatnya sangat persuasif. Ia memerankan pengusaha berwibawa di fiksi, lalu menjadi presiden di kenyataan. Batas antara fakta dan fiksi kabur.

Indra Darmawan: Ini persis yang diingatkan oleh Umberto Eco dalam esainya “Ur-Fascism” (1995). Eco mengatakan bahwa fasisme dapat kembali dengan penyamaran yang paling polos. Ciri-cirinya: kultus tradisi, penolakan modernitas, ketakutan akan perbedaan, dan kecenderungan mengidentifikasi musuh bersama. Fasisme baru tidak selalu memakai seragam cokelat atau swastika; ia bisa tampil dalam balutan nasionalisme, perlindungan identitas, dan janji “mengembalikan kejayaan”.

Ferry memotong singkong rebus, mencelupkannya ke parutan kelapa dan gula merah. Andi menyeduh ulang kopi untuk semua.

Ferry Lesmana: Lawtoo banyak berutang pada René Girard, filsuf dan kritikus sastra Prancis. Girard mengajarkan bahwa hasrat bersifat mimetik kita menginginkan sesuatu karena orang lain menginginkannya. Kita meniru keinginan orang yang kita kagumi. Ini memicu persaingan, iri hati, dan akhirnya kekerasan. Dalam situasi krisis, masyarakat mencari kambing hitam untuk menyatukan diri.

Juliansyah (mencatat): Girard menyebutnya “mekanisme kambing hitam”. Contoh klasik: di abad pertengahan, orang Yahudi dituduh menyebabkan wabah pes, lalu dibantai. Di era modern, imigran, minoritas, atau kelompok tertentu dijadikan biang kerok semua masalah.

Andi Wijaya (mengangguk): Di Indonesia, kita sering melihat itu. Misalnya, ketika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, kelompok tertentu kadang Tionghoa, kadang pengusaha asing, kadang partai tertentu dijadikan kambing hitam. Padahal masalahnya kompleks: struktur ekonomi global, kebijakan fiskal, distribusi yang tidak merata. Tapi dengan menunjuk satu musuh, emosi massa mudah dipicu.

Ade Indra Chaniago (menghela napas): Girard juga mengajarkan bahwa satu-satunya jalan keluar dari kekerasan mimetik adalah melalui mekanisme pengorbanan yang diinstitusionalkan misalnya sistem hukum yang adil, atau dalam perspektif agama, pengorbanan Kristus yang menghentikan siklus balas dendam. Dalam Islam, kita diajarkan untuk memaafkan dan bermusyawarah, bukan membenci. Tapi sayangnya, banyak politisi populis justru memanfaatkan emosi kebencian untuk meraih kekuasaan.

Lampu-lampu rumah tetangga mulai redup. Andi membakar rokoknya.

Ferry Lesmana: Konsep kedua dari Lawtoo adalah hiperrealitas ala Jean Baudrillard. Baudrillard, filsuf postmodern Prancis, mengatakan bahwa kita hidup di era simulasi. Simulasi bukanlah tiruan realitas, tapi menciptakan realitas baru itu sendiri. Contoh: taman hiburan Disneyland lebih “nyata” daripada Amerika yang asli; perang teluk yang ditayangkan CNN menjadi lebih nyata daripada perang itu sendiri.

Indra Darmawan (menambahkan): Dalam konteks fasisme baru, para pemimpin populis menciptakan narasi alternatif yang tidak mencerminkan realitas, tapi realitas yang direkayasa. Misalnya klaim Trump bahwa pemilu 2020 “dicuri”. Tidak ada bukti, tapi klaim itu diulang-ulang di media sosial, menjadi “kebenaran” bagi jutaan pendukungnya. Ketika kebohongan diulang cukup sering, ia menjadi hiperreal lebih nyata daripada fakta.

Juliansyah (mengerutkan dahi): Di Indonesia, kita juga punya contoh. Setelah pemilu 2019, beredar narasi tentang “pencurian suara” dan “kecurangan terstruktur” yang tidak pernah terbukti di Mahkamah Konstitusi. Tapi narasi itu hidup di grup WhatsApp, YouTube, dan media sosial lainnya. Sebagian pendukung politik tertentu benar-benar percaya bahwa presiden yang sah adalah “presiden curang”. Ini hiperrealitas.

