JARI : Filsafat Yunani dan Ma’rifatullah
“Pada konsep tawadhu (kerendahan hati) dalam Islam. Socrates mewujudkan kerendahan hati intelektual yang langka: ia tidak mengklaim memiliki kebenaran, tapi terus mencarinya. Para sufi seperti Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal juga melalui proses keraguan metodis sebelum mencapai keyakinan. Keduanya mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran dimulai dari pengakuan jujur: “Saya tidak tahu.”
Indra Darmawan: Uda, menarik sekali kisah Socrates saat menghadapi sidang pengadilan. Alih-alih merendah atau memohon belas kasihan, ia justru menceritakan kisah Oracle di Delphi yang menyatakan dirinya sebagai manusia paling bijaksana. Menurutmu, mengapa ia melakukan itu?
Ade Indra Chaniago: Socrates ingin menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati justru terletak pada kesadaran akan ketidaktahuan, Bro. Reaksinya yang kaget mendengar ramalan Oracle membuktikan bahwa ia tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Bahkan ia berani menafsirkan ulang pernyataan dewa: bahwa nama “Socrates” hanyalah contoh untuk menunjukkan betapa tidak berharganya kebijaksanaan manusia.
Indra Darmawan: Tapi apakah ini tidak terlalu berisiko? Di hadapan hakim yang akan menjatuhkan hukuman mati, ia malah bercerita tentang bagaimana ia membuktikan bahwa para politisi, penyair, dan pengrajin sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ia seperti sengaja memprovokasi.
Ade Indra Chaniago: Justru itu intinya, Adindaku Indra. Socrates tidak sedang mencari selamat, ia sedang membela cara hidupnya. Ia ingin menunjukkan bahwa proses menguji, bertanya, dan mengakui ketidaktahuan adalah jalan menuju kebijaksanaan. Ia bahkan dengan berani mengatakan bahwa para hakim sebenarnya menjatuhi hukuman bukan pada dirinya, tapi pada gagasan bahwa ada manusia yang menganggap pengetahuan lebih berharga dari segalanya.
Indra Darmawan: Tapi bukankah ini mirip dengan konsep ma’rifatullah dalam tasawuf? Saya ingat Syekh Abu Yazid al-Busthami pernah berkata, “Aku berlindung kepada-Mu dari pengakuan bahwa aku telah mengenal-Mu.” Atau pernyataan Al-Ghazali bahwa puncak pengetahuan adalah menyadari bahwa kita tidak tahu.
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali! Dalam Islam, para sufi justru menekankan bahwa makrifat bukanlah akumulasi pengetahuan, melainkan kesadaran akan keterbatasan akal di hadapan Yang Tak Terbatas. Jalaluddin Rumi berkata, “Kebodohan manusia yang paling besar adalah ketika ia mengira tahu apa yang tidak ia ketahui.” Lihatlah kemiripannya dengan pernyataan Socrates!
Indra Darmawan: Socrates juga bilang bahwa ia senang jika perkataannya terbukti salah, karena lebih baik dibebaskan dari kebodohan sendiri daripada membebaskan orang lain dari kebodohan mereka. Bukankah ini sikap yang sangat langka?
Ade Indra Chaniago: Sangat langka. Callicles dalam dialog itu bahkan sampai bertanya, “Haruskah kami menganggapmu serius atau bercanda?” Karena sulit dipercaya ada manusia yang lebih suka dikoreksi daripada mengoreksi. Dalam tradisi sufi, sikap ini disebut mahabbah (cinta) kepada kebenaran, di mana ego dilebur demi kebenaran hakiki.
Indra Darmawan: Socrates meramalkan bahwa setelah kematiannya, dunia akan dipenuhi orang-orang seperti Socrates. Apakah menurutmu itu terjadi, Uda?
Ade Indra Chaniago: Dalam pengertian tertentu, ya. Ia menciptakan cara berpikir yang menular: bahwa hidup yang tidak diuji bukanlah hidup yang layak dijalani. Tapi saya ingin mengajakmu melihat dari perspektif sufi, Bro. Ada satu tokoh yang menurutku mewujudkan “jiwa Socrates” dalam Islam: Al-Hallaj. Saat diadili dan akan dihukum mati, ia justru berkata, “Saya adalah Kebenaran” (Anal Haq). Ia tidak sedang mengaku Tuhan, tapi menyadari bahwa dirinya telah fana dalam Kebenaran. Seperti Socrates, ia memilih mati demi keyakinannya.
Indra Darmawan: Tapi Al-Hallaj berbeda, ia berbicara tentang penyatuan mistis, sementara Socrates bicara tentang metode dialektika.
