TELUKGEDUNG − Pelaksanaan Ujian Sekolah ( US ) tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan Kamis, 2 Mei sampai Selasa, 7 Mei di SDN 2 Bumi Dipasena Abadi. Kec. Rawajitu Timur Kab. Tulang Bawang merupakan bukti gigihnya semangat anak − anak nelayan di perkampungan yang berada di zona 3 (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).
Dika Putra (12) salah satu peserta didik yang mengikuti pelaksanaan Ujian Sekolah ( UAS ) sempat dibincangi usai menyelesaikan ujian, Selasa, 7 Mei 2024..
Kata dia,” Materi Ujian Sekolah ( US ) untuk hari terakhir ini, Selasa ( 7/5 ) adalah Pendidikan Anti Korupsi, Bahasa Daerah Lampung, dan Bahasa Inggris. Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan materi soal yang ada, dan mudah-mudahan hasilnya/nilai memuaskan,” ungkapnya optimis.
Diuraikannya lebih dalam bahwa pelaksanaan Ujian Sekolah ( US ) terpaksa diselesaikan hari ini menimbang kondisi cuaca sangat mengkhawatirkan (ekstrem). “ Kalau menurut jadwal, hari ini Cuma 2 mata pelajaran, Rabu besok 1 mata pelajaran. Namun orang tua kami meminta agar 3 mata pelajaran ini diselesaikan saja hari ini, karena air pasang sangat tinggi disertai gelombang dan angin kencang, khawatir akan terjadi badai,” urai Dika.
“Saya mewakili teman – teman lainnya merasa sangat berterima kasih kepada guru-guru yang telah tanpa pamrih memberikan ilmu pengetahuan kepada kami anak-anak nelayan di perkampungan terisolir ini. Belasan tahun mereka mengabdi di daerah 3 T, mereka adalah pejuang tangguh lagi berani menghadapi amuk gelombang pun badai yang setiap saat akan menghantam dan mengancam keselamatan nyawa mereka,” imbuhnya.

Semoga tahun ke depan, pemerintah memberikan gedung sekolah yang layak dan berdiri di atas tanah, tidak lagi berada di atas air , untuk kami anak – anak nelayan,” tandasnya.
Demikian juga harapan tenaga pendidik yang hadir bertugas mengawasi pelaksanaan ujian. Adalah Ernawati dan Yuharlis, menerangkan. Kata mereka,” SDS Kuala Sidang merupakan satu – satunya sekolah terapung yang berdiri di atas sungai mesuji. Penyelenggaraan pendidikan di perkampungan nelayan ini telah berlangsung sejak tahun 1851, dan secara resmi terdaftar kementerian pendidikan dan kebudayaan pada tahun 1999.
Bangunan sekolah ini berdiri atas swadaya masyarakat setempat. Memasuki usia-nya yang ke-24 tahun, bangunan sekolah ambruk, karena fisik bangunan, bahan bakunya dari papan. Harapan masyarakat, pemerintah harus memprioritaskan bantuan untuk pengadaan gedung sekolah yang permanen satu atap (SD-SMP). Dengan demikian dapat meningkatkan hasil proses pembelajaran dan menciptakan suasana yang kondusif,” pungkasnya”.
Diketahui Sebanyak 11 siswa kelas 6 mengikuti Ujian Sekolah. Dari jumlah tersebut, 4 siswa di antaranya merupakan siswa berdomisili di dusun Kuala Indah.
Diketahui, awal Ramadan kemarin anak-anak mulai dari kelas 1-6 terpaksa diliburkan sekolah karena kondisi bangunan dikhawatirkan mengancam keselamatan anak-anak.
https://www.sambar.id/2023/05/bangunan-ambruk-anak-nelayan-ujian.html