Andi Wijaya (menghela napas panjang): Saya ingat kasus di Palembang tahun 2018. Ada isu bahwa seorang calon gubernur akan “mengharamkan” adat dan budaya Palembang. Isu itu tidak berdasar, tapi viral di TikTok. Banyak warga yang panik, demo besar-besaran. Padahal faktanya tidak ada kebijakan semacam itu. Tapi karena isu itu terus diulang, ia menjadi “kenyataan” bagi sebagian orang.

Ade Indra Chaniago (meneguk kopi): Inilah yang disebut Lawtoo sebagai hipermimesis  spiral di mana kebohongan (virtual), yang didorong oleh algoritma yang memperkuat kepercayaan yang sudah ada sebelumnya, memiliki konsekuensi mimetik di dunia nyata. Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang paling provokatif dan paling mengundang klik. Kebohongan lebih viral daripada fakta. Karena kebohongan itu sederhana, emosional, dan menghibur. Fakta itu rumit, membosankan, dan sering menyakitkan.

Ferry memotong singkong rebus untuk semua. Andi membawakan tambahan kopi panas dari dapur belakang.

Ferry Lesmana: Mari kita kumpulkan contoh konkret fasisme baru di berbagai negara. Lawtoo sendiri menyebut Trump sebagai contoh utama. Tapi bukan hanya Amerika.

Indra Darmawan (membuka catatan): Saya catat beberapa. Pertama, Brasil di bawah Jair Bolsonaro (2019-2022). Bolsonaro menggunakan retorika anti-demokrasi, menyerang lembaga peradilan, dan meremehkan pandemi Covid-19. Ia menyebut virus sebagai “sedikit flu” dan menolak vaksin. Pendukungnya, terinspirasi oleh Trump, menyerbu gedung pemerintah di Brasília pada 8 Januari 2023, meniru penyerbuan Capitol. Pola yang sama: pemimpin karismatik, kambing hitam (kiri, komunis, media), dan hipermimesis.

Juliansyah (menambahkan): Kedua, Hongaria di bawah Viktor Orbán. Orbán menyebut diri sebagai pembela “demokrasi illiberal”. Ia membatasi kebebasan pers, mengendalikan peradilan, dan menjadikan imigran serta LGBT sebagai kambing hitam. Ia menggunakan media massa yang dikuasai partai untuk menyebarkan narasinya. Uni Eropa sampai memotong dana karena pelanggaran hukum.

Andi Wijaya (mengangguk): Ketiga, India di bawah Narendra Modi dan partai BJP. Mereka mempromosikan nasionalisme Hindu, meminggirkan Muslim sebagai “pendatang” atau “pengkhianat”. Pada 2019, Modi mengeluarkan kebijakan NRC (National Register of Citizens) yang berpotensi mendiskriminasi jutaan Muslim. Ratusan masjid dihancurkan dengan dalih “ilegal”. Ini fasisme baru dengan baju nasionalisme religius.

Ade Indra Chaniago (menghela napas berat): Keempat, Polandia di bawah Partai Hukum dan Keadilan (PiS) pimpinan Jarosław Kaczyński. Mereka menjadikan LGBT sebagai “ideologi asing yang merusak anak-anak”, melarang parade kebanggaan, dan mendeklarasikan “zona bebas LGBT”. Mereka juga mengendalikan pengadilan dan media. Uni Eropa memblokir dana pemulihan pandemi untuk Polandia karena pelanggaran hukum.

Ferry Lesmana (menambahkan): Kelima, Filipina di bawah Rodrigo Duterte. Meskipun Duterte digambarkan sebagai “strongman” populis, ia menggunakan perang melawan narkoba sebagai dalih untuk membunuh ribuan orang tanpa pengadilan. Ia juga menyerang pers, menghina PBB, dan menjadikan oposisi sebagai “komunis” atau “teroris”. Ini memiliki semua ciri fasisme baru: pemimpin karismatik, kambing hitam, dan penghapusan proses hukum.

Rokok mulai habis. Andi membuka bungkus baru. Juliansyah meregangkan kaki yang semutan.