Ade Indra Chaniago: Secara metode memang berbeda, tapi secara substansi mereka sama: keduanya mati karena mempertanyakan klaim kebenaran yang dianggap final. Para hakim Athena takut ditanya “mengapa?”; para penguasa Baghdad juga takut dengan pernyataan Al-Hallaj yang membongkar kemunafikan. Mereka membunuh tubuh, tapi tidak bisa membunuh ide.
Indra Darmawan: Menariknya, para sufi justru mengajarkan bahwa kematian bukan akhir, tapi pintu menuju kehidupan abadi. Socrates sendiri dalam Phaedo digambarkan menghadapi kematian dengan tenang karena percaya jiwa itu abadi. Apakah ini juga selaras?
Ade Indra Chaniago: Sangat selaras. Rumi berkata, “Mengapa engkau takut mati? Padahal dengan mati, engkau akhirnya bisa bertemu dengan Kekasih.” Socrates mungkin tidak menggunakan bahasa cinta seperti sufi, tapi ketenangannya menghadapi racun menunjukkan keyakinan bahwa kebenaran lebih berharga dari sekadar hidup biologis.
Indra Darmawan: Tapi ada satu perbedaan mendasar: Socrates mengandalkan rasio, sementara sufi mengandalkan dzauq (rasa spiritual). Mana yang benar?
Ade Indra Chaniago: Dra, ini bukan soal mana yang benar, tapi keduanya sampai pada kesimpulan yang sama: manusia harus rendah hati di hadapan kebenaran. Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyyah mengatakan, “Pengetahuan yang paling tinggi adalah pengetahuan yang membuatmu menyadari ketidakmampuanmu untuk mengetahui.” Ini persis dengan pernyataan Socrates bahwa kebijaksanaan manusia tidak berharga. Bedanya, Socrates berhenti pada kesadaran negatif, sementara sufi melangkah ke kesadaran positif akan kehadiran Yang Maha Tahu.
Indra Darmawan: Jadi Socrates bisa dianggap sebagai “Nabi” bagi para filsuf?
Ade Indra Chaniago: Jangan sebut nabi, tapi ia adalah “wali” bagi para pencari kebenaran yang menggunakan akal. Dalam Islam, kita percaya bahwa setiap umat memiliki nabi, tapi kebijaksanaan universal bisa ditemukan di mana-mana. Socrates mengajarkan satu hal yang sangat dijunjung dalam Islam: khauf (takut) dan raja’ (harap) dalam konteks pengetahuan. Takut akan kebodohan diri, tapi berharap pada proses pencarian tanpa henti.
Indra Darmawan: Kembali ke pengadilan Socrates. Apakah menurutmu para hakim itu menang?
Ade Indra Chaniago: Socrates sendiri sudah menjawab: mereka kalah, karena dengan membunuhnya, mereka justru mengundang lebih banyak “Socrates” untuk bertanya. Seperti hydra, potong satu kepala, tumbuh seribu. Dalam bahasa sufi, para wali Allah itu abdal (pengganti) — jika satu pergi, Allah gantikan dengan yang lain. Kebenaran tidak akan pernah mati.
Indra Darmawan: Jadi pada akhirnya, baik Socrates maupun para sufi mengajarkan bahwa manusia harus berani mati demi keyakinan, tapi juga harus rendah hati bahwa keyakinannya mungkin salah?
Ade Indra Chaniago: Tepat sekali, Bro. Karena seperti kata Socrates, dewa itu bijaksana, dan kebijaksanaan manusia tiada artinya. Dan seperti kata Al-Ghazali, “Mengenal Allah adalah mengenal batas-batas dirimu.” Dua tradisi, satu lautan kebijaksanaan.
Pada konsep tawadhu (kerendahan hati) dalam Islam. Socrates mewujudkan kerendahan hati intelektual yang langka: ia tidak mengklaim memiliki kebenaran, tapi terus mencarinya. Para sufi seperti Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal juga melalui proses keraguan metodis sebelum mencapai keyakinan. Keduanya mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran dimulai dari pengakuan jujur: “Saya tidak tahu.”
Indra Darmawan:Seperti kata Socrates: “Hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani.” Dalam bahasa sufi: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Karena dengan menguji diri, mengenali batas-batasnya, manusia justru membuka pintu menuju Yang Tak Terbatas.
Sabtu, 07 Maret 2026
Tadarus Politik
Jaringan Aliansi Rakyat Independen
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan
Dosen Ilmu Sosial Politik, Pengamat, aktivis 98 – Pengamat, Penulis, dan aktivis 98