Juliansyah: Sekarang, contoh di Indonesia. Apakah kita kebal terhadap fasisme baru? Sayangnya, tidak. Kita punya gejala-gejala yang sama, meskipun tidak seekstrem Amerika atau Hongaria.

Indra Darmawan (membuka catatan): Saya mulai dari tingkat nasional. Pertama, politisasi agama yang intensif sejak pemilu 2017 dan 2019. Kelompok-kelompok tertentu menggunakan isu “kafir”, “komunis”, atau “penghianat” untuk menyerang lawan politik. Ini adalah mekanisme kambing hitam. Mereka menciptakan musuh bersama untuk menyatukan pendukungnya. Pengadilan dan lembaga penegak hukum kadang kewalahan menghadapi gelombang hoaks dan ujaran kebencian.

Ferry Lesmana (mengangguk): Contoh konkret di tingkat daerah. Di Sumatera Utara pada pilkada 2020, beredar isu bahwa calon tertentu “anti-Islam” dan akan menutup masjid. Isu itu tidak berdasar, tapi viral. Banyak pemilih yang termobilisasi bukan berdasarkan program, tapi berdasarkan ketakutan. Ini adalah efek hipermimesis: kebohongan yang direkayasa menjadi kenyataan bagi sebagian orang.

Andi Wijaya (menambahkan): Di Palembang sendiri, saya ingat Pilkada 2018. Sebuah tim sukses menyebarkan narasi bahwa calon gubernur lawan adalah “boneka asing” dan akan menjual sumber daya Sumsel ke asing. Tidak ada bukti, tapi narasi itu terus diulang di media sosial. Bahkan di acara pengajian, ada ceramah yang menyebut-nyebut “penjualan tanah Sumsel kepada asing”. Padahal faktanya tidak demikian.

Juliansyah (menghela napas): Di Ogan Ilir, kasus yang lebih kecil tapi mirip. Seorang kepala desa yang kritis terhadap pembangunan pabrik sawit dituduh “antipembangunan” dan “komunis”. Ia dan keluarganya diintimidasi. Padahal ia hanya meminta transparansi. Tapi karena tuduhan diulang-ulang di grup WhatsApp desa, banyak warga yang percaya.

Ade Indra Chaniago (suara berat): Saya khawatir dengan fenomena akun-akun buzzer yang terorganisir. Mereka menyebarkan narasi yang sama, menyerang individu atau kelompok yang sama, dengan bahasa yang sama. Ini adalah mimikri kolektif yang terkoordinasi. Tujuannya bukan debat sehat, tapi pembunuhan karakter dan polarisasi. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi.

Indra Darmawan (menambahkan): Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada pemilu legislatif 2024, ada kasus seorang caleg yang dituduh “bukan asli NTT” dan “utusan asing”. Padahal ia lahir dan besar di sana. Tuduhan itu tersebar di TikTok dan Instagram. Ia kehilangan banyak suara. Setelah diverifikasi, tuduhan itu hoaks. Tapi dampaknya sudah terjadi.

Ferry Lesmana (menggerutu): Di Kabupaten Banyuwangi, pada pilkada 2020, beredar isu bahwa calon petahana akan menghancurkan makam leluhur. Isu itu sangat kuat di kalangan pemilih tradisional. Padahal tidak ada rencana seperti itu. Tapi karena diulang terus oleh tim sukses lawan, banyak warga yang percaya. Ini adalah contoh fasisme baru versi lokal.

Singkong rebus hampir habis. Andi membawakan pisang goreng dari dapur. Kopi diseduh ulang.

Juliansyah: Kita perlu mendengar suara para filsuf besar tentang fasisme dan demokrasi. Siapa saja yang relevan?

Ade Indra Chaniago: Plato, dalam Republik, sudah memperingatkan tentang bahaya orator yang pandai berbicara. Ia mengatakan bahwa demokrasi bisa berubah menjadi tirani ketika para orator yang pandai memanipulasi emosi massa menguasai majelis. Demagog memanfaatkan ketidakpuasan rakyat, menjanjikan solusi sederhana, lalu merebut kekuasaan. Ini persis yang terjadi dalam fasisme baru.

Indra Darmawan (menambahkan): Aristoteles dalam Politika juga mengatakan bahwa demokrasi ekstrem akan runtuh menjadi tirani. Ketika hukum digantikan oleh kehendak massa yang emosional, ketika pemimpin yang menghasut lebih didengar daripada hakim yang adil, maka negara menuju kehancuran.

Ferry Lesmana: Hannah Arendt, dalam The Origins of Totalitarianism (1951), mengupas tuntas bagaimana Hitler dan Stalin berkuasa. Ia mengatakan bahwa rezim totaliter menggunakan teror ideologis dan propaganda yang tidak henti-hentinya. Arendt juga memperingatkan tentang kebohongan terorganisir  kebohongan yang diulang-ulang sampai menjadi “kebenaran” bagi massa. Ini sangat relevan dengan hipermimesis Lawtoo.

Andi Wijaya (mengangguk): Lalu Theodor Adorno dari Mazhab Frankfurt. Ia menulis The Authoritarian Personality, yang meneliti mengapa orang tunduk pada pemimpin otoriter. Kesimpulannya: ada tipe kepribadian yang senang pada hierarki kaku, takut pada yang berbeda, dan mudah memusuhi kelompok luar. Tipe ini bisa ditemukan di semua lapisan masyarakat.

Juliansyah (mencatat): Umberto Eco selain esainya tentang Ur-Fascism juga menulis novel The Prague Cemetery yang mengupas bagaimana kebohongan dan konspirasi dibuat dan disebarkan. Eco mengatakan bahwa fasisme tidak pernah mati; ia hanya tidur. Dan ia bisa bangun kapan saja jika masyarakat tidak waspada.

Ade Indra Chaniago (meneguk kopi): Saya tambahkan Cornelius Castoriadis, filsuf Yunani-Prancis. Ia mengatakan bahwa demokrasi sejati bukan hanya soal pemilu, tapi soal partisipasi aktif warga dalam menentukan nasib bersama. Ketika warga direduksi menjadi penonton pasif yang hanya bertepuk tangan atau mencemooh di media sosial, ruang itu segera diisi oleh demagog dan penguasa otoriter.

Asbak sudah penuh. Andi mengganti dengan asbak baru. Rokok terakhir dinyalakan.

Ferry Lesmana: Sekarang dari perspektif Islam. Bagaimana para pemimpin dan cendekiawan Islam melihat fasisme dan populisme?

Indra Darmawan (membuka catatan): Khalifah Ali bin Abi Thalib, dalam suratnya kepada gubernur Mesir, Malik Al-Ashtar, memberikan nasihat: “Janganlah engkau memerintah rakyat dengan kesombongan, karena mereka adalah saudaramu dalam agama dan sesamamu dalam kemanusiaan.” Ali juga memperingatkan agar tidak mendengarkan tukang fitnah dan penghasut yang memecah belah umat. Dalam konteks modern, ini peringatan terhadap demagog dan penyebar hoaks.

Juliansyah (mengangguk): Imam Al-Ghazali dalam Nasihat untuk Para Penguasa (walaupun otentisitasnya diperdebatkan) mengatakan bahwa penguasa yang adil adalah bayangan Allah di bumi. Dan rakyat wajib menasihati penguasa dengan cara yang baik. Tapi Al-Ghazali juga mengingatkan tentang bahaya taqlid buta – mengikuti pemimpin tanpa kritik. Ini sangat relevan: jangan menjadi pengikut mimetik yang tidak berpikir.

Andi Wijaya (menambahkan): Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan siklus peradaban: dari solidaritas kelompok (ashabiyyah) yang kuat, lalu negara berdiri, kemudian kemewahan, kemudian kemunduran, dan akhirnya kehancuran. Fasisme baru memanfaatkan ashabiyyah yang sempit – solidaritas berdasarkan identitas sempit (etnis, agama, partai) – lalu melawannya dengan kelompok lain. Ini adalah bentuk ashabiyyah yang destruktif.

Ade Indra Chaniago (menghela napas): Di Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh yang paling vokal melawan fasisme dan populisme. Gus Dur mengatakan, “Bahaya terbesar bagi bangsa ini adalah pemikiran yang ingin memperseragamkan masyarakat dengan cara kekerasan.” Beliau juga mengingatkan tentang “pembakaran opini publik” melalui hoaks dan fitnah. Gus Dur sering menjadi sasaran serangan karena dianggap “terlalu toleran”. Tapi beliau tidak gentar. Ia menegaskan bahwa keberagaman adalah rahmat, bukan ancaman.

Ferry Lesmana (menghela napas): Nurcholish Madjid (Cak Nur) juga sering mengingatkan tentang “sekularisasi” bukan dalam arti penghapusan agama dari publik, tapi dalam arti membebaskan agama dari politik praktis yang kotor. Cak Nur mengatakan bahwa partai agama cenderung otoriter dan intoleran. Ia lebih percaya pada demokrasi yang inklusif.

Juliansyah (mencatat): Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan Surah Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” Hamka menekankan bahwa perbedaan bukan untuk saling membenci, tapi untuk saling mengenal dan bekerja sama. Fasisme baru yang memecah belah atas nama identitas adalah anti-ajaran Islam.

Andi Wijaya (menambahkan): KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dalam kitab Al-Tanbihat al-Wajibat (Peringatan-peringatan yang Wajib) mengingatkan umat Islam agar tidak mudah terhasut oleh propaganda yang memecah belah antara umat Islam dan non-Muslim. Beliau mendorong dialog dan kerukunan. Sayangnya, pesan ini sering dilupakan oleh generasi sekarang.

Lampu petromaks mulai mati satu per satu. Hanya dua lampu minyak tanah yang tersisa. Suara jangkrik makin keras.

Ferry Lesmana (menghela napas panjang): Sekarang, mari kita tutup dengan contoh paling lokal. Di Sumatera Selatan sendiri, bagaimana fasisme baru muncul?

Indra Darmawan (membuka catatan): Saya catat tiga contoh. Pertama, di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur pada pilkades 2022. Seorang calon kepala desa yang berasal dari keluarga minoritas (agama berbeda dari mayoritas) dituduh akan “menghapus adat” dan “membawa pengaruh asing”. Padahal ia lahir dan besar di desa itu, aktif di kegiatan sosial. Tapi karena isu itu tersebar cepat di WhatsApp, ia kalah telak. Setelah pilkades, desa itu pecah menjadi dua kubu yang saling benci.

Juliansyah (mengangguk): Kedua, di Kabupaten Musi Rawas, ada konflik lahan antara petani lokal dan perusahaan sawit. Perusahaan menggunakan buzzer untuk menyebarkan narasi bahwa petani adalah “perusak hutan” dan “didukung asing”. Padahal petani hanya menuntut hak ulayat. Narasi itu membuat publik cenderung mendukung perusahaan. Petani dijadikan kambing hitam.

Ade Indra Chaniago (menyesap kopi terakhir):
Ini semua adalah buah dari hipermimesis. Kebohongan yang direkayasa, diulang-ulang, menjadi “kenyataan”. Korban yang paling menderita adalah yang lemah: petani, minoritas, perempuan. Mereka tidak punya akses ke media massa atau pengacara. Mereka tidak bisa melawan gelombang hoaks.

Ferry Lesmana (menatap Ade): Uda, sudah hampir pukul satu. Kami minta nasihat penutup. Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana melawan fasisme baru?

Ade Indra Chaniago (berdiri dari kursi kayu, berjalan ke arah jendela yang menghadap sungai. Ia diam sejenak, menatap gelapnya Sungai Musi. Suaranya lirih tapi tegas):
Saudara-saudaraku…

Fasisme baru, dengan hipermimesis dan hiperrealitasnya, bukanlah monster yang datang dari luar. Ia lahir dari dalam diri kita sendiri. Ia lahir dari keinginan kita untuk meniru, meniru kebencian, meniru ketakutan, meniru hasrat untuk memiliki musuh bersama. Ia lahir dari kemalasan berpikir, dari kesukaan pada jawaban sederhana untuk masalah yang kompleks.

Maka, nasehat saya ada lima:

Pertama, sadarilah bahwa Anda rentan. Tidak ada yang kebal terhadap propaganda dan hipermimesis. Semua manusia termasuk saya, termasuk profesor, termasuk ulama bisa terpengaruh oleh pengulangan kebohongan. Karena itu, jangan pernah berkata, “Saya terlalu pintar untuk ditipu.” Kerendahan hati intelektual adalah awal dari kebijaksanaan.

Kedua, perbanyak dialog dengan yang berbeda. Fasisme tumbuh subur di ruang gema (echo chamber) di mana kita hanya bertemu dengan orang yang sepaham. Keluarlah dari zona nyaman itu. Ngobrollah dengan tetangga yang berbeda agama, berbeda partai, berbeda pilihan politik. Dengarkan cerita mereka. Temukan kesamaan sebagai manusia. Karena kesamaan bahwa kita semua ingin hidup damai, ingin anak-anak kita sekolah, ingin makan enak lebih fundamental daripada perbedaan.

Ketiga, latihlah literasi digital dan berpikir kritis. Jangan sebarkan informasi sebelum memverifikasi. Jangan klik tautan yang provokatif. Jangan menjadi bagian dari mesin hipermimesis. Gunakan akal sehat. Ingatlah pepatah Spinoza: kebebasan sejati bukanlah mengikuti emosi sesaat, tapi memahami keniscayaan dan hidup sesuai nalar.

Keempat, dukunglah pendidikan yang humanis dan multikultural. Pendidikan bukan hanya untuk mencari kerja, tapi untuk membentuk manusia yang utuh, yang bisa membedakan fakta dan fiksi, yang bisa berempati pada yang lemah, yang bisa melawan godaan fasisme. Dukunglah sekolah-sekolah yang mengajarkan toleransi, bukan kebencian.

Kelima, jadilah saksi kebenaran. Dalam tradisi Islam, kita diajarkan syahadat menjadi saksi. Bukan hanya saksi keimanan, tapi saksi kebenaran di tengah kebohongan. Ketika ada hoaks, luruskan. Ketika ada kelompok dijadikan kambing hitam, bela. Ketika ada kebencian, tebarkan cinta. Ini berat, ini mungkin tidak populer, ini bisa membuat Anda dimusuhi. Tapi ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga kemanusiaan.

Ia berbalik dari jendela, menatap semua hadirin satu per satu.

Kakek Andi, pemilik rumah ini, dulu sering berkata: “Sungai Musi tetap mengalir meskipun banyak yang membuang sampah ke dalamnya. Ia tidak menjadi kotor; ia tetap mengalir, membersihkan dirinya sendiri.” Demikian pula masyarakat yang sehat. Ia memiliki kemampuan untuk membersihkan dirinya dari racun fasisme. Tapi kemampuan itu hanya akan aktif jika setiap dari kita mau bertindak.

Mari kita pulang malam ini dengan tekad: menjadi penangkal hipermimesismenjadi jembatan antar perbedaan, dan menjadi saksi kebenaran.

Selamat pagi, semuanya. Pukul satu lewat. Sungai Musi masih mengalir. Dan kita masih punya waktu untuk menyelamatkan demokrasi.

Semua terdiam. Lampu-lampu rumah tetangga sudah banyak yang padam. Hanya cahaya bulan yang menerobos celah-celah dinding kayu. Suara air sungai terdengar lebih jelas.

Andi Wijaya (berbisik): Aamiin, Uda. Terima kasih untuk malam yang panjang.

Ferry Lesmana (menghela napas): Saya akan bawa nasihat ini ke OKI. Mungkin kita bisa mulai dengan dialog antar kampung yang selama ini bertikai karena isu politik.

Juliansyah (berdiri, meluruskan kaki): Di Ogan Ilir, saya akan ajak teman-teman pemuda untuk membuat kelas literasi digital gratis di setiap kecamatan. Kita lawan hoaks dengan fakta.

Andi Wijaya (tersenyum): Dan rumah ini, rumah kakek saya, akan selalu terbuka untuk diskusi seperti ini. Karena, seperti kata Uda Ade, dialog adalah senjata paling ampuh melawan fasisme.

Mereka berlima berjalan ke luar rumah, menuju kendaraan masing-masing. Embun tipis mulai turun. Di kejauhan, suara adzan subuh belum terdengar, tapi langit timur sudah mulai memutih.

Perjalanan pulang mereka akan panjang. Tapi perjuangan melawan fasisme baru – itu baru dimulai.

 

Palembang, 19 Mei 2026
Tadarus Politik

Jaringan Aliansi Rakyat Independen